Dampak Kapitalisme : Penderitaan Ibu dan Anak

0
ilustrasi

Pemerintah telah kehilangan nurani atas kesengsaraan rakyat. Menaikkan harga BBM, memaksa asuransi kesehatan berlabel BPJS dan membiarkan rakyat berjuang meraih kesejahteraan. Semua itu masih ditambah masalah berantai naiknya biaya dan harga, harga-harga semua barang dan jasa naik. Kaum ibu dan anak-anak generasi harus menanggung akibatnya. Kemiskinan massal dan berbagai kesulitan memenuhi hajat hidup sehingga menghambat ibu menjalankan fungsinya. Rezim neolib yang memaksa ibu bekerja untuk meningkatkan taraf ekonomi keluarga dan bangsanya. Sedangkan perhatian negara sebagai pendidik generasi dicukupkan hanya pada peringatan “hari ibu” saja.

Tak sedikit masalah tiap harinya yang membuat anak kurang perhatian dari orangtuanya khusunya ibu. Sehingga berakibat kerusakan moral bagi si anak. Hamil di luar nikah. Aborsi. Miras. Narkoba. Itu karena sistem sekularisme yang masih bercokol. Tentu kita tidak mau terus-terusan sepeeti ini. Harus ada perubahan ke arah yang lebih baik. Sistem yang rusak ini harus diganti. Yah, dengan sistem islam. Dimana sistem ini menghadirkan pemerintahan yang amanah. Bertanggung jawab penuh memenuhi hajat hidup rakyat dan menjadi pelindung dari berbagai ancaman.

Peran negara yang minimalis di negara kapitalis, jelas telah menjadikan negara kehilangan fungsi utamanya sebagai pemelihara urusan rakyat. Negara juga akan kehilangan kemampuannya dalam menjalankan fungsi pemelihara urusan rakyat. Akhinya rakyat dibiarkan berkompetisi secara bebas dalam masyarakat. Realitas adanya orang yang kuat dan yang lemah, yang sehat dan yang cacat, yang tua dan yang muda, dan sebagainya, diabaikan sama sekali. Yang berlaku kemdian adalah hukum rimba, siapa yang kuat dia yang menang dan berhak hidup.

Sementara slogan pemberdayaan perempuan adalah klaim kapitalis dan sebuah ilusi yang diaruskan secara nasional. Melalui penerapan nilai-nilai Kapitalisme dan demokrasi, ilusi ini mendorong para perempuan untuk bekerja agar mereka merasa berharga. Level perempuan ditentukan sesuai dengan nilai kekayaan yang mereka hasilkan. Sejatinya dengan ini mereka telah membebani diri dengan menjadi pencari nafkah sekaligus manajer rumah tangga. Kapitalisme mengobarkan perang terhadap peran keibuan, merampok waktu para ibu bersama anak-anak mereka serta mengorbankan tugas penting mereka sebagai pengasuh dan pendidik generasi masa depan.

Kapitalisme telah memberikan label harga kepada perempuan, menjadikan mereka layaknya budak ekonomi, dan memperlakukan mereka seperti obyek untuk menghasilkan kekayaan. Kapitalisme juga telah membuat para perempuan berjuang sendirian tanpa jaminan finansial; mengemis di jalanan untuk memberi makan diri dan anak-anak mereka. Kapitalisme telah membebaskan para pria dan negara dari tanggung jawab mereka untuk menyediakan pemenuhan kebutuhan keluarga. Kapitalisme telah memanfaatkan bahasa ‘pemberdayaan perempuan’ untuk mengeksploitasi perempuan!

Ini semua adalah ilusi kapitalis yang penuh dengan kebohongan dan penipuan. Semua itu untuk menyembunyikan fakta bahwa sistem ini telah gagal mengatur urusan manusia; gagal dalam menjamin martabat, kesejahteraan dan jaminan finansial bagi perempuan. Ini tidaklah mengherankan karena Allah SWT mengingatkan kita dalam QS an-Nur [24]: 39).

Sistem demokrasi dan kapitalisme melahirkan kebijakan penguasa dan politisi tidak demi rakyat dan mengabaikan aspirasi rakyat. Kebijakan lebih demi kepentingan elit, pemilik modal, dan kapitalis asing. Sungguh beda dengan sistem Islam dengan syariahnya dalam bingkai sistem khilafah islamiyah. Negara dan penguasa berkewajiban memelihara kepentingan rakyat dan menjamin kehidupan rakyat tanpa diskriminasi apapun. Seluruh rakyat berhak dapat pelayanan negara. Sementara kekayaan umum seperti migas, akan tetap jadi milik umum. Negara mengelolanya mewakili rakyat dan seluruh hasilnya dikembalikan kepada rakyat untuk kesejahteraan mereka.

Karena itu, sistem demokrasi dan kapitalisme harus segera dicampakkan. Sebaliknya sistem Islam dengan syariahnya harus segera diterapkan dalam bingkai sistem khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. [VM]

Penulis : Fitriyah (MHTI Bondowoso)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here