Remaja Unik, Suka Ngomong Politik

0
ilustrasi

Gaes, Sebelum kamu ‘terjun’ ke dunia politik, harus tahu dulu apa itu politik. Makanya, di sinilah perlunya pendidikan. Pendidikan adalah segalanya. Orang bisa pinter, bisa ngerti dan bisa membuat segalanya lebih bermakna adalah karena pendidikan. Setiap pendidikan insya Allah akan mengantarkan kepada pencerahan ber¬pikir. Kamu nggak bakalan kuper, o’on, dan juga nggak bakalan ditipeng orang, atau malah diperalat oleh pihak yang nggak bertanggung jawab. Kamu bisa hebat dan canggih, tentu lewat pendidikan yang canggih pula, kalo pen-didikannya aja meng¬gunakan sistem yang nggak jelas, maka jangan harap kamu menjadi pinter dan cerdas.

Lalu apa arti politik dalam pandangan Islam? Dalam kitab Mafahim Siyasiyah dijelaskan bahwa politik adalah ri’ayatusy syu’unil ummah, alias pengaturan urusan ummat. Adapaun pengaturan urusan ummat tidak melulu urusan pemerintahan seperti sangkaan banyak orang, melainkan termasuk di dalamnya aspek ekonomi (iqtishadi), pidana (uqubat), sosial (ijtima’i), pendidikan (tarbiyah) dan lain-lain.

Pengen bukti? Nah, Islam telah memberi¬kan gambaran yang utuh dalam masalah ini, bahkan sejarah memperlihatkan selama lebih dari 14 abad, kaum muslimin hidup dengan menerapkan aturan Islam. Tidak pernah ada satu masa pun kaum muslimin hidup dengan aturan selain Islam. Catet nih, Bro! Terakhir kaum muslimin hidup dalam naungan Islam adalah di tahun 1924, tepatnya tanggal 3 Maret tatkala Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki alias Konstantinopel diruntuh¬kan oleh kaki tangan Inggris keturunan Yahudi, Musthafa Kemal Attaturk. Nah, dialah yang mengeluarkan perintah untuk mengusir Khalifah Abdul Majid bin Abdul Aziz, Khalifah (pemim¬pin) terakhir kaum muslimin ke Swiss, dengan cuma berbekal koper pakaian dan secuil uang. Sebelumnya Kemal mengumumkan bahwa Majelis Nasional Turki telah menyetujui pengha¬pusan Khilafah. Sejak saat itulah sampai sekarang kita nggak punya lagi pemerintahan Islam. Menyedihkan bukan? Ini tanggungjawab kita untuk menegak-kannya kembali, Bro en Sis!

Well, kok bengong? Atau sedih? Soalnya memang itulah gambaran kita saat ini. Coba dari dulu memahami istilah politik seperti ini. Pasti nggak bakalan bengong or bingung kayak sekarang. Tapi, alhamdulillah, sekarang kamu mulai paham sedikit demi sedikit tentang politik dalam pandangan Islam.

Gaes, itu baru definisi politik lho. Sekarang saya jelaskan sedikit bahwa aktivitas politik itu memerlukan kesadaran politik. Waduh, apa pula itu? Nggak usah lebay. Ini penjelasannya. Muhammad Muhammad Ismail dalam kitab alFikru al-Islamiy menyebutkan bahwa kesadaran politik (wa’yu siyasi) haruslah terdiri dari dua unsur. Pertama, kesadaran itu haruslah bersifat universal atau mendunia (inter¬nasional). Bukan kesadaran yang bersifat lokal semata. Tengok dong saudara-saudara kita di Palestina, Myanmar, Suriah, Afghanistan, Irak, atau saudara kita di Indonesia dan berbagai belahan dunia lainnya. Kita harus tahu dan peduli dengan keadaan mereka. Apakah sekarang lagi mende¬rita atau bahagia. Harus sampai ke situ, Bro! Itulah namanya mondial alias mendunia.

