Bawang Putih dan Inflasi - Visi Muslim Media

Artikel Terbaru

 photo Master Mitra Jasa Teknik_zpsc7ntdbto.png

Bawang Putih dan Inflasi


Kondisi kekinian Indonesia semakin semrawut. Di tengah isu kriminalisasi ulama, ormas Islam dan aktivis Islam, rakyat semakin terbebani dengan naiknya harga-harga. Harga bawang putih dipasaran melonjak tajam. Disinyalir ada pihak-pihak yang mau mengambil keuntungan besar dengan melakukan penimbunan. 

Setelah pengecekan yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian dan Badan Reserse Kriminal Polri pada sebuah gudang di Merunda, Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (17/5/2017), ternyata diketemukan gudang penimbunan bawang putih.  

Menurut Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, bawang putih  yang ditimbun mencapai 182 ton. Penggerebekan yang dilakukan Kementan dan kepolisian tersebut tersebut dilakukan seiring dengan lonjakan kenaikan bahan pangan, di antaranya bawah putih di pasaran.

Kenaikan harga-harga di pasaran turut berkontribusi terjadinya inflasi di dalam negeri. Beberapa komoditas yang diperkirakan turut memberi andil pada inflasi adalah bawang putih, daging ayam dan telur ayam serta tarif listrik. 

Menurut Pengamat Ekonomi Bhima Yudistira, inflasi meningkat signifikan di bulan Ramadhan. Inflasi pada Juni naik hingga 0,67 persen month to month (mtm) dibandingkan periode Mei.

Masih menurut Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira, puncak inflasi 2017 terjadi pada bulan Juni. Tingginya angka inflasi akan bias menggerus daya beli masyarakat. Alhasil, pertumbuhan konsumsi rumah tangga tidak bisa mendongkrak perekonomian.

Inflasi diartikan sebagai kemerosotan nilai uang (kertas) karena banyaknya dan cepatnya uang (kertas) beredar sehingga menyebabkan naiknya harga barang-barang (KBBI). 

Menurut Teori Keynesian, -teori yang didasarkan pada pendapat seorang ekonom Inggris yang hidup antara tahun 1883 sampai 1946, John Maynard Keynes- inflasi terjadi karena nafsu berlebihan dari suatu golongan masyarakat yang ingin memanfaatkan lebih banyak barang dan jasa yang tersedia. Karena keinginan memenuhi kebutuhan secara berlebihan, permintaan bertambah, sedangkan penawaran tetap, yang akan terjadi adalah harga akan naik, pemerintah dapat membeli barang dan jasa dengan cara mencetak uang, misalnya inflasi juga dapat terjadi karena keberhasilan pengusaha memperoleh kredit. Kredit yang diperoleh ini digunakan untuk membeli barang dan jasa sehingga permintaan agregat meningkat, sedangkan penawaran agregat tetap. Kondisi ini berakibat pada kenaikan harga-harga.

Sedangkan menurut Teori Kuantitas, -teori yang didasarkan pada ekonom klasik- tingkat harga ditentukan oleh jumlah uang yang beredar. Harga akan naik jika ada penambahan uang yang beredar. Jika jumlah barang yang ditawarkan tetap, sedangkan jumlah uang ditambah menjadi dua kali lipat, maka cepat atau lambat harga akan naik menjadi dua kali lipat. Beberapa tokoh ekonomi klasik adalah Adam Smith (1723-1790), Thomas Robert Malthus (1766-1834), Jean Baptiste Say (1767-1832), David Ricardo (1772-1823), Johan Heinrich von Thunen (1780-1850), Nassau William Senior (1790-1864), Friedrich von Herman, John Stuart Mill (1806-1873) dan John Elliot Cairnes (1824-1875).

Inflasi tentu saja akan berdampak pada pola kehidupan masyarakat. Dimana daya beli masyarakat akan turun drastis, tingkat pendapatan rendah, meningkatkan jumlah pengangguran dan kemiskinan, dan kemungkinan juga berimplikasi pada meningkatnya kriminalitas karena sulitnya memenuhi kebutuhan hidup. 

Sebagaimana definisi inflasi, bahwa inflasi terjadi karena banyaknya uang yang beredar di masyarakat, sehingga nilai tukar uang menjadi turun. Hal ini terjadi karena dalam sistem kapitalisme, peredaran uang di tengah masyarakat tidak ditopang oleh pasokan emas. 

Praktek ekonomi kapitalis, permintaan untuk mencetak uang melampaui jumlah pasokan emas dan perak yang tersedia dan dimiliki oleh negara. Sistem uang yang berbasis emas dan perak sudah lama ditinggalkan. Sejak saat itulah inflasi tidak bisa dikendalikan.

Sesungguhnya, dulu negara-negara di dunia masih menggunakan standar emas untuk mata uangnya. Namun sejak tahun 1971, -ketika AS keluar dari perjanjian Bretton Woods tahun 1944 dan uang tidak lagi ditopang dengan emas dan diikuti oleh negara-negara lainnya- mata uang dunia menggunakan sistem uang kertas tanpa ditopang emas (fiat money).

Islam adalah agama yang paripurna. Ajarannya mencakup seluruh lini kehidupan. Dunia tanpa inflasi ataupun deflasi sungguh merupakan sebuah keniscayaan. Karena dalam Islam, standar uang adalah emas dan perak.

Ketika mata uang distandarkan pada emas dan perak, uang akan menjadi stabil. Selain itu, Islam mengharamkan penimbunan uang (kanjul maal) ataupun penimbunan barang (ihtikar). Selain itu negara harus memudahkan rakyat untuk mendapatkan barang-barang yang dibutuhkan. sehingga inflasi sudah bisa diantisipasi. 

Selain dengan mekanisme ekonomi untuk menjaga kestabilan ekonomi, ada mekanisme non ekonomi yaitu dengan kewajiban zakat. Zakat yang dikeluarkan akan mengalirkan/mendistribusikan uang/kekayaan di tengah-tengah umat, sehingga peluang macetnya peredaran uang bisa diminimalisir.

Dalam rentang sejarah yang panjang, Khilafah Islam menikmati harga yang stabil selama lebih dari seribu tahun. Karena menggunakan standar uang Emas dan Perak. Maka, kembali ke standar emas dan perak bagi umat Islam adalah suatu hal yang sungguh praktis dan solusi bagi perekonomian.

Hanya saja, kapitalisme yang menggurita tidak memberikan peluang untuk menjadikan emas sebagai standar mata uang. Untuk itulah, menjadi suatu hal yang sangat urgent, mewujudkan tatanan kehidupan yang akan mensejahterakan umat manusia, selain merupakan kewajiban umat Islam. Hanya Khilafah yang akan mewujudkan dunia tanpa Inflasi, Insya Allah. [VM]

Penulis : :Lilis Holisah

BACA JUGA :

KOMENTAR ANDA:

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Bawang Putih dan Inflasi"

close