Topengmu Tersingkap, Erdogan!

0
Oleh : Umar Syarifudin 
(Pengamat Politik Internasional)
Presiden Recep Tayyip Erdogan dikategorikan menjadi Person of the Year 2016. Hal itu terungkap berdasarkan survei yang digelar oleh Aljazirah Arabic pada Sabtu lalu lalu. Menurut situs itu, sekitar 130 ribu orang ikut dalam survei yang digelar media berbasis di Doha, Qatar tersebut.  Dari jumlah itu, Erdogan meraih 40 persen suara.
Catatan
Erdogan pernah menjelaskan bahwa “Turki telah menjadi negara hukum demokratis sosial sekuler, meskipun semua kesulitan telah dihadapi di masa lalu. Oleh karena itu, saya kembali mengatakan bahwa Turki tidak dapat dihentikan dari melanjutkan perjuangannya di bidang demokrasi dan hak asasi manusia, dan Turki tidak akan mundur dari sekulerisme yang menjamin kebebasan beragama bagi warganya.”
Erdogan mengumumkan bahwa pintu partainya terbuka untuk menyambut keinginan siapapun, namun partai Keadilan dan Pembangunan Turki bukanlah partai Islam. “Partai kami tidak pernah menjadi partai Islam, sebab tidak mungkin melakukan hal yang kurang memberikan rasa hormat terhadap agama kami seperti ini. Partai ini juga tidak mungkin berupa partai agama,” ujarnya. 
Dia menambahkan, “Partai kami adalah sebuah partai konservatif dan demokratis. Bahkan kami bertekad untuk terus mempertahankan identitas ini.” Erdogan menolak mentah-mentah sebutan Utsmaniyin baru atas politik luar negeri Turki. Dia mengatakan bahwa “tidak dapat diterima pendekatan semacam itu.”(al-aqsa.org, 15/12/2009). Erdogan menolak mentah-mentah sebutan Utsmaniyin baru atas politik luar negeri Turki. Dia mengatakan bahwa “tidak dapat diterima pendekatan semacam itu.”
Erdogan sendiri berkali-kali menegaskan mendukung sekulerisme Turki dan tidak akan kembali kepada Khilafah Islam. Saat berbicara dengan anggota Partai Keadilan dan Pembangunan Turki (17/4/2007), Erdogan menyatakan sikapnya mempertahankan sekulerisme Turki. “Demokrasi, sekularisme, dan kekuasaan negara yang diatur oleh undang-undang, adalah prinsip utama dalam sebuah negara republik. Jika ada salah satunya yang hilang, maka pilar bangunan negara akan runtuh. Tidak ada kelompok manapun yang meresahkan pilar-pilar itu. Dengan keinginan masyarakat, maka pilar-pilar itu akan hidup selamanya. ”
Sejauh ini Erdogan sedang menunggu lampu hijau dari Amerika untuk melakukan apapun yang Amerika katakan. Erdogan, Turki dan partainya berjalan melalui pendekatan yang sama, dan bekerja untuk menguatkan sekulerisme dan demokrasi di Turki. Padahal semua tahu bahwa sekulerisme di Turki sebelum berkuasanya Erdogan dipandang sebagai pemikiran kufur, dan sekarang sekulerisme dipandang sejalan dengan Islam. 
Keberadaan pemerintahan Erdogan di bawah hegemoni AS tampak dalam Shared Vision Document (Dokumen Visi Bersama) yang ditandatangani antara pemerintah Turki dan Amerika oleh Abdullah Gul dan Condoleezza Rice pada tanggal 5 Juli, 2006. Dokumen ini membuktikan bahwa global manuver Turki tidaklah Islam atau independen, tetapi untuk melayani kepentingan Amerika Serikat. Politik ‘geo-strategis’ Turki tidaklah independen. Turki telah dimanfaatkan Barat untuk mencegah pengaruh Rusia. Turki menganjurkan adanya proyek-proyek energi Eropa, seperti Nabucco, yang menghindari jaringan Rusia. Manuver politik Partai AKP juga tidak bisa dilepaskan dari kepentingan Amerika Serikat di kawasan itu, terutama menggeser pengaruh Inggris dalam angkatan bersenjatan Turki. 
Siapapun yang memperhatikan sikap Presiden Turki ini, maka ia menemukan kenyataan  Presiden Turki ini tidak berbeda dari para penguasa Muslim lainnya dalam hal ketundukannya pada Barat, serta pengkhianatannya terhadap umat Islam dan berbagai masalahnya. Namun ada beberapa kaum Muslim yang tidak sadar di antara mereka yang mencintai Islam yang tertipu oleh Erdogan dan partainya yang mengusung slogan-slogan Islam.
Terhadap masalah Suriah, jelas Erdogan telah masuk dalam solusi politik di Suriah berdasarkan road map Amerika. Turki akan berjalan sesuai rencana Amerika ini dengan Iran dan Rusia. Banyak harapan masyarakat bergantung pada Erdogan untuk menolong rakyat Suriah, Erdogan akhirnya campur tangan juga, namun itu tidak untuk menolong kaum Muslim di Suriah, melainkan untuk membantu Amerika dalam rangka menggagalkan revolusi rakyat Suriah yang diberkati, dan untuk memperkokoh rezim Bashar yang berlumuran kejahatan. Sesungguhnya sikap Turki ini menegaskan bahwa pemerintah Erdogan sangat loyal terhadap musuh umat Islam dalam praktek dan di lapangan.
Di dalam negerinya, Erdogan ingin mau semua gerakan ikut dengan apa dia inginkan, mendukung sekularisme dan demokrasi. Pada akhirnya hanya satu gerakan saja yang tidak ikut dengan apa Erdogan inginkan. Erdogan tidak mengingkan lagi ada kelompok-kelompok yang menuntut Khilafah Islamiyah. Itulah mengapa Erdogan memusuhi Hizbut Tahrir.
Sikap memalukan yang diperlihatkan oleh pemerintah Erdogan ini harus menjadi obyek penentuan sikap bagi para ulama kaum Muslim dan gerakan-gerakan yang selama ini mempromosikan Erdogan dan partai sekulernya yang bersembunyi di balik topeng Islam. Sehingga dengan semua kejahatan yang begitu telanjang ini, masihkah mereka bisa diharapkan? Tentu tidak. [VM]
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here