Yuk Selamatkan Generasi

0
Oleh : Binti Istiqomah 
(Tim Muslimah Voice)
Dijadikan indah pada pandangan (manusia) kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga). [QS.Ali Imran:14].
Anak adalah karunia terindah dari Allah SWT bagi sebuah keluarga. Tanpa adanya seorang anak, sebuah keluarga bisa jadi terasa hampa. Meskipun diluar terlihat baik-baik saja, namun akan selalu ada kerinduan yang dirasa. Anak juga merupakan salah satu perhiasan dunia. Yang mana keberadaannya akan senantiasa dijaga oleh orang tua. Bagaimanapun caranya. Apapun pengorbanannya. Niscaya, semua upaya akan dilakukan demi kebahagiaan buah hati tercinta. 
Begitu pula sebaliknya, berbakti kepada kedua orang tua, sayang terhadap sesama, cinta kepada agama dan negara. Tidak hanya senantiasa haus akan ilmu, namun juga santun dalam perilaku dan tutur bahasa, adalah gambaran dari anak-anak sholeh dan sholehah penyejuk  mata. Generasi penerus peradaban yang senantiasa didamba. Diharapkan doanya. Dinantikan perjuangannya. 
Namun apalah jadinya jika hari ini, hal itu seolah hanya angan semata. Anak yang canda tawanya konon bisa mengusir lelah, yang doanya termasuk dalam amalan yang tidak terputus pahalanya, justru menjadi ujian bagi sebuah keluarga. Pribadinya tumbuh menjadi sosok yang tidak terarah. Jauh dari harapan dan selalu menimbulkan keluh kesah. 
Seperti lima orang anak yang juga siswa sekolah dasar di Samarinda. Mereka nekat berpesta miras di dalam kelas. Anak-anak berinisial Ys (13), Ds (12), Yr (12), Fi (12) dan Dn (15), menenggak miras jenis anggur dan oplosan alkohol 70 persen serta minuman berenergi, disela-sela pelajaran saat guru lengah. Sesekali anak-anak ini mencampur mirasnya dengan obat sakit kepala. Akibat pengaruh miras, tindakan mereka pun menjadi tak terkendali. Kerap berulah ketika ditegur, bahkan berani menantang guru untuk berduel (www.jpnn.com 11/12/16)
Jika anda sebagai orang tua membaca fakta di atas, tentu dalam benak akan timbul banyak pertanyaan. Kenapa hal itu bisa terjadi? Tidakkah anak tersebut diajarkan budi pekerti? Dan, siapa yang patut disalahkan dalam hal ini? Orang tua dan sekolah kah yang tidak bisa mendidik? Atau memang anaknya kah yang tidak bisa dididik? 
Paham Akar Masalah
Tak bisa dipungkiri, fakta saat ini menunjukkan keberadaan miras terutama jenis oplosan masih sering dijumpai. Hal tersebut tentu meresahkan masyarakat mengingat dampak yang ditimbulkan juga tidak main-main. Mudahnya untuk mendapatkan bahan-bahan pembuat miras oplosan, menjadikan barang haram ini tak henti-hentinya beredar. Hari ini disita, besoknya kembali tumbuh merajalela. Seolah tak ada habisnya. Begitu kuatnya contoh perilaku konsumsi miras, dari mulai dewasa hingga remaja bahkan sekarang merambah ke usia belia, seolah menjadi potret buram tidak hanya bagi pelakunya namun juga bagi masyarakat yang ada di sekitarnya. Sungguh sesuatu yang sangat memilukan.
Semua itu adalah buah dari sistem liberal yang menjadikan kebebasan sebagai landasan utama. Dimana atas nama kebebasan, manusia berhak melakukan apa saja. Baik dan buruk akibatnya pun tak lagi menjadi soal. Asal hati senang, apapun dilakukan. Ibaratnya, peduli amat yang lain nggak suka, yang penting gue mah heppy aja. 
