Secular Education Is a Badness System and Method ? - Visi Muslim Media

Artikel Terbaru

 photo Master Mitra Jasa Teknik_zpsc7ntdbto.png

Secular Education Is a Badness System and Method ?


Pada dasarnya pendidikan merupakan sebuah kewajiban dan tanggung jawab negara untuk menjamin pendidikan para pelajar mauapun mahasiswa. Perlu diketahui juga Dunia Pendidikan Nasional saat ini berada dalam cengkraman Sistem Kapitalis-Sekularis. Pendidikan Nasional di negeri ini malah memakai Sistem Pendidikan yang berbasis Kapitalis-Sekularis. 

Benar saja, Sistem Pendidikan Sekularis adalah sistem yang memisahkan Agama (Islam) dari seluruh aspek kehidupan termasuk dalam Dunia Pendidikan. Dalam sistem ini agama hanya dijadikan sebagai ibadah ritual sajadan termasuk Dunia Pendidikan saat ini. Berbagai problematika yang terjadi di negeri ini sungguh sangat memprihatinkan dan Pendidikan Nasional memiliki kesalahan paradigmatik yang sangat menyimpang. Sungguh ironi sekali, Lantas bagaimana realita sesungguhnya pendidikan nasional saat ini?

Fakta Realita Pendidikan Nasional Saat Ini ?

Perlu kita sikapi akan kondisi pendidikan saat ini sangatlah penting. Dalam hal ini patut kita sadari bersama bahwa Realita Pendidikan Nasional memiliki Indikator yang sangat rendah dan menumpuknya persoalan Pendidikan Nasional yang belum kunjung juga menemukan solusi atas persoalan tersebut masih menjadi permasalahan. Lalu problematik apa saja yang menimpa Pendidikan Nasional di negeri ini, misalnya :

- Liberalisasi pendidikan oleh pemerintah terhadap para pelajar. 

- Tingginya tingkat putus sekolah, berdasarkan data dari UNICEF (United Nations Children’s Fund) pada tahgun 2015 menyatakan bahwa sebanyak 2,5 Juta anak Indonesia putus sekolah yakni : sebanyak 600 Ribu anak Sekolah Dasar (SD) dan 1,9 Juta anak SMP (Sekolah Menengah Pertama). Disisi lain, berdasarkan laporan BPS (Badan Pusat Statistik) angka putus sekolah pada tahun 2013 untuk usia 7-12 tahun sebesar 182.733, usia 13-15 tahun sebesar 209.976 anak, dan usia 16-18 tahun sebanyak 223.676 anak. Data yang fantastic dan lumayan besar untuk pendidikan di negara berkembang seperti Indonesia.

- Kerusakan moral para pelajar yang dimana kerusakan moral disebabkan oleh berbagai macam masalah antara lain : Tawuran Pelajar berdasarkan data KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) menyatakan data hasil penelitian lapangan bahwa tahun 2015 Tawuran pelajar terjadi sebanyak 7 kasus meningkat menjadi 42 kasus di tahun 2016. 

- Buruknya dan terbatasnya sarana dan prasarana sekolah yang berdampak pada ketidak layaknya ruang kelas, laboratorium, mau pun sarana dan prasarana mendukung lainnya.

- Bahkan para siswa harus menantang maut ketika berangkat ke sekolah akibat jalur akses ke sekolah harus menyebrangi jembatan gantung yang sudah di layak dilewati.

Di Indonesia, sebuah versi baru sekularisasi pendidikan dijalankan dengan mempromosikan ‘Islam Moderat’. Mulai tahun 2016, diterapkan kurikulum pendidikan Islam baru yang menekankan pada pemahaman Islam yang damai, toleran dan moderat. Kenyataannya, hal ini adalah bentuk penolakan terhadap tsaqâfah Islam, pemikiran politik Islam, serta syariah dan Khilafah Islam.

