Refleksi Perubahan Hari Ini, Esok…

0

Oleh: Aziz Rohman 

(Syabab HTI Jombang)
Tahun 2016 kini sedang berjalan meluncur menuju tangga penghabisan. Lembaran tahun baru 2017 pun bersiap mendatangi kita. Entah, bagaimanakah sikap umat islam khususnya di Indonesia di dalam menyambut tahun yang baru ini. Namun, seperti yang sudah-sudah biasanya kita bukan bersedih tapi ikut bersuka cita merayakan hadirnya tahun yang baru. Tahun baru bisa bermakna semangat baru namun juga bisa bermakna bencana berkelanjutan. Bagaimana tidak, semenjak 3 Maret 1924 saat Mustafa Kamal mendeklarasikan penghapusan Sistem Khilafah. Semenjak itulah dunia islam diliputi kabut awan hitam kegelapan. Begitu gelap kabut itu sampai-sampai sejak saat itu tidak ada satu pun institusi negara yang berani terang-terangan membela harkat dan martabat kaum muslimin. Yang kemudian satu-persatu anak-anak kaum muslimin di jejali busuknya paham demokrasi. Yang membuat mereka terlena hingga kehilangan akan jati dirinya sebagai umat yang terbaik.
Tahun 2017 akan datang. Pertanyaannya, apakah demokrasi akan tercabut dalam benak kaum muslimin di tahun tersebut? Mengingat, paham ini sukses dipasarkan oleh barat untuk memecah belah persatuan umat islam dan paham ini juga yang selama ini menghalangi kita agar bisa menyatukan diri sebagai ummatan wahidan dalam satu institusi negara.
Sudah sekian lama sistem demokrasi sekuler di terapkan di negeri-negeri  kaum muslimin. Hingga membuat umat islam makin hari semakin lupa akan identitas dirinya. Mereka melupakan bahwa sesungguhnya seluruh aktivitas kehidupannya semata-mata adalah hanya untuk ketaatan kepada Allah SWT saja. Mereka lupa, bahwa Allah senantiasa mengawasinya dimanapun ia berada. Bukan pada saat sedang melakukan aktivitas ubudiah semata. Bahkan mereka lupa jika mereka memiliki kewajiban untuk menolong saudaranya yang jauh disana.
Karena demokrasi telah mengajarkan kepada mereka tentang arti kebebasan. Hingga membuat mereka merasa bebas sebebas-bebasnya. Sampai-sampai mereka melepaskan segala ikatan-ikatannya dengan Sang Khaliq hingga melawan kehendakNya di dalam membuat aturan-aturan kehidupan. Meski begitu, mereka masih menyadari hakikat keberadaan Allah. Namun sayang, di waktu yang lain Al Khaliq seolah dicampakkan begitu saja.  Sehingga saat kita menyadari hakekat tentang kehidupan ini maka penting bagi kita untuk bisa menata kembali keimanan kita. Menata kembali posisi kita sebagai seorang hamba. Sebagai seorang hamba yang senantiasa bertaqwa di semua lini kehidupan bukan hanya saat beribadah saja. Tetapi juga saat kita berinteraksi dengan sesama insan. Baik di bidang muamalah sosial, politik, ekonomi dsb.
Waktu
Ada yang bilang waktu sangat berharga dibandingkan emas. Ada yang bilang waktu adalah uang. Juga ada ungkapan bahwa waktu adalah pedang yang setiap saat bisa membunuh diri kita. Namun yang jelas, waktu adalah rangkaian untaian nafas yahng setiap saat bisa saja berhenti dan modal kita dalam hidup ini adalah umur. Dimana umur kita akan senantiasa bertambah saat bergantian tahun. Bertambahnya umur berarti semakin berkurang modal kita dalam menjalani hidup ini. Semakin bertambah umur maka akan semakin mendekatkan kita di penghujung usia. Luar biasanya waktu ini menipu kita hingga banyak diantara kita terlena karenanya. Sampai-sampai Rasulullah mengingatkan kepada kita bahwa ada dua kenikmatan yang terkadang membuat kita tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.
