Jakarta Bersyariah, Bagus Itu!

0
Monas

Keramaian pilkada Jakarta 2017 tampaknya begitu menyentuh titik-titik agama. Upaya menjatuhkan pasangan lain dengan seruan ‘Jakarta Bersyariah’ tampaknya sah saja. Tak pelak, kampanye hitam itu menjadikan pukulan telak bahwa mereka juga telah mempolitisir agama. Suatu yang awalnya mereka anggap suci dan berharga, akhirnya mereka kotori juga.

Bukannya mereka menunjukan keindahan syariah Islam. Justru sebaliknya syariah Islam diberikan dengan wajah garang dan menakutkan. Umat Islam sendiri yang pada dasarnya ada kewajiban memeluk Islam kaffah pun takut. Apalagi non muslim dibuat kalut, karena tidak mengetahui Islam sesusungguhnya yang membawa rahmat bagi seluruh alam.

Bisa dikata jika Pilkada Jakarta ini dimainkan kotor dengan ungkapan dan kerjaan jahil. Daya rusak demokrasi sebegitu rupa, hingga tak mengenal lagi nilai baik dan norma susila. Fakta ini pun bisa dijadikan dalil bahwa bukanlah Syariah Islam yang selama ini menjadikan rakyat berpecah belah dan bermusuhan. Justru liberalisasi politik dalam kerangka demokrasilah yang telah melumat dan meluluhlantakan arti persatuan dan kesatuan sesungguhnya. Padahal pasca pemilihan, rakyatlah yang harus menanggung beban konflik dan kehidupan.

Gagasan ‘Jakarta Bersyariah’ itu bagus, asalkan disampaikan dengan cara yang benar dan tepat. Bukan dengan cara serampangan. Hal ini dikarenakan sesungguhnya syariah Islam datang untuk memberikan solusi kehidupan. Jadi bukan suatu yang harus ditakuti atau dijauhi.

Syariah?

Syariah, secara literal adalah Mawrid al-Ma’ (sumber mata air) atau jalan lurus (at tharîq al mustaqîm). Syariah, secara terminologis, sistem yang mengatur hu-bungan antara manusia dengan Allah, dirinya dan sesama-nya (Mahmud Syaltut, al-Islam Aqidatan wa Syari’atan). Adapun syariah wajib diterapkan di antaranya:

  • Sebagai konsekuensi dari iman kepada Allah berupa ketundukan pada aturan-Nya..
  • Sebagai ilaju al-musykilati al-hayati al-insani (pemberi solusi bagi kehidupan manusia).
  • Pasti membawa rahmat, baik bagi muslim maupun non muslim, dan untuk seluruh alam

Pada dasarnya manusia membutuhkan syariah, alasannya:

  • Karena manusia diciptakan oleh Allah (Makhluk).
  • Karena manusia akan mati dan dimintai pertanggungjawaban oleh allah di akhirat (Hisab).
  • Maka, syariat allah bagi manusia di dunia merupakan penjelas dan penghubung antara apa yang akan dipertanggungjawabkan dan bagaimana konsekuensi pertanggungjawaban? Diterima atau ditolak oleh Allah.

Jakarta dengan kehidupan dan permasalahan yang komplek begitu butuh syariah. Pasalnya, ada persolan yang diakibatkan karena ideologis-sistemis dan teknis. Rerata persoalan ideologis-sistemis inilah yang akhirnya mempengaruhi persoalan teknis. Bagaimanapun janji calon gubernur setinggi langit, masalah Jakarta tidak akan pernah usai. Butuh orang-orang revolusioner dan visioner. Bukankah dahulu sudah pernah dijanjikan Jakarta bebas macet dan banjir? Bagaimanakah hasilnya? Bukankah sejak dulu kemaksiatan dan kriminal merajalela di Jakarta? Bagaimanakah kesudahannya kini? Apakah ada penurunan atau justru meningkat dan tak terkendali?

Jika menilik dari tujuan penerapan syariah, maka aturan ini begitu sempurna dan mulia. Berikut tujuannya:

  1. Menjaga agama, seperti hukuman bunuh bagi orang murtad
  2. Menjaga keturunan, seperti hukum wajibnya memenuhi kebu-tuhan seksual melalui pernikahan, bukan perzinaan.
  3. Menjaga kehormatan, seperti diharamkannya qadzaf (menuduh orang berzina).
  4. Menjaga akal, seperti diharamkannya minuman keras, narkoba, dan sejenisnya.
  5. Menjaga harta, seperti diharamkannya pencurian, dan dipotongnya tangan pencuri.
  6. Menjaga jiwa, seperti diharamkannya membunuh orang yang haram darahnya, dan sanksi qishash bagi pelakunya.
  7. Menjaga negara, seperti diharamkannya sparatisme, dan diperanginya kaum sparatis, dan bughat.

Jika ‘Jakarta Bersyariah’ mampu diwujudkan dalam kehidupan, maka rahmatan lil ‘alamin akan benar adanya. Jakarta putih, Indonesia akan putih. Jakarta hitam, Indonesia akan hitam. Baik buruknya Jakarta, menentukan nasib Indonesia. Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, melainkan dalam rangka rahmat Kami bagi seluruh alam dalam agama maupun dunia, sebab manusia dalam kesesatan dan kebingungan (Syaikh An Nawawi Al Jawi dalam tafsir Marah Labid (Tafsir Munir) Juz II/ 47).

Gubernur Muslim bagi Jakarta

Ada sebagian hukum syariah yang pelaksanaannya diserahkan kepada individu, seperti hukum tentang ibadah, makanan, pakaian, akhlak, jual-beli, pernikahan, dll. Setiap individu wajib melaksanakannya, baik dalam daulah Islam maupun bukan.

Ada sebagian hukum yang pelaksanaannya diserahkan kepada negara, seperti hudud, jinayat, sistem pemerintahan, politik pendidikan, politik luar negeri, dll. Karena itu, keberadaan negara merupakan amr dharûriyy (perkara penting) dalam menerapkan keseluruhan syariah. Tanpa negara, ada banyak hukum syara’ yang tidak bisa dilaksanakan.

Oleh karenanya, Gubernur Muslim Jakarta—serta calon pemimpin muslim lainnya—juga mampu menawarkan syariah Islam sebagai gagasan alternatif dan solutif. Gubernurnya muslim, Islam aturannya. Karena Jakarta dan dunia ini milik Allah, dan manusia hanya makhluk yang lemah dan berserah diri kepada-Nya. Sudahilah menertawakan syariah, dan saatnya untuk kembali kepada Allah Yang Maha Segalanya. Jakarta Bersyariah, Bagus Itu! [VM]

Penulis : Hanif Kristianto (Analis Politik dan Media)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here