Di sisi lain sekularisasi ini menerima kepercayaan-kepercayaan non-Islam yang berasal dari liberalisme dan keyakinan lain di bawah kedok “keragaman budaya”. Menteri Agama RI menyatakan bahwa kurikulum baru ini adalah respon Pemerintah untuk mempromosikan perdamaian di tengah meningkatnya penyebaran ‘doktrin radikal’ di lembaga-lembaga akademis. Kementerian Agama bahkan bergerak di level regional dengan memfasilitasi sebuah forum sinergi Halaqah Ulama ASEAN 2016 yang terdiri dari Ulama dan Pesantren Asia Tenggara demi mempromosikan ‘Islam Moderat’ dan nilai moderatisme Islam. [Al-Islam No. 847, 11 Jumada ats-Tsani 1438 H – 10 Maret 2017 M]

Begitulah potret realitas pendidikan nasional. Sangat memprihatinkan sekali, siapapun yang masih memiliki hati nurani akan menyadari akan pentingnya merubah pola pendidikan yang berbasis Kapitalis-Sekularis. Untuk itu marilah kita lihat dalam segi Kurikulum yang dipakai oleh Pendidikan Nasional. Berikut penjelasan dan perbandingan Kurikulum itu.

Perbandingan Kurikulum Berbasis Ideologi Kapitalis-Sekularis Dengan Kurikulum Yang Berbasis Ideologi Akidah Islam

Kurikulum di Indonesia saat ini juga mendapatkan perhatian yang cukup serius. Hal ini kurikulum yang dipakai oleh Indonesia untuk standar pendidikan terpecah belah menjadi dua yaitu : 

Kurikulum KTSP 2006 dan Kurikulum K13. Namun, kedua kurikulum tersebut masih banyak memiliki kelemahan yaitu banyaknya materi yang menyimpang dari agama (Islam). Mengapa seperti itu? Karena kedua kurikulum tersebut lahir dari kagagalan sebuah sistem, dalam hal ini sistem Kapitalis-Sekularis.

Tabel Perbandingan Kurikulum 2006 (KTSP), K13, dan Kurikulum Islam

Aspek Komparasi
`Kurikulum KTSP (2006)
Kurikulum K13(2013)
Kurikulum Islam
Landasan
Sekularisme
Sekularisme
Akidah Islam
Sikap Terhadap Islam
Agama Ritual
Agama Ritual
Solusi Kehidupan
Mata Pelajaran
Tidak Selektif
Tidak Selektif
Selektif dan Sesuai Kebutuhan
Karakter Lulusan
Tidak Jelas
Tidak Jelas
Berkepribadian Islam

           

Dalam kurikulum KTPS maupun K13 sangatlah jelas bahwa yang diajarkan kepada mereka ialah mengajarkan peserta didik untuk lebih mengenal tokoh-tokoh barat seperti : Barrack Obama, Adam Smith dan para penerusnya sedangkan Tokoh-tokoh Islam seperti : Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar, Umar, Ustman, dan Ali ra hanya dijadikan sebagai tokoh spiritual belaka. Tanpa memandang nilai-nilai islam di dalamnya. Maka jelas menghasilkan karakter lulusan yang tidak jelas.


Oleh karena itu meskipun berbagai upaya seperti bongkar pasang kurikulum, selama kurikulum itu lahir dari sistem yang bukan berbasis Akidah Islam maka sangat tidak mungkin menghasilkan dan melahirkan maslahat hakiki bagi Umat Islam.


Kurikulum Berdasarkan Akidah Islam

Jika kita melihat sistem yang berdasarkan akidah islam maka yang dapat kita temukan ialah meliputi dua hal yaitu : [1] Materi Pelajaran ; dan [2] metode pengajaran. Dalam hal ini akidah islam sebagai landasan bagi kehidupan baik muslim mauapun muslimah, begitu juga dalam dunia Pendidikan, karena itu kurikulum pendidikan wajib berlandaskan akidah islam. Materi pelajaran maupun mata pelajran disusun tanpa danya penyimpangan dari syariat islam.

Jika melihat sejarah Nabi Muhammad SAW dalam melakukan proses pendidikan maka Rasulullah SAW yang pertama kali dilakukan beliau ialah menyeru manusia untuk memeluk akidah islam. Baru setelah mereka semua beriman, beliau mengajarkan berbagai hukum islam kepada mereka. Berdasarkan ini, akidah islam dijadikan asas dalam mendidikan umat islam dan selajutnya dapat dijadikan sebagai : [1] Asas pengambilan ilmu pengentahuan ; dan [2] Asas pemebntukan kepribadian yang berlandaskan karakter islam. Sebab Akidah Islam merupakan ilmu dasar untuk menentukan pembentukan pemikiran umat islam yang akan menghasilkan pemikiran yang sesuai dengan akidah islam yang juga akan menghasilakn generasi emas.


