Bendera Tauhid: Bagian dari Sejarah di Nusantara

0
Al-Liwa’ & Ar-Rayah on The Boat

Sungguh ada kemiripan al-Liwa dan ar-Rayah dengan bendera tauhid yang biasa digunakan oleh kesultanan-kesultanan Islam di Nusantara.

Tentu saja ini masuk akal karena pengaruh Kekhilafahan Islam—khususnya pada masa Kekhilafahan Turki Utsmani—terhadap kesultanan-kesultanan Islam sangatlah kuat.

Salah satunya adalah karena peran Wali Songo, yang sebagiannya adalah utusan resmi Kekhilafahan Turki Utsmani untuk mengembangkan dakwah Islam di Nusantara.

Merekalah yang secara tidak langsung berjasa melahirkan kesultanan-kesultanan Islam di Nusantara setelah sebelumnya Nusantara dikuasai oleh kerajaan-kerajaan Hindu Budha.

Gambar Warna hitam pada bendera Kanjeng Kyai Tunggul Wulung dari Kesultanan Yogyakarta

Salah satunya adalah kesultanan Yogyakarta. Salah satu bendera pusaka Kesultanan Yogyakarta berpola rayah. Warna hitam menjadi bagian dari namanya, yaitu Kanjeng Kyai Tunggul Wulung.

 

Contoh lain adalah Kesultanan Cirebon yang didirikan pada pertengahan abad ke-16. Benderanya yang berjuluk ‘Macan Ali’ menampakkan kesamaan pola dengan liwa dan rayah.

Contoh lainnya lagi adalah Kesultanan Bugis. Kalimat tauhid terdapat pada bendera Kesultanan Bugis yang ditulis di seputar sisi bendera.

Gambar bendera Kesultanan Cirebon, seperti kombinasi warna liwa

Selain itu, pada masa Penjajahan Belanda, bendera tauhid juga digunakan sebagai simbol perlawanan. Contohnya di Aceh. Terdapat pola warna liwa dan rayah pada Bendera Aceh. Bendera ini digunakan pasukan Aceh saat bertempur melawan penjajahan Belanda di Singkil dan Barus.

Gambar Bendera Kesultanan Cirebon, seperti kombinasi warna rayah

Semua bendera tauhid di atas sama persis dengan bendera Kekhilafahan Turki Utsmani. Pada bendera Khilafah Utsmaniyah pada tahun 1683 terdapat kalimat tauhid.

Semua itu menunjukkan keterkaitan erat antara Islam di Nusantara—khususnya yang direpresentasikan oleh kesultanan-kesultanan yang ada di Nusantara—dengan Kekhilafahan Islam.

Alhasil, sejatinya umat Islam di Nusantara saat ini tidak boleh merasa asing dengan Bendera al-Liwa dan Panji ar-Rayah.

Gambar Kalimat sahadat di bendera pasukan Aceh, kini tersimpan di Museum Negeri Aceh

Karena itu kaum Muslim harus tergerak untuk mengibarkan kembali keduanya, dengan berjuang menegakkan kehidupan Islam, dalam naungan al-Khilafah ‘ala Minhaj al-Nubuwwah yang berdiri di atas asas tauhid: La ilaha illalLah Muhammad Rasulullah. [VM]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here