Kembalikan Peran Perempuan Pendidik

0

ilustrasi

Isu keperempuan di Indonesia lebih didominasi feminisme, emansipasi, dan liberalisasi. Gagasan itu sejatinya asing bagi perempuan Indonesia, khususnya muslimah. Media sebagai corong kebebasan menyuarakan hak-hak perempuan yang telah didzalimi oleh rezim dan penguasanya. Sayangnya media tersebut juga turut menyudutkan syariah Islam dalam pengaturannya pada perempuan. Tak heran, jika serangan kepada perempuan melalu beragam saluran menjadikan perempuan jauh dari Islam.

Grand desain liberalisasi perempuan dimulai dengan mengangkat duta-duta perempuan dalam membebaskan belenggunya sendiri. Perempuan dicoba dipalingkan dari tugas utamanya sebagai ibu, pendidik generasi, dan pengatur rumah tangga. Simaklah surat dari RA Kartini:

“dengan sepenuh hati saya benarkan pikiran suami Nyoya, yang demikian jelasnya tertulis dalam surat edaran tentang perkara pengajaran bagi gadis Bumiputera: Perempuan itu jadi soko guru peradaban! Bukan karena perempuan yang dipandang cakap untuk itu, melainkan oleh karena saya sendiri yakin sungguh bahwa dari perempuan itu pun mungkin timbul pengaruh yang besar, yang besar akibatnya dalam hal membaikkan maupun memburukkan kehidupan bahwa dialah yang paling banyak dapat membantu memajukan kesusilaan manusia” (Habis Gelap Terbitlah Terang, hlm.101-102).

Kembalikan Peran Pendidik

Bagi jiwa dan akal yang masih waras, kondisi perempuan saat ini diakibatkan sistem yang rusak dan merusak. Liberalisasi dalam beragam sektor kehidupan menjadikan perempuan menjadi korban. Tugas mendidik anak sering diabaikan hanya demi memenuhi ekonomi yang jauh dari kesejahteraan. Cara pandang penguasa pun salah arah. Tampaknya halus mendorong perempuan dalam pengentasan kemiskinian, namun hakikatnya memiskinkan peran penguasa dalam mengurusi kehidupan rakyatnya.

Untuk keidealan dalam mendidik generasi bangsa saat ini tampaknya jauh dari harapan. Hal ini dikarenakan, pertama, penguasa tidak membuat sistem yang menentramkan dan menyejahterakah. Sebaliknya sistemnya menjauhkan perempuan dari Islam. Kedua, tiada kesadaran dari perempuan untuk terbebas dari belenggu dan upaya membelenggunya. Ketiga, pengabaian terkait pendidikan generasi tampaknya sudah hilang. Kepedulian orang tua, masyarakat, dan negara untuk membentenginya hampir-hampir tiada.

Karenanya upaya untuk mengembalikan keidealan itu ada beberapa hal yang harus ditempuh.

Pertama, penguasa menyadari bahwa tugasnya mengurusi urusan umat dalam menyediakan kebutuhan hidup. Termasuk pendidikan dan keamanan bagi rakyatnya. Bicara pendidikan juga tidak bisa dilepaskan dari sistem ekonomi, politik pemerintahan, dan kebijakan publik.

Kedua, desain pendidikan dirancang berdasarkan aqidah Islam. manusia dididik dan dibentuk keperibadiannya dengan aqliyah dan nafsiyah yang Islami. Selain itu juga, pendidikan gratis dan dirancang untuk memberikan bekal kehidupan di dunia dan akhirat.

Ketiga, mengganti sistem dan ide yang rusak dengan kembali kepada Islam yang menjadi jiwa dan landasan manusia. Peran negara sangat penting dan vital.

Keempat, negara merancang pendidikan yang sesuai fitrah manusia. Melindungi seluruh rakyatnya dari beragam ide rusak, ancaman keamanan, dan ketidaksejahteraan. Bagunan negara juga harus kokoh untuk menopang keseluruhan dalam upaya mewujudkan keidealan kondisi bagi kaum perempuan.

Butuh Khilafah

Jika berharap pada model negara kapitalis dan demokrasi-liberal saat ini tak mungkin ada keidealan. Solusi yang dibuat sering malah mengaburkan esensi dari tujuan memuliakan perempuan. Bukankah program yang sudah dirancang malahan mengebiri peran perempuan? Belum lagi pengabaian hukum Islam yang berkaitan dengan perempuan dalam kehidupan publik di luar rumah.

Karenanya butuh negara ideal yang mampu memadukan syariah Islam yang diterapkan dalam kehidupan, sehingga Islam menjadi rahmatan lil ‘alamin. Negara yang sadar untuk memelihara urusan rakyatnya, mencerdaskan rakyatnya, melindungi dan menyejahterahkan rakyatnya. Inilah esensi kebutuhan Khilafah pula dalam menerapkan politik sistem pendidikan Islam yang tiada tandingan keagungannya di dunia ini. [VM]

Penulis : Fadhillah Ummu Hanifah (Muslimah Ibu Rumah Tangga)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here