Selain itu, tidak adanya regulasi pemerintah yang tegas untuk menutup pintu produksi dan peredaran miras, membuat produksi minuman ini banjir deras. Dengan dalih dapat mengganggu sektor perekonomian negara, bahkan uu pelarangan miras hampir saja terkena pencabutan. Lagi-lagi kapitalisme yang berkuasa. Dimana materi yang menjadi fokus utama. Demi memenuhi kepentingan para pemilik modal yang terus mencari keuntungan. Alih-alih mendapat pengayoman, yang ada justru kesejahteraan rakyat tergadaikan. Padahal jika ditelusuri sebagian besar penyebab terjadinya pencurian, pelecehan seksual, hingga pembunuhan adalah akibat pengaruh miras. Namun, untuk kepuasan segelintir orang, pemerintah seolah menutup mata dari banyaknya dampak negative yang dirasa semakin menyesakkan dada. 
Hal lain yang perlu kita perhatikan adalah ketika siswa sekolah dasar sudah berani melakukan pesta miras, itu menunjukkan betapa lemahnya penanaman pendidikan nilai dalam sebuah keluarga. Keluarga yang merupakan sekolah pertama untuk sang anak, seharusnya banyak memberikan contoh keteladanan. Namun, anak yang pada umumnya lebih membutuhkan buaian, hari ini justru lebih sering dipertontonkan pertengkaran. Sehingga anak pun trauma dan merasa ketakutan. Disisi lain sang ibu yang juga terpaksa bekerja akibat himpitan ekonomi, tak lagi maksimal dalam mengurus sang buah hati. Akibatnya, karena merasa kurang mendapat perhatian, sang anak yang sejatinya sedang mencari identitas diri justru melampiaskan pada hal-hal yang merusak pribadi.
Yang juga tak kalah penting adalah makin liberalnya penanaman nilai dalam kurikulum sekolah. Dimana saat ini anak-anak sedikit sekali atau bahkan tidak mendapat pengajaran soal akidah. Padahal itu sangat penting untuk membentuk kepribadian seseorang. Ketika akidah tidak tertanam, rusaklah tatanan kehidupan. Anak tidak lagi memikirkan darimana dia berasal, dan apa tujuan hidupnya. Jadi untuk menjalani kehidupan pun tak lagi mengindahkan soal halal haram. Apa yang mereka lihat, asal memberi kesenangan meski sesaat, itu yang mereka tirukan. Walhasil, seperti kebanyakan anak sekarang. Mereka jauh dari islam, namun lebih dekat dengan dunia hiburan dan tawuran. Sangat disayangkan.
Berjuang untuk Sebuah Solusi
Tentu kita semua sama-sama lelah, karena setiap hari selalu saja dihadapkan dengan berbagai masalah. Tapi itulah kenyataan hari ini, tidak hanya di negeri ini. Dengan begitu banyaknya persoalan, sudah seharusnya kita berlomba untuk mencari solusi terbaik yang bisa mengubah keadaan. Jangan karena alasan bukan urusannya, lantas menghindar dan tidak mau ikut-ikutan. Atau malah ngeyel dengan solusi yang ditawarkan. Ini bukan soal urusan siapa, tapi bagaimana bisa bersama-sama menyelesaikannya. Karena cepat atau lambat, semua akan terkena dampaknya.
Ketika sebuah keluarga atau lingkungan masyarakat saja tak cukup bisa menjadi benteng pertahanan, maka wajib bagi negara untuk kemudian turun tangan. Negara merupakan pilar terpenting yang memiliki segala macam kebijakan, untuk itu sudah seharusnya negara menerapkan islam sebagai aturan. Kenapa mesti islam? Karena islam memiliki aturan terlengkap untuk solusi berbagai bentuk permasalahan. Mulai dari hal ibadah, sosial, ekonomi, pendidikan, hukum maupun pemerintahan. Semua telah dikupas tuntas dalam islam.
Ketika solusi hakiki sudah ditemukan, masihkah kita enggan melaksanakan? Lalu sampai kapan? Yuk kita pikirkan dari sekarang. Semoga kita tidak tergolong sebagai orang-orang yang menolak kebenaran. Karenanya mari kita samakan niat dalam satu perjuangan. Yakni tegakkan islam. [VM]
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here