Dukungan Umat Terus Mengalir, HTI Sulsel Tegaskan Tetap Gelar Masirah Panji Rasulullah

0
Masirah Panji Rasulullah HTI Sulsel

VisiMuslim, Makassar – Sehubungan dengan berkembangnya isu dan upaya untuk menghentikan acara Masiroh Panji Rasulullah 1438 H yang akan diselenggarakan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) khususnya di Makassar tanggal 16 April 2017 termasuk tuduhan makar yang dialamatkan terhadap Hizbut Tahrir, maka DPD I HTI Sulsel menyatakan:

1. Hizbut Tahrir melakukan aktivitas dakwah, bukan makar. Oleh karena itu tuduhan makar merupakan tuduhan keji dan tidak berdasar. Dakwah yang dilakukan Hizbut Tahrir selalu mengikuti tahapan dan metode yang dicontohkan baginda Muhammad Rasulullah saw. Segala aktivitas Hizbut Tahrir adalah dakwah pemikiran dan tanpa kekerasan. Apa yang dilakukan Hizbut Tahrir adalah berupaya menumbuhkan kesadaran seluruh komponen umat kaum muslim akan wajib dan pentingnya kembali kepada hukum Allah, sebaik-baiknya hukum untuk mengatur seluruh aspek kehidupan sekaligus mengajak mereka ikut berjuang mewujudkannya. Semua itu Hizbut Tahrir tempuh dengan melakukan pembinaan di tengah-tengah umat, menjelaskan rusak dan hancurnya kehidupan ketika tidak diatur dengan hukum Islam, termasuk mengungkap agenda pihak-pihak yang ingin menimbulkan mudharat terhadap kaum muslim. Sekali lagi, semua itu dilakukan secara intelektual (pemikiran) dan tanpa kekerasan. Dengan demikian, aktivitas seperti mendirikan Negara dalam Negara, aktivitas bersenjata, berupaya menduduki istana negara dengan maksud memaksa Presiden mengundurkan diri atau menduduki gedung MPR/DPR dengan maksud serupa bukanlah metode dan bagian dakwah Hizbut Tahrir. Oleh karena itu, metode yang dilakukan Hizbut Tahrir dalam mengemban dakwah tidak pernah melakukan makar karena memang tidak dicontohkan Rasulullah saw.

2. Acara Masirah Panji Rasulullah 1438 H digelar untuk memperkenalkan panji tauhid, simbol dan identitas Islam dan kaum Muslim sekaligus bendera pemersatu mereka di seluruh dunia. Inilah simbol yang mestinya dicintai bukannya malah dijauhi dan ditakuti oleh Umat Islam.
Ar Raya adalah Panji Rasulullah, berwarna hitam, bertuliskan Lâ Ilâha illâ Allâh Muhammad Rasûlullâh dengan warna putih. Sedangkan benderanya (liwa’nya) berwarna putih dengan tulisan warna hitam.

Liwa dan Ar Raya adalah simbol eksistensi Islam baik di saat damai maupun perang. Sedemikian penting simbol itu, sehingga para sahabat Rasulullah Saw mempertahankannya dengan taruhan nyawa, sebagaimana terjadi dalam perang Mu’tah – sebuah perang besar yang memperhadapkan antara pasukan Islam dan Romawi. Dalam perang itu, 3 shahabat yang mulia gugur. Rasulullah saw bersabda ketika berbela sungkawa atas Zaid, Ja’far dan Ibn Rawahah:

«أَخَذَ الرَّايَةَ زَيْدٌ فَأُصِيْبَ، ثُمَّ أَخَذَ جَعْفَرٌ فَأُصِيْبَ، ثُمَّ أَخَذَ اِبْنُ رَوَاحَةٍ فَأُصِيْبَ»
Zaid mengambil ar-Râyah lalu ia gugur, kemudian Ja’far mengambil (ar-Râyah) lalu ia gugur, kemudian Ibn Rawahah mengambil (ar-Râyah) lalu ia gugur

3. Acara Masirah Panji Rasulullah 1438 H akan tetap diselenggarakan pada sabtu, 16 April 2017 karena telah menempuh prosedur sesuai UU yang berlaku. Aksi pawai merupakan salah satu wujud kebebasan menyampaikan pendapat dimuka umum dan merupakan perkara hak asasi manusia maka tidak memerlukan izin, melainkan hanya pemberitahuan tertulis kepada POLRI. Ini sesuai dengan apa yang tercantum dalam Undang-Undang RI No. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum di antaranya pasal 10-14 tentang Bentuk-Bentuk dan Tatacara Penyampaian Pendapat di Muka Umum. Karena dijamin oleh undang-undang maka kami mengajak aparat keamanan untuk mengamankan acara ini hingga bisa berlangsung dengan aman dan tertib.

4. Alhamdulillah dengan landasan ukhuwah dan iman, acara Masirah Panji Rasulullah 1438 H terus mendapat dukungan dari umat dari berbagai kalangan tokoh dan organisasi. Untuk itu, acara Masirah Panji Rasulullah 1438 H khususnya di Sulsel sesungguhnya merupakan agenda umat yang selayaknya harus didukung oleh komponen umat dan kaum muslim seluruhnya. Maka kami mengundang secara terbuka seluruh Umat Islam yang ada di Sulsel pada acara dimaksud.

أَلا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ (١٨) الَّذِينَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا

Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim, (yaitu) orang-orang yang menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan menghendaki (supaya) jalan itu bengkok. (TQS. Huud 18-19). [VM]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here