Solusi Islam Atas Permasalahan Pendidikan

Dengan demikian lengkaplah sudah apa yang diuraikan diatas dalam konteks permasalahan yang terjadi di dalam Dunia Pendidikan Nasional saat ini. Agar seluruh kebijakan tersebut terwujud, tentu perlu adanya negara yang menerapkan hukum dan mengatur semua urusan sesuai dengan ketentuan akidah Islam. Itulah Khilafah Islam. Khilafah Islam akan menjamin pelaksanaan kebijakan pendidikan Islam yang menjaga tsaqâfah dan identitas umat sekaligus membawa penerapannya ke seluruh dunia. Pada masa lalu, seluruh umat manusia di dalam Khilafah Islam dipengaruhi oleh tsaqâfah Islam. Ini karena tsaqâfah Islam dibawa oleh tentara yang sekaligus ulama yang tinggal di wilayah taklukan. Mereka mengajarkan Islam dan bahasa Arab. Bahkan mereka membuka sekolah selain membuka pelajaran di masjid-masjid. Sekolah-sekolah ini diberi nama dengan nama para sultan dan khalifah yang mendirikannya, seperti sekolah “Shalahiyah” di Yerusalem yang dinisbatkan kepada Shalahudin Al-Ayyubi. Kala itu bentuk peradaban dan ilmu-ilmu yang tidak bertentangan dengan Islam dipelajari dan diambil. Rasulullah saw. pun pernah mengirim orang untuk belajar industri manjanik ke negara yang sudah sukses membuatnya. Namun, Rasulullah saw. tidak mengirim orang untuk mempelajari moral dan nilai-nilai serta budaya Persia dan Romawi. Khalifah Umar bin al-Khattab pernah memasukkan format daftar kepegawaian ke dalam administrasi Khilafah Islam yang diambil dari Persia tanpa mentransfer budaya mereka.

Khilafah Islam akan memprioritaskan pendidikan dan menjalankan tanggungjawabnya. Ini sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasul saw. sebagai kepala Negara Islam di Madinah saat menetapkan tebusan bagi tahanan di Perang Badar dengan mengajarkan baca-tulis kepada sepuluh orang Muslim. Sebagai kepala Negara Islam, Rasulullah saw. menggratiskan biaya pendidikan dengan pembiayaan dari Baitul Mal.

Pada era Kekhilafahan Islam, Khilafah juga menyediakan infrastruktur yang dibutuhkan yaitu laboratorium, perpustakaan dan sarana lainnya pengetahuan. Khilafah pun mengawasi kurikulum di sekolah-sekolah dan universitas serta membuat satu kurikulum standar untuk negeri dan swasta. Khilafah tidak mengizinkan pendirian sekolah yang mengajarkan tsaqâfah Barat di negeri kaum Muslim. Khilafah pun memutus mata rantai lembaga-lembaga misionaris dan sejenisnya yang terjun dalam lembaga pendidikan dan berusaha untuk merusak anak-anak kita.

Khilafah Islam akan menyiapkan anak-anak Muslim menjadi ilmuwan, termasuk spesialis di semua bidang kehidupan baik dalam hukum Islam, ilmu fikih dan peradilan ataupun dalam sains seperti teknik, kimia, fisika, kedokteran dan sebagainya. Mereka akan menjadi ulama dan ilmuwan yang mumpuni untuk membawa Khilafah Islam menduduki posisi pertama di dunia sekaligus menjadi pemimpin dan berpengaruh karena ideologinya. Itulah Khilafah Rasyidah ‘ala minhâj an-Nubuwwah yang akan tegak kembali—dengan izin Allah SWT—untuk kedua kalinya, sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

«…ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ»

»…Kemudian akan datang Khilafah yang berjalan di atas metode kenabian (HR Ahmad). «

Wallahu a’lam.

Penulis  : Agus Zhubairi (Pemerhati Remaja)

BACA JUGA :

KOMENTAR ANDA:

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Secular Education Is a Badness System and Method ?"

close