Beragam Penjajahan di Indonesia

0

Penjajahan Bidang Kesehatan di Indonesia
Amerika Serikat tidak hanya berhenti dalam bidang Politik dan Ekonomi saja. Bidang kesehatan juga menjadi sasaran empuk. NAMRU adalah buktinya. Disadari atau tidak NAMRU sudah lebih dari 40 tahun bercokol di Indonesia. Mungkin hampir sekitar 99,9 % penduduk Indonesia tidak pernah tahu atau menyadari kehadiran lembaga misterius ini.

Berita tentang NAMRU baru memiliki magnitude besar ketika Menteri Kesehatan kala itu Siti Fadilah Supari mencak-mencak. Pasalnya, dia sempat diharuskan menunggu sekitar 10 menit sebelum diizinkan masuk; ketika mengunjungi laboratorium milik lembaga itu secara mendadak. “Saya disuruh menunggu 10 menit karena tidak melaporkan akan datang, “ ujar Siti Fadilah kepada wartawan. Padahal katanya dengan nada gemas, “Laboratorium mereka kan berada di tanah milik Departemen Kesehatan.

Nama lengkap lembaga ini adalah NAMRU 2 singkatan dari The US Naval Medical Research Unit Two. Dari namanya saja sudah tercium aroma militer. Memang benar, lembaga riset ini berada di bawah otoritas Angkatan Laut Amerika Serikat. Wajar sekali kalau Anda bertanya: kok bisa sih lembaga riset di bawah otoritas militer negara lain beroperasi di wilayah Indonesia ?

Lembaga riset ini beroperasi di Indodesia sejak tahun 1968. Awalnya, Indonesia yang meminta mereka datang untuk meneliti wabah sampar di Jawa Tengah. Ternyara manjur. Berkat rekomendasi NAMRU, wabah sampar yang merajalela berhasil dijinakkan.

Dua tahun kemudian, terjadi wabah malaria di Papua. NAMRU kembali diminta bantuannya. Bahkan kali ini kehadiran mereka dilihat dalam sebuah MOU, ditanda tangani oleh Menteri Kesehatan GA Sieabessy dan Duta Besar AS, Francis Galbraith kala itu. MOU itulah yang menjadi landasan hukum laboratorium di bawah kendali Angkatan Laut AS itu terus bercokol di Indonesia, biar pun selama puluhan tahun tidak ada lagi wabah penyakit menular; dan biar pun tuan rumah tidak lagi membutuhkan bantuannya.

Dalam MOU itu dijelaskan, tujuan kerjasama adalah untuk pencegahan, pengawasan dan diagnosis berbagai penyakit menular di Indonesia. NAMRU diberikan banyak sekali kelonggaran, terutama fasilitas kekebalan diplomatik buat semua stafnya; dan izin untuk memasuki seluruh wilayah Indonesia.

Memang ada klausal dalam MOU itu, setiap 10 tahun kerjasama tersebut dapat ditinjau kembali. Belakangan, Indonesia memang merasa tertipu oleh perjanjian yang “amburadul” itu. Namun semua usaha yang dilakukan untuk mengontrol Namru 2 tidak satu pun berhasil. Buktinya, selama periode tahun 2000-2005, lembaga riset ini tetap beropersi, kendati izinnya sudah habis.

Barulah setelah Menkes menggebrak, keberadaan NAMRU terungkap ke masyarakat luas. Selain melakukan kunjungan mendadak ke laboratorium itu, Menkes juga mengeluarkan kebijakan melarang semua rumah sakit di Indonesia mengirimkan sampel dari ke NAMRU.

Kedatangan Siti Fadilah seperti sejarah yang berulang. Ketika bangsa ini merasa tak berdaya terhadap kekuatan asing, akhirnya kaum perempuanlah yang menggebrak dan melawan. Dulu dipimpin Tjut Njak Dien di masa lalu, waktu itu dipelopori Siti Fadilah.

