Bagaimana Tharîqah dan Uslûb Meraih Kekuasaan untuk Menegakkan Islam?

0

Soal:
Menjelang Pemilu/Pilkada banyak pihak berdalih dengan berbagai dalil agar kaum Muslim menggunakan hak pilihnya demi memenangkan calon tertentu. Yang mereka jadikan dalil antara lain: kasus Nabi Yusuf menjadi menteri di Mesir, diamnya Nabi saw. terhadap Najasyi dan Tufail bin ‘Amru ad-Dausi saat menjadi pemimpin kaumnya, sementara mereka tidak menerapkan Islam; hilf al-fudhûl, dan lain-lain. Bagaimana tanggapan Ustadz?

Jawab:
Pertama: Islam adalah agama, sekaligus ideologi. Islam tidak hanya mengajarkan ritual, spiritual dan akhlak, tetapi juga mengajarkan sistem yang mengatur kehidupan manusia; mulai dari sistem pemerintahan, ekonomi, sosial, pendidikan, politik dalam dan luar negeri, sanksi hukum dan sebagainya. Islam juga tidak hanya menjelaskan semuanya tadi sebagai konsepsi kehidupan (majmû’ al-mafâhîm ‘an al-hayât), tetapi juga bagaimana semuanya itu diterapkan, dipertahankan dan diemban. Karena itu Islam tidak hanya menjelaskan fikrah (ide), tetapi juga tharîqah (metode).

Kedua: Diakui atau tidak, pemahaman tentang tharîqah ini telah lama hilang dari umat Islam, termasuk para ulamanya, kecuali mereka yang mendapatkan rahmat dari Allah SWT. Karena itu mereka tidak paham, mana hukum yang merupakan tharîqah dan mana yang tidak? Pasalnya, mereka tidak mempunyai standar tentang tharîqah itu seperti apa.
Akibatnya, mereka menggunakan demokrasi sebagai tharîqah dalam meraih kekuasaan. Padahal demokrasi merupakan sistem kufur. Mereka juga tidak bisa membedakan uslûb (yang bersifat teknikal dan bisa berubah, red.) dengan tharîqah (yang bersifat baku dan tidak bisa diubah, red.). Akibatnya, dengan berbagai dalih, mereka mengubah hukum Pemilu yang “mubah”, bahkan “haram”, menjadi wajib untuk kepentingan mereka.

Di sisi lain, ada juga yang menggunakan doa sebagai tharîqah. Padahal doa bukan merupakan hukum tharîqah. Ada juga yang menggunakan jihad sebagai tharîqah untuk meraih kekuasaan. Jihad memang hukum Islam dan termasuk tharîqah, tetapi bukan tharîqah untuk meraih kekuasaan. Nah, semuanya ini membuktikan, bahwa pemahaman umat, termasuk para ulamanya, tentang tharîqah ini telah hilang.

Karena itu penting dijelaskan tentang apa itu tharîqah, juga apa bedanya tharîqah dengan uslûb? Al-‘Allamah al-Qadhi Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, dalam kitabnya, Mafâhîm Hizb at-Tahrîr, telah menjelaskan tharîqah dan uslûb sebagai berikut:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here