Nah, unsur yang kedua adalah kesadaran politik yang dimiliki harus berdasarkan pada sudut pandang tertentu alias zawiyatun khosshoh. Dengan kata lain kita harus bertindak subyektif dan obyektif dalam menilai peristiwa politik yang terjadi. Lho, gimana sih, subyektif tapi sekaligus obyektif? Gini guys, maksudnya subyektif karena memang harus didasari pada sudut pandang Islam. Obyektif artinya kunti alias tekun dan teliti dalam ‘mem¬baca’ peristiwa yang terjadi.

Ketelitian dan keakuratan memahami peristiwa politik, mutlak harus kamu miliki. Kenapa? Sebab, banyak peristiwa politik yang sering dikamuflase alias diputar-balikkan faktanya dan kerap menutup-nutupi berita. Kasus terorisme misalnya. Sudah jadi rahasia umum, sehingga setiap aksi terorisme pasti ada hubungannya dengan umat Islam. Kacau banget kan? Ya, kayak di film Java Heat kamu pernah nonton kan? Itu penulis skenarionya, sutradaranya dan mungkin juga produsernya kok bela-belain menjejalkan adegan aktivitas terorisme dalam alur cerita, ya jadinya sekadar tempelan aja tuh karena nggak ada hubungannya dengan setting cerita utama. Tetapi celakanya adalah efek dari pesan tersebut yang menyiratkan bahwa Islam mengajarkan terorisme. Padahal sih, yang kerap lakukan teror adalah musuh-musuh Islam.

Nggak percaya? Lihat saja bagaimana pemerintah Amerika Serikat menyerang Irak dan Afghanistan, membajak revolusi Mesir, dan kini mencoba ngerecoki para pejuang Suriah dalam melawan rezim Bashar Assad laknatullah itu. Waspadalah! Fakta-fakta ini harus kamu ketahui dan pahami agar tak termakan opini sesat media Barat yang umumnya benci Islam. Mungkin ada fakta yang benar yang mereka sampaikan, tetapi tetaplah kudu diverifikasi agar pasti kebenarannya. Nggak asal telen aja.

Bagaimana Islam Mengatur Politik? :

Gaes, dalam Islam, politik bukanlah sesuatu yang kotor. Politik Islam tidak identik dengan rebutan kedudukan dan kekuasaan. Dalam bahasa Arab, politik berpadanan dengan kata sâsa-yasûsu-siyâsat[an]; artinya mengurusi, memelihara. Samih ‘Athif dalam bukunya, As-Siyâsah wa As-Siyâsah Ad-Duwaliyyah (1987: 31), menulis bahwa politik (siyâsah) merupakan pengurusan urusan umat, perbaikan, pelurusan, menunjuki pada kebenaran dan membimbing menuju kebaikan.

Karena itu, dalam Islam, politik amatlah mulia sehingga Islam dan politik tak bisa dipisahkan. Alasannya: Islam adalah agama yang syâmil (menyeluruh) yang mengatur berbagai aspek kehidupan. Syariah Islam bukan hanya mengatur masalah ibadah ritual, moralitas (akhlak), ataupun persoalan-persoalan individual. Syariah Islam juga mengatur mu’âmalah seperti politik, ekonomi, sosial-budaya, pendidikan, dsb. Islam pun mengatur masalah ‘uqûbah (sanksi hukum) maupun bayyinah (pembuktian) dalam pengadilan Islam. Bukti dari semua ini bisa kita lihat dalam kitab-kitab fikih para ulama terkemuka yang membahas perbagai persoalan mulai dari thaharah (bersuci) hingga Imamah/Khilafah (kepemimpinan politik Islam).

Oleh karena itulah ayo para Remaja Bangsa ini jangan mau dibutakan oleh Politik Demokrasi, Mengapa? Karena Politik Demokrasi hanyalah ingin menghancurkan rakyat dan memeras rakyat miskin. Karena itulah kita membutuhkan bukan sekadar pemimpin yang shalih, namun juga ideologi dan sistem yang sahih. Itulah ideologi (mabda’) Islam yang diterapkan dalam segala aspek kehidupan dalam institusi Khilafah Rasyidah ‘ala minhâj an-nubuwwah. Allâhu Akbar. [VM]

Penulis : Agus Zhubairi (Pemerhati Remaja)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here