Sehingga, di penghujung tahun 2016 ini penting bagi kita untuk memahami kembali siapa kawan dan siapa lawan kita. Sehingga, kita bisa memposisikan mereka di posisinya dengan tepat. Manakah kawan yang perlu diingatkan dan manakah lawan yang perlu di lawan. Mana pemahaman yang merusak dan mana yang harus disampaikan agar umat Muhammad ini tidak senantiasa berada di posisi terhina.
Cukuplah Allah mengingatkan kita di dalam QS. Al Ashr: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
Peran Sentral Juru Dakwah
Tatkala seseorang telah memahami akidah sebagai asas dalam berfikir dan menjadikan islam sebagai sebuah mabda/ideologi baginya. Maka, di dalam setiap aktivitasnya ia akan menggambarkan apa yang ia pahami hingga membuatnya menjadi seseorang yang merefleksikan apa yang telah dia pahami, setiap aktivitasnya akan mencerminkan pemahaman yang ia miliki. Sebab, tatkala mabda islam telah ia internalisasikan di dalam dirinya. Ia tidak akan mampu untuk hanya sekedar menyimpannya secara pribadi saja. Tetapi, mabda islam itu akan senantiasa mendorongnya agar di dakwahkan kepada yang lain. Setiap aktivitasnya akan mencerminkan mabda islam itu sendiri. Seluruh kegiatannya akan berjalan sesuai dengan manhaj dan batasan-batasan yang mengikatnya. Dan sang pengemban misi ini hanya akan mendedikasikan hidupnya demi mabda yang ia yakini, mabda islam. Demi dakwah kepada ideologi islam dan menunaikan apa yang telah diperintahkan Allah kepadanya. Dakwah ini bertujuan untuk menuntun umat manusia agar meyakini islam sebagai sebuah mabda. Dan untuk mewujudkan kesadaran umum terhadap mabda islam.
Bukankah kita menginginkan sebuah kehidupan yang aman, sejahterah serta di ridhai Allah SWT. Namun, di alam demokrasi yang penuh dengan tipuan ini sang juru dakwah tidak boleh terbuai oleh godaan-godaan dunia yang datang menghampiri. Sebab jika ia tergoda sedikit saja maka misinya akan segera berakhir. Jika ia tidak bersungguh-sungguh dalam menunaikan tugasnya berarti saat tahun berganti maka penderitaan umat akan semakin panjang. Satu-satunya yang bisa menghentikan penderitaan ini ialah diterapkannya islam sebagai sebuah sistem kehidupan secara kaffah. Namun, tatkala sang juru dakwah berleha-leha maka apa yang dia impikan tak lebih daripada pungguk yang merindukan bulan. 
Dimanakah Posisi Kita
Kita sering mendeklarasikan diri sebagai juru dakwah, sebagai pendakwah mabda islam. Namun, apakah benar kita telah menginternalisasikan mabda ini di dalam diri kita? Atau kita hanya sekedar mengikuti uforia sesaat sebab kecenderungan saat ini orang sedang berbondong-bondong kembali kepada islam. Lantas jika kita hanya mengaku-ngaku sebagai juru dakwah dan belum bisa menampilkan mabda islam di dalam kehidupan kita. Apakah layak kita di beri oleh Allah sebuah pertolongan? Apakah cukup bagi kita hanya menjadi bagian dari jama’ah dakwah tanpa bisa mewarnai apa yang ada di dalamnya? 
Waktu akan selalu terus berputar dan tahunpun akan terus silih berganti. Namun, jika hal ini hanya berputar begitu saja tanpa kita bisa berbuat lebih bagi agama ini maka, penderitaan kaum muslimin akan senantiasa terus berkepanjangan.
Saat demokrasi bersama teman-temannya: nasionalisme, liberalisme, kapitalisme serta pemikiran-pemikiran kufur yang lain masih tertancap kuat dibenak umat. Maka, akan sulit bagi kita untuk segera bersatu dan bangkit menjadi umat terbaik. Sulit bagi kita untuk menunjukkan kepada dunia bahwa, kitalah umat yang terbaik, yang berhak menjadi pemimpin dunia.
Sekarang tergantung kita. Kita awali tahun yang berganti ini sebagai tonggak melangkah lebih baik atau dengan sikap yang lain. Namun, sudah jelas bahwa manusia yang rugi adalah mereka yang hari ini lebih buruk dari kemarin. Wallahu’alam bish shawab. [VM] 
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here