Pencurian Organ Marak Dilakukan Para Dokter Budha Myanmar Terhadap Minoritas Muslim Rohingya

0
Para dokter Budha di rumah sakit milik pemerintah pusat Myanmar
mengambil isi perut anak minoritas Muslim Rohingya, lalu menyerahkan
kepada keluarganya, sementara pada tubuhnya ada bekas sayatan dari leher
ke pusar yang dijahit dengan cara primitif. Kasus ini menunjukkan bahwa
“pencurian organ” yang menimpa warga minoritas Muslim masih berulang. 

Korban Pencurian Organ
Semua ini menghapus keraguan bahwa para dokter dengan sengaja
membunuh seorang anak, dan memanfaatkan organ tubuhnya, apalagi ini
merupakan salah satu dari puluhan kasus, di mana pada perut pasien
minoritas Muslim Rohingya ditemukan ada bekas sayatan.
Keluarga korban mengatakan pada wartawan kantor berita Arakan bahwa
mereka membawa anaknya ke rumah sakit “Akiab” di ibukota negara bagian
Arakan beberapa hari yang lalu untuk pengobatan masalah pencernaan yang
dideritanya, tetapi pada Senin kemarin (1/12) mereka terkejut dengan
kematian putranya dan diambil organnya di rumah sakit dengan cara
brutal, kata mereka dengan ekspresi kekecewaan.
Wartawan tersebut mengatakan bahwa anak yang menjadi korban pencurian
organ berusia sepuluh tahun. Ia tinggal bersama keluarganya di
kamp-kamp untuk pengungsi Rohingya di kota Akiab. Keluarganya terpaksa
membawa ke rumah sakit pemerintah di sana untuk pengobatan atas gangguan
pencernaan dan masalah proses buang air besar, sebelum mereka
menemukannya meninggal dan telah diambil organ dalamnya, seperti ginjal,
hati dan lainnya.
Meskipun undang-undang internasional mengkriminalisasi perdagangan
organ tubuh manusia, namun minoritas Muslim Rohingya di negara bagian
Arakan, dalam dua bulan terakhir sering menyaksikan kasus ini. Sehingga
ini menunjukkan pada realita suburnya perdagangan manusia dalam berbagai
bentuknya secara luas di negara bagian Arakan.
Sementara itu, direktur sektor hak asasi manusia Global Rohingya
Center (GRC), dr. Thahir Muhammad al-Arakani mengatakan bahwa protokol
PBB terkait perdagangan manusia menyatakan untuk mengkriminalisasi semua
bentuk praktek perdagangan, eksploitasi atau pengambilan organ tubuh
dan lainnya, namun “kasus perdagangan manusia ini begitu marak dan subur
di negara bagian Arakan, yang korbannya adalah kaum Muslim Rohingya.”
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menilai bahwa kaum Muslim Rohingya
adalah minoritas yang paling teraniaya di dunia, yang pada tahun lalu
mereka menghadapi tindak kekerasan yang dilakukan oleh para ekstremis
dari pengikut agama Buddha di Myanmar, sehingga mendorong mereka untuk
melarikan diri ke negara tetangga, seperti Bangladesh, dan beberapa
daerah di Thailand, serta ke Australia. [visimuslim.com]
Sumber :  aljazeera.net, 2/12/2014
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here