Gurita Hedonis Kalangan Artis

0
Ridho Rhoma dan Rhoma Irama

Para fans artis kembali kecewa. Salah satu artis pujaan ada lagi yang terseret kasus narkoba. Ridho Rhoma menambah daftar panjang artis Indonesia yang tersandung narkoba. Diendus dua tahun nyabu, dia ditangkap polisi tanpa perlawanan ditengah karirnya yang sedang kembali menanjak. Sungguh disayangkan.

Sebelumnya, sederet artis muda juga tertangkap karena kasus narkoba. Sebut saja Restu Sinaga yang ditangkap di Cilandak, Jakarta Selatan pada Kamis (2/6/2016) akibat kepemilikan ganja seberat 10,75 gram, 17 butir psikotropika jenis dumolid, 26 butir psikotropika jenis happy five serta empat plastik sisa kokain. Dia mendapat hukuman enam bulan rehabilitasi. Artis lain, Jupiter Fortissimo yang ditangkap di tempat karaoke di Jakarta Barat, Selasa (10/5/2016) akibat penemuan satu paket sabu seberat 0,5 gram. Hukumannya dua tahun enam bulan penjara. Awal tahun 2016 juga dihebohkan dengan penangkapan artis muda Dylan Carr di lokasi syuting kawasan Ceger, Jakarta Timur, Rabu (6/1/2016) dengan barang bukti sabu 0,16 gram, satu alat isap sabu atau bong, satu cangklong, dan dua korek gas. Dia dijatuhi hukuman tujuh bulan rehabilitasi (Radar Bogor, 26/3/2017). Banyak lagi artis Indonesia yang terjerat kasus serupa. Kenapa dengan dunia para artis?

Dunianya Para “The Have”

Dunia selebritis dianggap sebagai dunia kalangan atas dengan gaya hidup yang menuntut semua serba ada. Tuntutan karir membuat para artis harus tampil selalu prima di hadapan publik meskipun sebenarnya bisa jadi mereka menyimpan segudang permasalahan hidup. Apa yang terlihat tak selalu sama dengan yang sebenarnya terjadi. Kamuflase kebahagiaan di hadapan para fans dengan bergaya hidup layaknya para ‘the have” menjadi salah satu cara agar mereka tetap mendapatkan tawaran job keartisannya. Tajir dan kaya raya seolah sudah menjadi tujuan final, mengalahkan semuanya.

Banyak yang kemudian mencari jalan pintas agar pundi-pundi rupiah tetap mengalir meskipun harus dengan cara yang tak pantas, seperti kasus beberapa artis ibukota yang terindikasi terlibat dalam kasus prostitusi artis beberapa waktu lalu. Ditambah lagi, kejar tayang pembuatan sinetron stripping (dan sejenisnya) harus dijalani meskipun akibat langsungnya adalah jadwal hidup yang menjadi berantakan. Siang jadi malam, malam jadi siang untuk mereka karena kejar setoran. Banyak artis sinetron yang kemudian secara sadar ataupun tidak menjadi korban eksploitasi TV demi mengejar rating. Namun jika kemudian cara hidup tak beraturan tersebut menimbulkan ketidakseimbangan hidup apalagi diperparah dengan tuntutan gaya hidup serba ‘wah’, kita bisa menebak apa yang kemudian bisa terjadi.

Beban hidup yang bertumpuk-tumpuk dan pergaulan yang serba bebas membuka peluang cukup besar bagi para artis untuk melampiaskan permasalahannya ke narkoba karena akses yang juga terbuka lebar untuk mendapatkan barang haram tersebut. Akibatnya, kasus penangkapan para artis terjerat narkoba sudah dianggap bukan tabu lagi karena sudah menjadi bagian life style sebagian dari mereka. Perlu kerja keras untuk mengubah image tersebut. Penangkapan, keluar masuk penjara, rehabilitasi sudah menjadi hal biasa dan tidak dianggap sebagai aib lagi. Kalau sudah begini, apa yang bisa diperbaiki?

Gurita Hedonisme

Masyarakat modern saat ini sulit lepas dari budaya hedonisme dan gaya hidup berfoya-foya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hedonisme adalah pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Materi telah menjadi tujuan dan standar kebahagiaan. Dikatakan bahagia jika memiliki banyak uang, harta, ketenaran, jabatan dan kekuasaan. Bahagia diukur dari penguasaan dan pencapaian seseorang atas materi duniawi.

Budaya hedonis telah menggurita di tengah masyarakat. Yang terpenting bagi orang-orang yang hedonis adalah mendapatkan materi sebanyak-banyaknya meskipun dilakukan dengan cara yang salah. Standar baik dan buruk sudah kabur, apalagi standar benar dan salah sudah tak jelas tolok ukurnya. Yang benar bisa jadi salah karena faktor kepentingan, begitu pun sebaliknya yang sejatinya salah bisa-bisa menjadi sesuatu yang dianggap benar karena saking seringnya diopinikan ketengah masyarakat. Kebebasan berperilaku dielu-elukan, dalam arti standar benar-salah telah menjadi kabur tergantung pemahaman dan selera masing-masing orang. Kebahagiaan pun menjadi terasa semu dan tidak benar-benar berasal dari hati. Hampa. Bermunculan lah orang-orang yang nampak bahagia, namun sebenarnya hatinya gersang. Gersang dari keberkahan hidup. Kering dari damainya tujuan hidup. Kehidupan sebagian artis yang terseret narkoba bisa menjadi cermin untuk kita.

Fatalnya, negara pun dalam hal ini menyerahkan sepenuhnya hak kebebasan kepada individu seluas-luasnya karena jargon Hak Asasi Manusia. Demokrasi, katanya. Kasus narkoba di kalangan artis hanya dianggap persoalan pribadi mereka, tanpa memikirkan lebih jauh efek posisi para artis sebagai public figure yang tentu berimbas pada perilaku para fans dan masyarakat secara umum. Akibatnya, wajar jika terjadi pertentangan atau kekacauan (chaos) di tengah masyarakat karena standar benar-salah yang tidak jelas dan contoh perilaku artis idola yang tak sepatutnya.

Gurita hedonisme seperti yang terjadi di kalangan artis akan tetap ada selama sistem yang mengekalkan kebebasan berperilaku tetap diterapkan. Hedonisme akan tetap ada dalam sistem demokrasi. Maka tak perlu berharap banyak akan terjadi perbaikan mental dan moral ditengah masyarakat selama gaya hidup hedonis dalam sistem demokrasi masih terus dielu-elukan. Padahal sejatinya gaya hidup tersebut telah membuat hidup begitu payah dan lelah. Lelah, mengejar sesuatu yang tak ada habisnya. [VM]

Penulis : Emma Lucya F, S.Si
Pemerhati Masalah Perempuan, Keluarga dan Generasi (PKG)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here