Anda Pun Ikut Bertanggungjawab… Pak JK

0
Oleh : Ainun Dawaun Nufus (Pengamat Sosial-Politik)
“Masyarakat internasional harus berkerja sama lebih erat guna mengatasi berbagai tragedi kemanusiaan yang dialami para migran,” ujar Wapres Jusuf Kalla di hadapan para pemimpin dari 193 negara anggota PBB dalam rangka Pertemuan Tingkat Tinggi Majelis Umum untuk Penanganan Pengungsi dan Migran, yang mengawali rangakain sidang tahunan Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat, pada Senin (19/9).
Wapres Jusuf Kalla menekankan pentingnya kerja sama internasional berdasarkan prinsip berbagi beban (burden-sharing) dan berbagi tanggung jawab (shared-responsibility). Dia menilai prinsip tersebut sebagai salah satu kunci penyelesaian isu migrasi, mengingat tidak ada satu pun negara yang dapat menangani sendiri masalah pengungsi. (republika.co.id 20/9/16)
Bulan lalu, Wilders mendesak Muslim untuk meninggalkan Islam, dan meminta mereka untuk mengadopsi kebebasan. Wilders menulis bahwa “Islam adalah pemikiran otoriter sedang kaum Muslim adalah korbannya, bayangkan saja bahwa Anda adalah gay dalam sebuah keluarga Muslim, bayangkan saja bahwa Anda adalah seorang gadis Muslimah yang ingin menikah dengan seorang non-Muslim, bayangkan bahwa Anda adalah seorang Muslim dan Anda ingin beralih ke agama Kristen atau agama lain, atau ingin menjadi seorang ateis, sungguh itu adalah kepentingan peradaban barat, bahkan juga kepentingan umat Islam sendiri adalah harus mendorong umat Islam agar meninggalkan Islam dan menjadi Kristen, atheis atau lainnya yang serupa dengan itu. Sehingga akan menjadi lebih baik jika umat Islam membebaskan diri dari Islam dan dari belenggu Muhammad.”
Kita telah banyak melihat potret menggambarkan kondisi mengerikan kamp pengungsian Rohingya yang terhalang mendapat bantuan, akibat dipersulit oleh pemerintah Myanmar. Kamp pengungsian telah berubah menjadi layaknya kamp konsentrasi bagi mereka.
50 persen dari 1.5 juta penduduk Gaza berumur kurang dari 15 tahun. Kini, sebanyak 400 ribu warga Gaza termasuk anak-anak, sebagian besar di Gaza City, tak memiliki akses air. Dua sumur utama yang pipanya tersambung ke kamp Al-Nuseirat dan Gaza City, kini hancur dan tak bisa digunakan lagi.
Dunia tahu benar bahwa Muslim Suriah melarikan diri dari penganiayaan yang paling mengerikan oleh rezim tiran Assad dan mengungsi di wilayah-wilayah terdekat. Namun, bukannya mendapatkan harapan dan ketenangan, mereka disambut oleh kesulitan dan penderitaan, dan ditempatkan di kamp-kamp penuh jebakan kematian yang bahkan lebih berbahaya bagi kesejahteraan mereka dibandingkan dengan keadaan yang mereka tinggalkan sebelumnya, Hal ini bagaikan pepatah ‘keluar mulut harimau masuk mulut buaya’. Para pemimpin di wilayah ini tidak menunjukkan political will dalam memenuhi kebutuhan Muslim Suriah.
Konsep nasionalisme yang korosif ini telah mendehumanisasi umat Islam dari negara lain, melahirkan rasisme terhadap pengungsi Suriah, dan bertanggung jawab atas kefanatikan dan diskriminasi yang diderita oleh imigran Turki dan Muslim setiap harinya di Jerman dan di banyak negara-negara nasionalistik lain di Barat.
Muslimah Hizbut Tahrir menuntut tanggung jawab setiap penguasa Muslim karena gagal melindungi nyawa Muslim Suriah dan gagal memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi. Kami menuntut tanggung jawab seluruh pemerintah boneka Barat ini: Yordania, Arab Saudi, Turki, dan Iran, yang telah terlibat dalam menyebabkan meluasnya malapetaka kemanusiaan ini. Dalam pandangan kami, tangan mereka semua berlumuran darah.
Kalaupun bicara nasib buruh migran, tak dipungkiri kalangan perempuan adalah korban dari dua pihak yakni mandulnya pemerintahan yang gagal mensejahterakan mereka dan sistem kapitalis beracun yang hanya berpihak pada segelintir orang yang memiliki kekayaan dan membiarkan rakyat banyak dalam kondisi lapar diliputi oleh kemiskinan. Inilah yang memaksa jutaan perempuan di Indonesia, Bangladesh, Pakistan dan seluruh kawasan dunia Islam lainnya harus meninggalkan rumah dan anak-anak mereka ribuan kilometer, demi mendapat pekerjaan, dan bekerja layaknya budak untuk menyambung hidup menafkahi keluarganya.
Ironisnya, Indonesia seringkali membanggakan pendapatan jutaan dolar yang berasal dari buruh migran perempuannya, dan mengklaim bahwa ini akan berkontribusi positif pada pertumbuhan ekonomi negara, meskipun pada faktanya pendapatan jutaan dolar ini dinodai dan dilahirkan dari perbudakan ekonomi dan kekerasan terhadap kaum perempuannya. Hal ini juga mencerminkan bagaimana watak asli Kapitalisme yang memandang segala sesuatu hanya sebagai masalah permintaan dan penawaran, dan bagaimana memperoleh keuntungan sebagai tujuan utama masyarakat, mendehumanisasi perempuan dan laki-laki menjadi sekedar komoditi ekonomi yang membawa keuntungan bagi negaranya, tanpa peduli derita kemanusiaan yang terjadi pada rakyatnya.
Sangat kontras dengan Kapitalisme, Islam tidak memandang perempuan sebagai komoditi ekonomi, melainkan sebagai manusia yang harus dilindungi dan selalu difasilitasi secara finansial oleh kerabat laki-laki mereka ataupun oleh negara sehingga mereka bisa memenuhi peran vital mereka sebagai istri dan ibu, sementara di saat yang sama Islam juga mengijinkan perempuan untuk mencari pekerjaan jika mereka menginginkannya. Namun perempuan harus berada dalam kondisi terbebas dari tekanan ekonomi dan sosial dalam bekerja, sehingga tanggung jawab rumah mereka tidak terganggu. Kaum perempuan juga harus terbebas dari kondisi yang menindas mereka berperan ganda sebagai pencari nafkah sekaligus pengurus rumah tangga untuk keluarga mereka. [VM]
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here