Tolak Politisi ‘Kutu Loncat’! - Visi Muslim Media

Artikel Terbaru

 photo Master Mitra Jasa Teknik_zpsc7ntdbto.png

Tolak Politisi ‘Kutu Loncat’!

Ramai diberitakan di media bahwa para politisi demokrasi sedang kembali berebut tampuk kepemimpinan untuk jabar satu. Dari partai A ke partai B, dari partai B ke C dan seterusnya hingga mereka mengatakan bahwa politik itu dinamis. Ada juga yang berkomentar untuk hitung-hitungan politik praktis bahwa bukan suatu masalah mengenai apa partainya untuk menuju jabar satu dan isu tiap wilayah politik itu berbeda, jakarta dengan jawa barat isu pilkadanya berbeda. Jika kita melihat proyeksi pemilu saat ini mulai dibangun dari tingkat daerah seperti halnya dua kandidat yang saat ini akan maju di babak provinsi keduanya lahir dari daerahnya masing-masing. Entah ini suatu kebetulan ataukah memang suatu pensettingan putra-putri daerah yang sudah membangun daerahnya layak jadi kandidat maju dalam tingkat provinsi. Jika memang seperti itu maka hal ini mencederai sendiri sistem demokrasi yang mereka emban. Fakta yang sama juga pernah dirasakan oleh masyarakat indonesia saat presiden indonesia yang lahir dari daerah merangkak naik menjadi RI satu dan banyak sekali janji-janji politik yang tidak terealisasikan.

Dalam lingkup demokrasi kini mengungkapkan ada tiga kemungkinan, Kemungkinan pertama pihak cagub memang ingin membangun negeri namun tidak menemukan cara yang shohih, hal ini sebenarnya terbantahkan dengan sistem demokrasi saat ini dimana syarat akan kepentingan dan saling sikut. Kemungkinan keduaadalah adanya pihak cagub yang menggebu untuk naik jabatan dan bertarung dilingkup yang lebih luas. Kemungkinan kedua sangat erat kaitannya dengan para partai dan segala kepentingannya. Kita tahu partai demokrasi tidak akan dengan sukarela memberikan dukungan tanpa ada timbal balik yang menguntungkan. Kemungkinan ketiga,adanya pihak ketiga yang memang merancang para calon-calon kandidatnya untuk terus naik hingga ke puncak tertinggi. Kemungkinan kedua ini syarat akan pihak komprador, pengusaha, dan pihak asing yang mempunyai kepentingan. Dari ketiga kemungkinan ini tidak ada satupun yang menguntungkan, ya itulah demokrasi.

Ya, Ini Biangnya…

Para politisi yang pragmatis bekerja hanya untuk mencari uang dan kekuasaan. Para politisi ini mengikuti Barat tanpa membuang sedikitpun tsaqofah barat tentang politik. Jalan dan cara berpolitik, serta tujuan politiknya sama. Jalan demokrasi, dan bertujuan meraih kekuasaan. Ketika kekuasaan telah ada di tangan, para politisi muslim pun kembali mengikuti Barat dalam menjalankan kekuasaan dan mempertahankan kekuasaan. Sehingga nyaris tidak ada bedanya antara politisi dan partai politik islam dengan sekuler. Sama-sama menerapkan demokrasi, sama-sama menjalankan sistem republik, kompromi dan moderat dalam menjalankan politik dalam dan luar negerinya. Hasilnya, sama-sama membahayakan ummat karena yang terjadi adalah siklus money-power, more money-more power.

Kebijakan yang diambil oleh para politisi pragmatis adalah politik transaksional. Yaitu, transaksi kebijakan politik dengan modal yang dikeluarkan oleh pemilik modal untuk meraih laba/keuntungan. Tidak heran jika kebijakan-kebijakan negara banyak menguntungkan pemilik modal (kapitalis). Bahaya lain adalah meningkatnya korupsi, sebagai konsekuensi pengembalian modal dan mencari keuntungan. Wajar, jika parlemen di Indonesia, didaulat sebagai lembaga terkorup dan paling kreatif dalam korupsi dibanding lembaga negara lainnya.

Politisi oportunis dalam demokrasi mempunyai ciri-ciri hanya berorientasi pada masa jabatannya dan mencari peluang untuk berkuasa pada periode berikutnya. Citra diri harus dibangun misalnya sebagai orang yang baik, orang dermawan, orang yang taat dan orang yang punya perhatian pada rakyat kecil (meskipun semua ini hanyalah iklan saja yang nota bene syarat dan ketentuan berlaku). Biasanya tahapan yang dipakai adalah tahun pertama ancang-ancang, tahun ke 2 dan ke 3 dan ke 4 kapal keruk sambil membangun citra dan tahun ke 5 sudah siap segala-galanya untuk pemilihan berikutnya. Jika terpilih lagi yang diperlukan adalah membangun citra dan kapal keruk untuk anak cucunya. Mereka melihat sesuatu sebagai peluang, misalnya kalau ada banjir berarti ada peluang proyek penanggulangan banjir. Kalau ada kemacetan berarti peluang proyek penanggulangan kemacetan. Jalan sering rusak berarti ada proyek pembangunan atau pemeliharaan jalan. Pokoknya semua diorientasikan pada proyek. Pembangunan akan fokus pada proyek-proyek dan mempercantik kota sedangkan pembangunan akhlak hingga kesejahteraan masyarakat cinderung diabaikan atau ada untuk sekadarnya bahkan untuk pencitraan, boro-boro memikirkan diterapkannya syariat islam.

