HTI Dilawan, AHOK Kok Dikawan ?

0
Ahok-Djarot bertemu Ketua PBNU

“Nanti kalau Pak Ahok kepilih, bolehlah ajak Pak Ahok juga, karena Pak Ahok ini sudah NU,” kata Said di markas PBNU, Kramat Raya, Jakarta Timur, Senin (10/4). (https://www.merdeka.com/peristiwa/ketua-umum-pbnu-sebut-ahok-sudah-nu.html)

Saya baca berita di atas hanya geleng-geleng. Entah apa yang ada di benak kyai kami yang satu ini, saya nggak habis pikir, lha kok malah Ahok yang sudah jelas jadi terdakwa kasus penistaan agama (Islam) malah dianggap bagian dari NU. Terus terang ini melukai kami warga NU bahkan para kyai sepuh NU. Mohon maaf lagi, lha kalau begini wibawa dan martabat NU tercoreng.

Harusnya pak kyai Said berbicara dan bertindak itu harus merepresentasikan NU sebagai ormas Islam terbesar di negeri ini. Jadi ya mohon pernyataan dan sikapnya itu jangan sampai melukai umat Islam. Saya menyimak di berbagai kabar lewat media sosial, kegiatan-kegiatan HTI dicoba untuk digagalkan Banser, eh malah Ahok dikawan. Lha piye tho iki? Justru harusnya karena HTI itu juga sama-sama dulur Islam yang berjuang amar ma’ruf nahi mungkar mbok yao dikawan. Dan Ahok yang telah menyakiti akidah umat islam itu diposisikan pada tempatnya. Lha akidahnya saja tidak sama, bagaimana mungkin Ahok bisa jadi bagian dari NU dengan mengatakan, “Pak Ahok ini sudah NU”. Ya Allah sakitnya tuh di sini.

Yok kita ambil hikmahnya, sebagai figur umat Islam, mbok ya hati-hatilah terhadap perkataan dan perilaku. Ingat! Gusti Allah Mboten Sare (Allah selalu terjaga). Allah akan senantiasa mencatat seluruh amal, baik berupa perkataan ataupun perbuatan kita. Yang patut untuk kita takutkan adalah ketika ucapan dan sikap itu menyalahi syariat Islam, maka Allah akan mencatatnya sebagai dosa. Bahkan jika posisi kita berpengaruh dan ucapan serta sikap yang salah tadi dipercaya dan diamalkan orang lain, justru dosanya makin mengerikan, yakni kita sendiri dosa sekaligus menanggung dosa orang yang terpengaruh oleh kita tanpa mengurangi dosa orang tersebut. Termasuk apabila kita memiliki kemampuan untuk menghentikan kezaliman antar saudara se-akidah tapi diam saja, ini juga sama saja membiarkan umat Islam melakukan kezaliman sekaligus membiarkan umat Islam yang lainnya dizalimi. Lalu bermanis muka di depan orang kafir, yang telah didakwa menistakan agama (Islam) lagi.

Mari kita ingat pesan Rasulullah saw memperingatkan dari keburukan yang berasal dari ulama dan menyebutnya sebagai seburuk-buruk keburukan. Imam ad-Darimi meriwayatkan dari al-Akhwas bin Hakim dari bapaknya :

Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi saw tentang keburukan. Rasul bersabda: “jangan kamu tanya aku tentang keburukan dan tanyai aku tentang kebaikan”. Beliau mengatakannya tiga kali. Kemudian beliau bersabda: “ingatlah, sesungguhnya seburuk-seburuk keburukan adalah keburukan ualam dan sesungguhnya sebaik-baik kebaikan adalah kebaikan ulama”.

Mari kita ingat pesan Imam al-Ghazali di dalam Ihyâ’Ulûmuddîn menjelaskan: “ulama itu ada tiga golongan. (Golongan) Ulama yang mencelakakan dirinya sendiri dan orang lain, dan mereka adalah yang terang-terangan mencari dunia dan mencurahkan perhatian terhadap dunia. Atau (golongan) ulama yang membahagiakan dirinya dan orang lain. Mereka adalah yang menyeru makhluk kepada Allah baik secara zahir maupun batin. Atau (golongan) ulama yang mencelakakan dirinya sendiri tapi menyenangkan orang lain dan dia adalah yang mengajak kepada akhirat dan bisa jadi ia menolak dunia pada zahirnya sementara maksudnya pada batin adalah (mencari) penerimaan makhluk dan mencari kedudukan. Maka perhatikan termasuk golongan manakah kamu …”. [VM]

Penulis : Agus Zaki el Jawi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here