“Selama ini saya tidak tahu apa-apa yang dilakukan NAMRU, hanya tahu sebagian kecil aktivitas mereka,” tutur Menkes Siti Fadilah Supari kepada Kompas waktu itu. “Selama ini NAMRU jalan sendiri, mereka punya program sendiri. Ke depan mudah-mudahan lebih transparan. Kalau mau kerjasama, MOU harus saling menguntungkan, jelas untuk rakyat.”

Menkes kala itu mengakui, dalam pencegahan wabah flu burung pada tahun 2005 NAMRU yang memperkerjakan 60 peneliti dan staf, cukup berperan. Namun dari seluruh pernyataannya, tersirat betapa gemasnya Menkes karena kekuasaannya sebagai menteri ternyata tidak mempan untuk mengontrol lembaga riset itu. Betapa kedaulatan Indonesia diinjak-injak oleh lembaga milik negara adidaya AS itu.

Penjajahan Bidang Sosial-Budaya
Penjajahan lain yang juga sangat dirasakan kepada Indonesia oleh kapitalisme adalah pada bidang sosial dan budaya. Indonesia yang mengenalkan diri sebagai negara pemilik kekayaan kebudayaan yang sangat banyak kini mulai luntur. Indonesia sudah tidak lagi mempunyai jati diri sebagai negara budaya. Budaya di Indonesia sudah terinfiltrasi oleh budaya asing yang merusak perilaku sosial dari genarasi bangsa.

Dalam pidatonya, George W Bush ketika menjabat sebagai presiden AS pada 20 Januari 2005 mengatakan “When you stand for your liberty, we will stand for you”. Kurang lebih maksudnya adalah AS akan menjadi kawan bagi mereka yang mengedepankan kebebesan. Istilah yang sering kita kenal adalah liberalisme. Baik dalam bidang politik, ekonomi dan yang khusus adalah bidang sosial dan budaya.

Dia juga menegaskan dengan mengatakan “The best hope for peace is the expansion of freedom”. Sehingga sangat jelas bahwa AS, atau ideologi kapitalisme menginkan agar Indonesia khususnya menjadi negara yang liberal. Sehingga bisa kita rasakan kondisi sekarang ini di masyarakat. Budaya hedonisme yang menjadikan kenikmatan dan kebahagiaan sebagai tujuan akhir.

Sikap permisvisme juga menghingkapi kehidupan masyarakat Indonesia. Paham ini adalah paham yang menganggap bahwa kita sebagai manusia berhak tanpa batasan untuk melakukan segala sesuatu. Dengan itu akan melahirkan sikap individualisme pada diri masyarakat. Maka kehancuran mayarakat tinggal menunggu waktunya. Inilah akibat dari tidak dijadikan Islam sebagai pijakan untuk kehidupan bermasyarakat.

Penjajahan Berkedok HAM
Agenda penjajahan lain yang dilancarkan oleh kapitalisme, dalam hal ini adalah AS khusunya adalah penjajahan yang berkedok HAM. Dengan menggunakan HAM, korporasi multinasional tersebut melancarkan isu berkeinginan membantu beberapa negara berkembang. Membantu dalam menyelesaikan problem pengelolaan sumber daya alam yang selama ini belum optimal. Tetapi kenyataannya, hal ini hanya merupakan kedok semata untuk bisa merampok kekayaan alam yang ada pada sebuah negara.

Korporasi multinasional (MNCs) ini akhirnya merampok kekayaan SDA di wilayah negara-negara berkembang. Adanya eksploitasi SDA yang rakus, membawa dampak pada pemiskinan dan penderitaan global rakyat kecil. Ujung-ujungnya kekayaan berkumpul hanya pada segelintir orang saja. Contoh yang sangat nyata terjadi di negeri Indonesia ini, dimana beberapa korporasi asing telah menjarah, menguasai, mengeksploitasi kekayaan alam. Sedangkan negeri Indonesia ditelantarkan dalam kondisi yang serba kekurangan. Sungguh sangat ironis. [VM]

Penulis : Luthfi Sarif Hidayat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here