Untukmu, yang Mengaku Mahasiswa

0

Dalam Pernyataan Sikap Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia pada tanggal 22 Maret 2017 berkenaan dengan kasus Petani Kendeng yang menggugat berdirinya pabrik semen di Rembang. Terdapat salah satu poin yang menyebutkan “Menolak Negara lemah dalam menjalankan fungsinya serta meminta tegas pada pemerintah untuk tidak serampangan mengelola negara” tentu pernyataan sikap tersebut haruslah diapresiasi. Terlebih saat eksistensi mahasiswa selama ini telah banyak dipertanyakan. Diantara persimpangan peran mahasiswa sebagai agent of change dan sebagai bagian dari kalangan intelektual yang diharapkan ikut andil dalam pemecahan problematika negri ini. Namun, seharusnya pernyataan sikap tersebut tidak berhenti hanya sebatas tuntutan. Lebih baik jika disertai dengan solusi yang mendasar, menyeluruh dan berakar dari kesadaran politik diatas ideologi yang datang dari Tuhan Sang Pencipta Kehidupan. Hingga bisa mengarahkan mahasiswa mampu memilih dan memilah solusi tuntas, bukan sekedar temporer dan parsial.

Berkaitan dengan ideologi kehidupan yang sempurna dan datang dari Tuhan Sang Pencipta Kehidupan, satu-satunya yang terkualifikasi hanyalah Islam. Sesungguhnya Islam adalah agama sempurna yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengatur interaksi manusia dengan Tuhannya, dirinya dan sesamanya. Akan tetapi kesempurnaan tersebut akan lenyap jika Islam hanya dipahami sebagai pedoman yang mengatur aspek ruhiyah atau ibadah saja. Padahal Islam mengandung sesuatu yang lebih dahsyat daripada itu jika diterapkan secara utuh dan menyeluruh. Seperti yang telah Allah perintahkan dalam firman-Nya :

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian” (TQS al-Baqarah : 208)

Bagian inilah yang tidak banyak disadari oleh mahasiswa. Pemahaman yang disertai pembenaran yang pasti terkait penerapan Islam kaffah merupakan titik tolak kebangkitan yang hakiki. Jamaknya mahasiswa saat ini belum cukup “PD” (Percaya Diri) dengan identitas dan keunggulan Islam yang mampu menjawab segenap problematika berkepanjangan di negri dan dunia saat ini.

Krisis kesadaran tersebut diperparah dengan keberadaan musuh-musuh Islam berserta segenap yang tidak menghendaki kebangkitan Islam. Mereka seolah tidak pernah kehabisan cara untuk membuat framing bahwa Islam identik dengan terorisme dan hal menyeramkan lainnya. Phobia akan Islam ditiupkan dalam benak-benak mahasiswa sendiri dengan isu terrorisme, isis, islam radikal dan lain sebagainya. Selain itu, program Deradikalisasi seolah diaminkan oleh pihak perguruan tinggi tempat mahasiswa seharusnya diberi peluang melejitkan potensinya. Baik berupa pengalihan maupun intervensi nyata. Pengalihan tersebut berupa arus enterpreneurship berserta segenap rutinitas perkuliahan. Sedang intervensi nyata berupa pembatasan hingga pelarangan menyampaikan opini lisan maupun tulisan dikalangan mahasiswa kampus. Semuanya dalam rangka membentuk ketakutan terhadap Islam sehingga menjadi upaya mengikis daya kritis mahasiswa terhadap perjuangan kepada kebangkitan hakiki.

Sobat mahasiswa, semoga kita tidak terlupa dengan hadist berikut :

“Tidak akan bergeser kaki anak Adam (manusia) pada hari kiamat nanti dihadapan Rabbnya sampai ditanya tentang 5 perkara : Umurnya untuk apa dihabiskan, masa mudanya untuk apa dihabiskan, hartanya darimana dia dapatkan dan dibelanjakan untuk apa harta tersebut dan sudahkah beramal terhadap ilmu yang telah ia ketahui” (H.R. at Tirmidzi no 2340)

Hadist tersebut mengandung sebuah indikasi bahwa masa muda merupakan masa yang istimewa dengan segenap potensi luar biasa. Begitupun mahasiswa yang terkategori sebagai pemuda. Idealnya mahasiswa adalah mereka yang berfikir kritis, tidak mudah membuat penilaian tanpa pengkajian, berfikir mendalam dan cemerlang bukan pragmatis apalagi apatis. Bukan pula mereka yang mudah baper dengan hal sepele.

Sehingga, untukmu yang mengaku mahasiswa. Mari membuka mata, pendengaran, hati dan pikiran. Mari mengkaji Islam bukan sekedar sebagai pedoman ibadah saja tapi sebagai Ideologi, sebab disanalah terdapat solusi. Ada sesuatu yang lebih berharga dibanding sekedar menjalani rutinitas kuliah ataupun orientasi sukses dunia lainnya. Jadilah mahasiswa tagguh, yang siap menjadi garda terdepan kebangkitan hakiki. Sebab Allah akan menghisab bukan dengan pertanyaan berapa SKS yang kau lampaui setiap semester, tapi Allah akan bertanya untuk apa masa mudamu dihabiskan? Sudahkah ada sesuatu yang dipersembahkan dalam perjuangan penerapan Islam Kaffah? Sebab perjuangan ini bukanlah pilihan, tapi bagian dari konsekuensi keimanan. Wallahu a’lam bisshawwab. [VM]

Penulis : Khairun Nisa’ D.N.R. (Tim Kontak Aktivis Muslimah Kampus Surabaya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here