Persatuan dalam Keberagaman

0

Isu keberagaman atau kebhinekaan, selalu saja mengemuka, jika berhadapan dengan persoalan yang melibatkan elemen masyarakat, utamanya yang terkait dengan agama. suku bangsa, ataupun budaya. Isu di tengah  masyarakat yang masih hangat diperbincangkan di antaranya persoalan kepemimpinan kafir atas kaum muslimin. Ketika kaum muslimin hanya menginginkan pemimpin sesuai dengan agamanya, maka diangkat isu keberagaman untuk meredam keinginan kaum muslimin yang dianggap anti keberagaman, dengan mengangkat isu Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, bahasa, agama dan budaya yang berbeda.Benarkah Islam anti keberagaman? Benarkah Islam tidak mampu membangun persatuan di tengah masyarakat?

Keberagaman adalah sesuatu yang pasti terjadi di tengah masyarakat, dan tidak akan pernah hilang. Sepanjang sejarah manusia,tidak ada satu masyarakatpun yang homogen. Setiap masyarakat yang ada di belahan bumi ini, pastilah beragam, heterogen baik dari sisi agama, warna kulit, bahasa dan lainnya, karena hal tersebut adalah sunatullah. Allah SWT menciptakan manusia dalam ragam suku dan bangsa, misalnya, agar manusia saling mengenal. Allah SWT berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ﴾

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Mahatahu lagi Maha Mengenal  (TQS al-Hujurat [49]: 13).

Siapapun yang mengkaji sejarah Islam akan mendapati bukti nyata ketika persatuan nyata terjadi di tengah keberagaman. Yakni ketika syariah Islam sebagai sistem yang mengatur manusia dari Allah swt sebagai Al Khaliq Mudabbir (Maha Pencipta dan Maha Pengatur), diterapkan secara kaaffah, kamilan dan syamilan (sempurna dan menyeluruh). Hampir 14 abad lamanya Islam diterapkan dalam naungan khilafah, yaitu sejak tahun 622 (saat Rasulullah saw hirah ke Madinah menegakkan daulah/khilafah Islam ) hingga tahun 1924 (ketika daulah/khilafah Islam dihancurkan di Istambul Turki oleh Mustafa Kemal laknatullah alaihi). Saat itu, Islam diterapkan di 3 benua (Asia, Afrika dan sebagian Eropa) dengan ribuan macam bahasa, budaya,dan suku bangsa. Mereka hidup damai dan sejahtera di bawah satu sistem aturan, yakni sistem aturan Islam, di bawah satu panji, yakni Panji Liwa Rayah,panjinya Rasulullah saw, di bawah satu naugan negara Khilafah Islamiyah.

Oleh karena itu sangatlah naif, pandangan pihak- pihak yang memandang Islam sebagai anti keberagaman. Ketika Islam mampu diterapkan di wilayah dengan berbagai ras manusia, ribuan suku bangsa dan kabilah, ribuan bahasa dan warna budaya, apatah lagi jika diterapkan hanya dengan ratusan bahasa, suku bangsa, dan budaya.

Mari bersatu di bawah panji Al Liwa dan Ar Rayah, yaitu panji Rasulullah dalam naungan Khilafah dengan manhaj Kenabian.

Penulis : Hera Anggarawaty
Ibu Rumah TanggaTinggal di Bandung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here