Sumber daya dan lahan menjadi target utama dari mereka untuk diperjual belikan dengan tanda tangan di atas hitam putih semua beres. Tak ada perlawanan, mereka tersudutkan karena dan kampanyenya sudah di danai oleh para pengusaha dan asing melalui para komprador penghianat. Dia bisa berkongsi dengan keluarga atau kelompoknya didukung pengusaha kelompoknya. Jadilah ini “modal” untuk pemilihan selanjutnya maupun untuk persiapan pensiun. Tapi jangan harap politisi ini menerima langsung pasti menggunakan orang disekitarnya, supaya PPATK tidak bisa mendeteksi dan nanti kalau ada masalah bisa bersumpah di depan TV sambil pura-pura keluar air mata. Dia tidak yakin bahwa rizki anak dan cucunya berasal dari Allah swt, makanya dia mengumpulkan sebanyak-banyaknya supaya anak cucunya tidak menderita kelak. Dia akan ditinggalkan baik oleh kawan apalagi oleh lawan. Akhirnya penyakitan dan hartanya tidak dapat menolongnya.

Bahwasannya para politisi dalam sistem demokrasi tidak akan lepas dari segala proyeksi-proyeksi jahat, kongkalikong, saling sikut dan menjatuhkan, black campign, korupsi, nepotisme, hingga penjualan aset aset umat kepada pihak tak bertanggung jawab. dalam posisi ini seorang politisi demokrasi pasti akan menjadi politisi oportunis, kepentingan masyarakat tak akan menjadi tujuan. Jikalau sebagai tujuan pasti akan tersingkirkan terlebih dahulu dari para pendukung dan penyokongnya. Umat sudah ditipu dengan langkah-langkah manis dan politik pencitraan, langkah-langkah kedepannya tak akan untuk kemaslahatan karena mereka lahir dari kubangan-kubangan kepentingan individual dan kepartaian.

Bangun Pemuda Pemudi

Untuk itulah perlu adanya perubahan mindset, paradigma berfikir pada umat Islam tentang politik. Perlu adanya edukasi, dan pembinaan, untuk menyadarkan umat bahwa konsepsi politik yang diterapkan di dunia saat ini adalah konsepsi yang berasal dari ideologi kapitalis-sekuler yang membahayakan umat, dan menambah panjang deretan penderitaan umat. Umat perlu dipahamkan bahwa ada konsepsi politik lain yang hakiki yang bisa membawa umat pada kemajuan dan kemuliaan. Yaitu konsepsi politik Islam. Umat perlu dipahamkan bahwa politisi Islam adalah sosok politisi yang memperhatikan urusan rakyat, dan mengaturnya sesuai dengan kehendak Pemilik Alam Semesta. Umat juga perlu dipahamkan, bahwa mereka perlu menjadi para politisi Islam Ideologis agar bisa mengubah kondisi keterpurukan yang terjadi saat ini.

Rasulullah SAW, adalah sosok yang menjadi tauladan sebagai politisi Islam Ideologis. Rasulullah dalam mengemban misinya yang mulia, berusaha menerapkan perintah Allah SWT. Untuk itu, Rasulullah berjuang menegakkan negara yang bisa merealisasikan tujuannya, yaitu penerapan Syariah Islam. Rasulullah mendirikan negara yang berasaskan aqidah Islam. Negara ideal bukanlah negara yang berdiri hanya sekedar memenuhi kesejahteraan rakyatnya semata, namun negara yang menjadikan puncak tujuannya adalah membangun bangsanya dengan pemikiran yang shahih. Karena dengan pemikiran yang shahih lah akan terbangun sebuah peradaban, bisa diraihnya ilmu pengetahuan, dan memberikan solusi terhadap segala permasalahan, sekaligus memajukan kehidupan umat manusia (Qal’ahji: ibid, hlm 330-331).

Sungguh, di hadapan kita terhampar kesempatan besar untuk meraih dukungan ummat dalam menerapkan syariah Islam. Seorang politisi islam ideologis akan memanfaatkan peluang ini sebaik-baiknya dengan menggencarkan aktivitas politiknya, baik dalam melakukan pembinaan, penyebaran opini, dan kontak ke berbagai kalangan dalam rangka menyambut respon positif terhadap syariah, seraya meningkatkan grade respon tersebut untuk meraih kepemimpinan ummat. Oleh karenanya, politisi islam ideologis harus tetap fokus dalam perjuangan penerapan ideologi dengan metode ideologis yang telah digariskan. [VM]

Penulis : Fauzi Ihsan Jabir (Sekum BE BKLDK Jawa Barat)

BACA JUGA :

KOMENTAR ANDA:

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Tolak Politisi ‘Kutu Loncat’!"

close