Jangan Galak Kepada Saudara, Lalu Bergandengan Tangan dengan Musuh

0
ilustrasi

Sungguh mengkhawatirkan potret dalam sebagian kaum muslimin, terhadap sesama muslim sering terlihat galak, namun terhadap kafir bermuka manis dan bergandengan tangan. Bahkan perwujudannya sudah sampai bersinggungan dengan prinsip-prinsip akidah. Miris, terhadap kaum muslimin yang hanya beda ijtihad dalam masalah furu’iyah, sering dikobarkan api permusuhan. Bahkan sampai membuat simbolisasi terhadap mereka yang harus dimusuhi. Padahal kalau seandainya ijtihad tersebut salah, maka dosanya tidaklah lebih besar daripada kekafiran orang-orang kafir dan kesesatan aliran sempalan.

Ironis, saat terjadi konflik antara kaum muslimin dengan musuh Islam, maka lidah api mereka ini ditujukan kepada kelompok muslim, sementara musuh-musuh Islam, selalu aman dari serangannya. Ini juga terjadi dalam kasus kezaliman penguasa maupun negara-negara penjajah, serta keberadaan kelompok-kelompok sesat yang terus menunjukkan eksistensinya, diberi angin atas nama toleransi dan anti kekerasan.

Sesungguhnya sikap tersebut sangat bertentangan dengan sharihul nash, bahwa sesama muslim haruslah berkasih sayang, tolong-menolong, dan membantu menghadapi musuh mereka. Bukan sebaliknya, terhadap muslim malah sangat galak, namun terhadap kafir bermuka manis, saling tolong-menolong dan bantu-membantu sampai pada persoalan kekufuran mereka.

Syariat Islam mengharamkan segala tindakan yang memecahbelahukhuwah dan kasih sayang antar sesama muslim ini dan juga setiap tindakan yang bisa merusak persatuan umat ini. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal kasih sayang, kecintaan dan kelemah-lembutan diantara mereka adalah bagaikan satu tubuh, apabila ada satu anggotanya yang sakit maka seluruh tubuh juga merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (Muttafaqun ‘Alaih dari al-Nu’man bin Basyir)

Dari Abu Musa radliyallaahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Orang mukmin dengan mukmin lainnya laksana satu bangunan, satu dengan yang lainnya saling menguatkan.” Lalu beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam lalu beliau menautkan jari-jemarinya. (Muttafaq ‘alaih)

Jiwa seorang Muslim yang lemah lembut, merupakan refleksi dari kelembutan qalbu. Semakin lembut qalbu seseorang, maka kelemah lembutannya akan semakin tampak. Qalbu yang lembut, akan memancarkan jiwa-jiwa yang “peka”. Sebaliknya, hati yang kesat dan keras, akan melahirkan tindakan yang kasar, sembrono, bahkan brutal. Karena qalbu merupakan barometer action seseorang. Maka tidak heran, kalau Nabi shallalahu alaihi wa sallam menyatakan bahwa surga itu diperuntukkan bagi mereka yang memilik jiwa-jiwa yang lembut, karena Allah mencintai kelembutan. Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di dalam surga itu terdapat kamar-kamar atau gedung-gedung yang bahagian luarnya dapat dilihat dari bahagian dalam, dan bahagian dalam dapat dilihat dari bahagian luarnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyediakannya untuk orang yang suka memberi makan orang miskin, orang yang lembut dalam berbicara, orang yang suka berpuasa dan orang yang mengerjakan shalat di malam hari waktu manusia lain sedang tidur”. (HR. Tirmidzi)

Dinukil dari kitab: Ma’alim Fis Suluk Wa Tazkiyatun Nafs, lisy syaik ‘Abdul ‘Aziz Ibn Muhammad al-‘abdu al-latif. Al-Imam adz-Dzahabiy berkata: “Kesempurnaan perilaku seseorang itu tercermin dalam kehati-hatiannya (wara’) dalam hal makanan, kehati-hatian dalam berucap, menjaga lisan, kontinyu dalam berdzikir, tidak banyak bergaul dengan orang-orang awam, menangisi kesalahan yang telah dilakukan, membaca al-Quran dengan tartil dan penuh penghayatan, membenci diri apabila ia mengajak untuk memikirkan dzat Allah SWT, Memperbanyak shaum sunnah, merutinkan sholat tahajud, rendah hati di hadapan sesama muslim, menghubungkan tali silaturrahim, toleran, bermuka ceria dan gemar berinfak meski dalam keadaan sempit, menyampaikan kebenaran meski terasa pahit dengan lemah lembut dan tidak tegesa-gesa, mengajak kepada yang makruf, memberi maaf, menjauhi orang-orang jahil, menjaga perbatasan, berjihad melawan musuh-musuh Islam, berhaji, senantiasa memakan yang baik, memperbanyak istighfar di penghujung malam. Inilah amalan-amalan para wali Allah SWT dan sifat-sifat pengikut Rasulullah SAW, semoga kita mati dalam keadaan mencintai mereka”

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah mengumumkan manhaj ini saat haji akbar dipenghujung hayatnya.

“Sesungguhnya darah-darah kalian, harta-harta kalian, dan kehormatan-kehormatan kalian adalah haram atas sesama kalian.” (Muttafaqun’alaih)

Keharaman tersebut berdasarkan nash Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam secara jelas yang tak boleh dirubah, ditakwilkan, dan diselewengkan. Siapa yang meyakini halalnya darah kaum muslimin dan merusak kehormatan mereka, maka berarti dia telah mengharamkan sesuatu yang sudah sangat maklum dari urusan diin ini tentang keharamannya.Semoga kaum muslimin diselamatkan dari ketergelinciran upaya adu domba terhadap sesamanya. [VM]

Penulis : Ainun Dawaun Nufus (pengamat sospol)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here