Tidak ada Visi Politik yang Lebih Mulia Selain Islam - Visi Muslim Media

Artikel Terbaru

 photo Master Mitra Jasa Teknik_zpsc7ntdbto.png

Tidak ada Visi Politik yang Lebih Mulia Selain Islam

Sistem Islam pasti tegak

Tidak ada keraguan, Islam sebagai mabda, menyatu bersama aktifitas politik, tidak mungkin dipisah. Yang di dalamnya di awali dengan berfikir politik. Berpikir politik dalam Islam berarti mengerti dan memahami hakekat apa yang ada di balik fakta, butuh kejernihan berfikir, analisa yang kompleks dan konsistensi pada mabda Islam untuk menilai segala sesuatu. Beraktifitas politik berati beraktifitas mengurusi umat, bagaimana agar umat sejahtera, terdidik dengan mabda dan mengetahui persoalan serta solusinya.

Berbeda dengan Islam, politik demokrasi melanggengkan perebutan kekuasaan, pendulangan suara dan simpati rakyat meski dengan berbagai rekayasa dan menghalalkan segala cara, bagi-bagi kue kekuasaan, mengembalikan modal untuk berkuasa dan merebut kursi dengan berbagai tindakan amoral termasuk korupsi dan suap dan berujung pada drama proses peradilan dan duduk di kursi pengadilan sebagai pesakitan. Sebuah wajah aktifitas politik yang tidak saja suram,sangat menjijikkan. Pantas para ulama berusaha menjauhinya. Buruknya wajah politik tersebut di karenakan standard an sistem politik hari ini bukan pada Islam. Melainkan sekulerisme.

Allah SWT berfirman (yang artinya): Tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam (TQS al-Anbiya’ [29]:107).

Rasulullah saw. bersabda, “Allah memperlihatkan kepadaku seluruh penjuru bumi ini. Aku melihat bagian Timur dan Baratnya. Aku melihat umatku akan menguasai apa yang telah Dia tunjukkan kepada diriku.” (HR Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah dan at-Tirmidzi).

Ayat dan hadis ini merupakan refleksi visi politik Islam yang luhur sekaligus perintah bagi kaum Muslim untuk memiliki kesadaran geopolitik yang luas tanpa batas dan sekat. Karena itu, umat Islam wajib menegakkan Islam bagi seluruh umat manusia di dunia yang berada di seluruh penjuru bumi ini. Umat Islam mempunyai tugas mengemban dakwah Islam kepada seluruh manusia. Mereka harus melakukan kontak dengan dunia dengan menyadari keadaan-keadaannya, memahami problem-problemnya, mengetahui motif-motif politik berbagai negara dan bangsa serta mengikuti aktivitas-aktivitas politik yang terjadi di dunia.

Rasulullah saw. adalah suri teladan terbaik dalam penguasaan geopolitik. Hal ini beliau tunjukkan sejak tahun-tahun pertama berdirinya Negara Islam di Madinah. Sadar bahwa kekuatan ekonomi Makkah masih lebih besar dibandingkan dengan Negara Islam di Madinah, Rasul saw. memulai langkah dari hal yang paling strategis, yakni melalui pemetaan jalur perdagangan Makkah ke Syam. Dalam kitab Sirah-nya, Al-Mubarakfuri menuturkan strategi yang diterapkan Rasulullah saw. adalah terlebih dulu melemahkan kekuatan ekonomi Quraisy dengan menguasai jalur perdagangan Makkah-Syam. Caranya, pasukan Muslim mengadakan perjanjian persekutuan atau perjanjian untuk tidak memusuhi kabilah-kabilah yang tinggal di sekitar jalur tersebut. Dilakukan pula ekspedisi-ekspedisi militer secara bergantian ke jalur tersebut. Ekspedisi militer itu bertujuan mengenalkan kaum Muslim pada medan di sekeliling Madinah. Misi lainnya, membangun citra kepada orang-orang Yahudi dan Arab Badui sekitar bahwa kaum Muslim telah memiliki kekuatan. Ternyata berbagai manuver geopolitik-geostrategis ini berjalan efektif menciptakan suasana perang urat syaraf sehingga menimbulkan rasa gentar pada kaum Qurays kala itu.

Poros politik dalam negara Khilafah Islam yang berperan sebagai katup pengaman, dan salah satu bentuk tekanan politik, koreksi, serta pengendalian sistem bagi siapa pun yang berkuasa agar tidak menyimpang dari hukum Allah SWT. Namun ketika Khilafah telah tumbang, dilenyapkan oleh kaum kafir penjajah, dan negeri-negeri kaum Muslim dikapling, sistem pemerintahan yang berlandaskan Islam sudah lenyap, begitu juga dengan poros politiknya, meraka memaksakan sistem pemerintahan dan para penguasa yang tidak berhukum dengan Islam, tidak dengan sistem yang khas dan unik, tidak dengan kapitalisme atau komunisme, namun lebih dekat pada sistem gado-gado yang tambal sulam pada bebrapa negara dengan sebagian hukum Islam yang tidak melayani dan menjaga kecuali untuk kepentingan Barat dan kepentingan para penjaganya di antara para penguasa kaum Muslim, termasuk upaya Barat dan negara-negaranya untuk menciptakan kelas politik yang terdiri dari para pemikir, politisi, “ulama” dan penentu opini di negeri-negeri kaum Muslim yang akan mengembang pandang hidup Barat, sehingga terbentuk poros-poros politik yang terkontaminasi dan rusak, dengan tugas melindungi rezim dan menghiasnya untuk masyarakat umum, bahkan sekalipun mereka berada di jajaran yang disebut oposisi.

Sedangkan kemiskinan, kesempitan, kezaliman dan ketidakadilan yang menyelimuti kondisi kaum Muslim di negerir-negeri mereka, maka semua ini terjadi sebagai konsekwensi yang alami dari keberadaan mereka para boneka Barat yang memimpin pengelolaan negara dan rakyat. Mereka memimpin lembaga-lembaga negara di bidang ekonomi, pendidikan, dan administrasi. Mereka memimpin media yang menjadi pelindung terkuat dan penting dalam pemciptaan opini umum dan pengaruhnya, tidak hanya dalam ide-ide individu, tetapi juga dalam kecenderungan dan perasaan masyarakat di semua aspek kehidupan. Mereka adalah para penjaga untuk setiap sendi dari negara-negara miskin. [VM]

Penulis : Mahfud Abdullah (Analis di Pusat kajian Data dan Analisis)

BACA JUGA :

KOMENTAR ANDA:

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Tidak ada Visi Politik yang Lebih Mulia Selain Islam"

close