HTI Menyuarakan Kebenaran

0
Massa HTI Jakarta

Salah satu keunikan menurut saya dari kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) adalah penyebutan dirinya sebagai sebuah partai politik yang bukan sekedar organisasi masyarakat (ORMAS) sebagaimana umumnya orang mengenalnya.

Mengapa hal ini unik? Karena bagi masyarakat Indonesia yang disebut partai politik adalah ketika masuk dalam politik praktis dan ikut dalam pemilu. Sedangkan HTI pada faktanya tidak pernah masuk dalam pemilu.

Ternyata jika ditanya kepada HTI tentang makna politik. HTI memiliki gagasan sendiri tentang politik. Inilah keunikan berikutnya. Bagi HTI politik adalah riayah syuunil ummah yang artinya kurang lebih adalah “mengurusi urusan umat (rakyat)”. Dan dari pengertian ini, sebuah organisasi disebut partai politik tidak harus terjun dalam pemilu. Artinya ketika ada sebuah organisasi yang memberikan pemahaman dan edukasi kepada masyarakat tentang seperangkat aturan-aturan yang di dalamnya difungsikan untuk mengurusi rakyat, maka organisasi tersebut juga partai politik. Bersebab ini, HTI adalah sebuah partai politik.

HTI sangat terkenal di setiap kegiatan-kegiatannya, baik aksi, seminar, diskusi publik, konferensi, muktamar dan lain sebagainya menyuarakan gagasan aturan Islam secara kaffah atau menyeluruh. Secara sederhana HTI ingin agar Islam diterapkan tidak hanya pada level individu, namun juga dalam keluarga, masyarakat dan negara. Sehingga Islam tidak hanya dalam wilayah privat semata, namun dalam konteks publik Islam juga diterapkan. Sebagai contoh gagasan tentang Sistem Ekonomi Islam, Sistem Politik dan Pemerintahan Islam, Sistem Hukum Islam, Sistem Pendidikan dalam Islam, Sistem Sosial atau Kemasyarakat dalam Islam, dan lainnya.

Gagasan-gagasan HTI bisa dilihat dalam buku-buku yang dikeluarkannya. Buku-buku tersebut sering disebut oleh HTI sebagai Kitab Mu’tabanat. Dari buku-buku tersebut akan dijumpai bagaimana gagasan HTI. Misal ketika membaca kitab An-Nizham Al-Iqtishady fil Islam. Pembaca akan menemukan gagasan Islam dalam masalah ekonomi. Bagi yang mengkajinya, akan didapati sebuah gagasan luar biasa dalam ekonomi, tidak hanya dalam persoalan pemikiran ekonomi, namun juga bagaimana secara praktis ekonomi dalam Islam.

Jika mengkaji kitab An-Nizham Al-Hukmi fil Islam maka akan dijumpai gagasan Islam dalam mengatur pemerintahan dalam sebuah negara. Banyak orang akan tersadarkan bahwa ternyata Islam dan politik tidak terpisahkan, sebab di dalam Islam juga memiliki seperangkat aturan tentang politik. Selain itu, masyarakat akan tercerahkan dan mendapatkan gambaran jelas bagaimana politik Islam yang sesungguhnya.

Apabila mengkaji kitab An-Nizham Al-Ijtima’i fil Islam maka akan ditemukan gagasan Islam dalam mengatur kehidupan sosial atau kemasyarakatan yang semestinya. Dari sini, pertanyaan bagaimana kehidupan sosial dalam Islam akan terjawab dengan jelas. Lebih rinci lagi pertanyaan tentang bagaimana posisi laki-laki dan wanita di tengah-tengah masyarakat juga akan terjawab.

Dan sesungguhnya masih banyak lagi gagasan HTI yang bisa dicari secara mudah dan bahkan HTI sangat terbuka untuk mendiskusikannya. Sehingga tidak perlu menyimpulkan di awal tentang HTI, jika hanya mendapatkan sumber-sumber sekunder. Banyak pihak kadang hanya melihat HTI dari opini-opini yang sering kali hanya menyudutkan HTI. Padahal jika diamati dengan seksama sumbernya tidak primer langsung dari HTI. Lebih parah lagi adalah ketika mengatakan bahwa apa yang di bawa HTI sebagai hal yang baru, bahkan tidak benar.

Ambillah contoh tentang gagasan Syariah Islam dan Khilafah. Maka, adalah kesalahan besar ketika mengatakan bahwa gagasan tersebut tidak benar. Sebab dalam Islam memang diwajibkan untuk menerapkan Syariah Islam secara menyeluruh. Dan sebagai konsekuensi penerapannya, harus ada institusi Khilafah.

Oleh karena itu, dengan membuka hati dan akal sehatnya. Sesungguhnya orang akan mampu menyimpulkan jika gagasan-gagasan yang HTI selalu suarakan kepada masyarakat adalah Islam itu sendiri. HTI tidak menyuarakan, kecuali Islam itu sendiri. HTI senantiasa menyuarakan kebenaran.[VM]

Penulis : Lutfi Sarif Hidayat, SEI (Pemerhati Ekonomi Politik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here