HTI dan Demokrasi - Visi Muslim Media

Artikel Terbaru

 photo Master Mitra Jasa Teknik_zpsc7ntdbto.png

HTI dan Demokrasi

Berbagai upaya penghadangan hingga pelarangan kegiatan keagamaan yang diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) secara massif dan berantai di berbagai daerah merupakan wujud konkrit kalahnya demokrasi. Sistem demokrasi yang diklaim menjamin kebebasan kepada siapa saja untuk mengeluarkan pendapat dan berekspresi, ternyata tak sanggup menghadapi pendapat-pendapat dan ekspresi islam yang diusung HTI.

Serangkaian kegiatan pawai panji Rasululluah, serta tablig akbar yang digelar HTI selama bulan Rojab semata dalam rangka syiar islam kepada masyarakat dan itu merupakan hak warga negara yang dijamin oleh Undang-undang. Tetapi mengapa hak itu dihadang-hadang?
Tanya kenapa?

HTI berani membongkar pengkhianatan para penguasa negeri Islam yang menjadi kaki-tangan Barat. HTI menyadarkan umat, betapa jahatnya para penguasa di negeri Islam yang menjadi operator penjajahan Barat. Demi menguntungkan Barat, para penguasa negeri Islam menjual kekayaan negeri-negeri Islam yang sangat melimpah, sementara rakyatnya hidup menderita. HTI menjelaskan kepada umat kepatuhan penguasa boneka Barat mengikuti kebijakan ekonomi Barat atas nama perdagangan bebas, investasi asing, liberalisasi pasar, yang intinya adalah jalan mulus bagi Barat untuk menjajah negeri Islam.

Simbol-simbol Al-Liwa dan Ar-Royah, panji-panji islam yang bertuliskan kalimat tauhid pun dimonsterisasi. Padahal, bukankah realisasi kalimat tauhidlah yang melahirkan amal dalam kehidupan manusia. Kesadaran sepenuhnya akan kebesaran Allah. Bila panji tauhid telah bersemayam dalam dada-dada umat, maka akan menjadikannya muslim yang kuat. Menghasilkan ketakwaan dan kepasrahan kepada Allah, siap diatur dengan aturan Allah yang terwujud dalam institusi islam, yaitu khilafah. Institusi yang menerapkan syariah Islam secara kaffah dan mempersatukan seluruh umat di dunia.

Tidak aneh jika Barat menganggap HTI sebagai ancaman serius. Setelah kepalsuan Barat berhasil dibongkar, kejahatan mereka tampak jelas di depan mata, sistem kapitalisme mereka nyata kebob-rokannya , barang busuk yang tidak bisa ditutup-tutupi lagi. Barat pun melakukan berbagai cara untuk menghentikan dakwah HTI. Mereka mencoba untuk menantang pemikiran Islam yang dibawa HTI, namun mereka gagal total.

Kaki tangan mereka dari kelompok liberal dan tokoh serta intelektual yang dibayar oleh Barat, berupaya mempromosikan pemikiran liberal, namun hasilnya juga gagal. Mereka tidak bisa mengalahkan pemikiran Islam. Barat pun mencoba melakukan politik adu domba sesama umat Islam, memprovokasi umat Islam untuk memusuhi para pejuang Islam. Namun, hal ini juga gagal. Umat sudah menyadari bahaya politik adu domba Barat ini.

Dakwah HTI konsisten

Kegiatan dakwah HTI selama ini konsisten menyeru umat islam untuk kembali kepada islam, bersatu untuk menegakkan kembali khilafah islam. HTI juga konsisten mengkritik ideologi asing: kapitalisme, sekularisme, demokrasi, serta kebijakan-kebijakan negara imperialis. Bahwa kesemuanya adalah berseberangan dengan ideologi islam, rusak, dan.merusak. HTI dengan lantang membongkar kejahatan negara imperialis (AS, Inggris, dan sekutunya) terhadap islam, kepalsuannya yang kerap mengatasnamakan demokrasi dan HAM untuk menjajah negeri-negeri islam.

Tak luput, HTI pun dengan berani membongkar pengkhianatan para penguasa negeri muslim yang menjadi pelayan dan mengabdi kepada imperialis Barat. Dakwah HTI menyadarkan umat dengan pemikiran islam yang diembannya, membuka topeng demokrasi, standard ganda, serta bahayanya bagi umat manusia.

Bagi Baray, dakwah politik HTI yang gencar ini praktis membuat mereka gerah dan khawatir. Bagi mereka ini sangat menakutkan, dan ini adalah ancaman serius bagi eksistensi penjajahan mereka di negeri-negeri muslim. Maka tak heran, mereka melancarkan aksi serius untuk menghadang dakwah HTI. Hal ini dilakukan baik melalui kaki tangan mereka dari kelompok-kelompok liberal, tokoh intelektual bayaran, maupun melalui taktik adu domba sesama umat islam, memprovokasi umat islam untuk memusuhi pejuang islam. Namun semua upaya tersebut hanya berbuah lelah bagi mereka tanpa hasil yang menggembirakan.

Jalan Buntu?

Setelah kegagalan berbagai upaya untuk membendung laju dakwah syariah dan khilafah, jalan buntu terakhir yang mereka tempuh adalah menggunakan alat politik secara represif dengan melarang kegiatan HTI. Ini semakin menunjuk hidung mereka sendiri bahwa demokrasi mereka telah kalah dan mati. Ide kebebasan berpendapat yang mereka yakini sebagai ide unggul, mengalami cedera hebat. Dan kini mereka tengah dihimpit rasa takut yang mendalam tatkala membiarkan ide-ide islam yang diusung HTI berkembang pesat di masyarakat. Ide syariah dan khilafah yang mereka sebut-sebut sebagai mimpi dan omong kosong telah menyemai kepanikan tingkat tinggi hingga mereka memikirkan secara serius upaya menghalangi perjuangan penegakannya kembali. [VM]

Penulis : Pipit Agustin R.

The post HTI dan Demokrasi appeared first on Visi Muslim Media.

BACA JUGA :

KOMENTAR ANDA:

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "HTI dan Demokrasi"

close