Yuk Bela Negara - Visi Muslim Media

Artikel Terbaru

 photo Master Mitra Jasa Teknik_zpsc7ntdbto.png

Yuk Bela Negara

Bela negara merupakan suatu hal yang diwajibkan. Pada dasarnya sifat pembelaan terhadap negara merupakan suatu fitrah yang ada pada manusia. Tentu sifat bela negara merupakan suatu hal yang penting, bisa jadi suatu negara terjajah karena semangat kebangsaan tidak tercemin pada jiwa masyarakatnya. Maka makna esensial bela negara harus ditanamkan.

Menurut H Hasyim Asy’ari dalam Resolusi Jihad-nya yang dikeluarkan pada pada 22 Oktober 1945, menyatakan bahwa membela kemerdekaan Indonesia sebagai negeri Muslim dari kaum penjajah adalah kewajiban syar’i. Inilah jihad, yang diperintahkan Allah SWT, dan pelakunya sangat dimuliakan.

Menurut cucu KH Hasyim, KH Salahuddin Wahid, fatwa atau resolusi itu telah mendorong puluhan ribu Muslim untuk bertempur melawan Belanda yang berlindung di balik tentara Inggris. Tanpa resolusi itu, mungkin semangat jihad melawan Belanda dan sekutu tidak terlalu tinggi. Itulah salah satu jasa pesantren dalam membela negara Indonesia

Kita juga bisa melihat kisah Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menggambarkan kecintaannya terhadap mekah. Ketika turun perintah untuh berhijrah beliau terlihat sedih di saat meninggalkan mekah untuk menuju Madinah. Inilah cerminan bahwa semangat kebangsaan dan belaan negara merupakan suatu fitrah yang ada pada manusia.

Untuk sekarang ini makna semangat kebangsaan dan bela negara diburamkan sehingga kita tidak mengetahui siapa yang sebenarnya mengancam negara?. Masyarakat menganggap bahwa fakta yang membuat mereka terusik itulah yang sebenarnya ancaman, seperti terorisme dan radikalisme. Peran media pun menjadi bola panas yang semakin mengobarkan api ketidak jelasan tersebut.

Maka makna pembelaan negara bisa menjadi absurd ditengah-tengah masyarakat saat berhadapan dengan stigma radikalisme dan terorisme disandangkan kepada sebagian umat muslim yang bersungguh-sungguh. Gelar itu semakin diperjelas bagi umat muslim yang mencoba untuk menerapkan al Qur’an dan As Sunnah untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya. Alasannya umat muslim tidak menghargai umat yang lainya. Tentu secara tidak langsung ini melukai toleransi umat bergama.

Umat muslim diadu domba, dibenturkan sesama muslim, sehingga kita tidak mengetahui siapa teman dan siapa musuh sebenernya. Padahal dihadapan kita ancaman neo-liberalisme dan neo-imperealisme kian mengkawatirkan bangsa. Harga-harga bahan pokok yang mudah dipermainkan, Sumber Daya Alam (SDA) menjadi lahan jajahan negara-negara imperealis, dan generasi-generasi bangsa yang dicekoki sekulerisme.

AS dengan pengaruh kapitalismenya mampu menggerakan kebijakan sosial politik di negeri ini. Penjajahan gaya baru ini menjadi cara mereka untuk menerepakan ideologi mereka yaitu kapitalis-liberal. Adanya Freeport menjadi hak istimewa keberadaan AS untuk meregulasi kebijakan sesuai dengan kemauan mereka.

Peran AS terhadap bumi cendrawasih tidak hanya masalah Freeport. AS mampu mengkoordinir gerakan sparatisme Papua merdeka untuk melakukan presure politik pembebasan Papua. Bermula dari Wangsinthon DC yang akhirnya membuah suatu kebijakan UU FRAA (Relation Authorization Act) tahun 2000. Pada UU memaparkan terkait konsep AS untuk memebebaskan Papua.

Beberapa organisasi atas pembiayaan langsung oleh AS seperti OPM (Organisasi Papua Mereka) dijadikan pioner untuk melangsungkan serangan-serangan terhadap TNI-Polri. Peran HAM yang tidak lain adalah suara kepanjangan AS yang diligitimasi internasional menjadi langkah strategis OPM untuk menyuarakan kebebasan sebagai hak mereka.

Isu yang digulirkan untuk memperjuangkan Hak Asasi merupakan jualan politik AS untuk menjajah negeri ini. Tentu mereka hanya melihat asas manfaat jika tidak bermanfaat dibuang, itulah tabiat penjajah seperti AS dan sekutunya.

Maka sangat jelas bahwa musuh sebenarnya adalah AS yang secara terang-terangan mengancam negeri ini. Hanya saja pemerintah seakan-akan menutupi ini semua, dan melemparkan isu bahwa gerakan radikal yang telah mengancam kedaulatan negeri. Namun sungguh disayangkan jika gelar radikal disandangkan kepada umat Islam, dengan pencitraan bahwa ide-ide islam mengancam keberagaman, bhineka tunggal ika. Padahal dengan ide-ide islam itulah justru dapat menyatukan umat dan membebaskan dari bentuk penjajahan.

Bisa dikatakan bahwa negeri ini dalam kondisi darurat diakibatkan peraturan-peraturan kolonialisme yang tertuang dalam sistem Demokrasi. Peraturan-peraturan tersebut menjadi gerbang pembuka penjajahan gaya baru. Maka umat ini perlu sebuah supremasi hukum yang tegas membasmi intrik-intrik peraturan penjajahan tersebut. Menerapkan Islam sebagai hukum tertinggi merupakan langkah strategis. Karena dengan syariat islam dan diterapkan Khilafah mampu membebaskan pembudakan yang ada di negeri ini. Mari selamatkan negeri. [VM]

Penulis : Taufik Setia Permana 

The post Yuk Bela Negara appeared first on Visi Muslim Media.

BACA JUGA :

KOMENTAR ANDA:

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Yuk Bela Negara"

close