Sistem Pendidikan Islam : Solusi Praktis & Tuntas Untuk Pendidikan Berkualitas - Visi Muslim Media

Artikel Terbaru

 photo Master Mitra Jasa Teknik_zpsc7ntdbto.png

Sistem Pendidikan Islam : Solusi Praktis & Tuntas Untuk Pendidikan Berkualitas

Lahirnya generasi emas yang berkontribusi positif untuk peradaban dunia merupakan dambaan umat Islam. Hanya saja saat ini tidak bisa kita pungkiri bahwa potret pendidikan di Indonesia masih jauh dari kata “baik”. Masalah pendidikan di Indonesia kian lama kian bertambah. Bisa kita lihat dari sisi out put dari pendidikan kita sekarang telah menghasilkan anak-anak yang semakin kesini semakin memprihatinkan. Angka seks bebas, narkoba, aborsi, perzinahan, pelecehan seksual dll semakin meningkat, Hal ini tidak lain karena pengaruh kurikulum sekuler yang diterapkan di sekolah negeri saat ini yang membangun kepribadian anak kita dengan tasaqafah asing (bukan Islam), sedikit atau banyak, cepat atau lambat bila tsaqafah ini dijejali sejak anak usia dini, usia pra baligh bahkan usia baligh tentunya akan membentuk kepribadian mereka dengan tsaqafah tersebut. Apalagi kita mengalami pelajaran agama Islam hanya 2 jam per minggu di sekolah dan terang saja agama Islam bukan kompetensi utama yang harus dimiliki anak. Pelajaran agama kalah bersaing dengan pelajaran matematika IPA di jurusan IPA dan kalah bersaing dengan pelajaran ilmu pengetahuan sosial di jurusan IPS bahkan kalah bersaing dengan bahasa Inggris. Akan lebih parah dirasa jika pelajaran bahasa Arab sama sekali tidak ada di semua jenjang pendidikan Umum seperti SD, SMP dan SMA, kecuali di madrasah, itupun tidak utama.

Tsaqafah asing yang ada dalam kurikulum pendidikan saat ini bisa langsung membentuk kepribadian anak. Hal ini karena tsaqafah muncul atau terpancardari aqidah tertentu, jika anak memahaminya dan mengambilnya sebagai referensi maka pemahaman itulah yang akan mempengaruhi tingkah lakunya. Misalkan anak diberi pelajaran PPKn tentang Demokrasi yang mengajarkan tentang 4 pilar kebebasan yaitu kebebasan beragama,kebebasan berpendapat, kebebasan memiliki dan kebebasan berekspresi. Jika anak mengambil ini sebagai pemahaman dan referensi maka anak akan bertingkah laku sebagaimana halnya Demokrasi ajarkan, yaitu kebebasan. Anak tidak akan mau terikat dengan Islam sebab Demokrasi telah mengajarkannya untuk membuat aturan sendiri. Kita tahu bahwa Demokrasi ini terpancar dari aqidah sekulerisme (pemisahan agama dan kehidupan). Kehidupan liberal akan semakin mengukuhkan sekulerisme sedangkan Demokrasi adalah pilar utama langgengnya sekulerisme di Indonesia. Pantas saja jika output yabg dihasilkan adalah siswa-siswi yang beragama masih Islam namun tingkah lakunya liberal.

Bukan hanya masalah kurikulum, masalah pendidikan lainnya adalah dari sisi kesulitan mengakses pendidikan. Banyak anak yang tidak bisa menyelesaikan wajib belajar 9 tahun. Menurut anggota DPR RI Raihan Iskandar (26/12/12) dalam data tahun 2011 ada 10,268 juta siswa usia wajib belajar (SD dan SMP) yang tidak menyelesaikan wajib belajar 9 tahun. Juga ada sekitar 3,8 juta siswa yang tidak dapat melanjutkan ke tingkat SMA. Sebabnya adalah karena kemiskinan sehingga tidak punya biaya untuk sekolah. Kalaupun ada yang bisa mendapatkan pendidikan, sayangnya pendidikan justru dijadikan penopang mesin kapitalisme dengan diarahkan untuk menyediakan tenaga kerja yang memiliki pengetahuan dan keahlian. Akibatnya kurikulum disusun lebih menekankan pada pengetahuan dan keahlian tapi kosong dari nilai-nilai agama dan moral. Kurikulum pendidikan dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan pasar yang harus siap kerja, bukan untuk menyiapkan individu menjadi generasi yang bermanfaat untuk umat membangun peradaban Islam.

Keunggulan Sistem Pendidikan Islam
Islam sebagai agama yang mengatur semua aspek kehidupan, pun memiliki seperangkat aturan dalam masalah pendidikan. Jika dibandingkan dengan sistem pendidikan Islam, akan banyak sekali perbedaan yang signifikan.

Pertama, dari sisi tujuan pendidikan dalam Islam. Tujuan pendidikan dalam Islam yaitu: (1) pembentukan kepribadian Islami); (2) penguasaan tsaqâfah Islam; (3) penguasaan ilmu kehidupan (IPTEK, keahlian, dan ketrampilan) yang berguna untuk kehidupan. Hal ini sangat kontras dengan sistem pendidikan sekuler saat ini yang hanya mempersiapkan lulusannya menjadi tenaga yang hanya disiapkan untuk terjun ke dunia kerja tanpa memperhatikan kepribadiannya sudah Islam atau tidak. Banyak output lulusan yang beragama Islam namun tingkah lakunya jauh dari Islam. LGBT, seks bebas, narkoba, tawuran hanyalah setitik dari buramnya potret generasi Islam saat ini.

Kedua, dari sisi kurikulum pendidikan. Kurikulum Pendidikan Islam berlandaskan akidah Islam sehingga setiap pelajaran dan metodologinya disusun selaras dengan asas itu. Konsekuensinya, waktu pelajaran untuk memahami tsaqâfah Islam dan nilai-nilai yang terdapat di dalamnya mendapat porsi yang besar. Bukan hanya menempatkan pelajaran agama 2 jam seminggu. Kurikulum pendidikan Islam dijabarkan dalam tiga komponen materi pendidikan utama, yang sekaligus menjadi karakteristiknya, yaitu: (1) pembentukan kepribadian Islami); (2) penguasaan tsaqâfah Islam; (3) penguasaan ilmu kehidupan (PITEK, keahlian, dan ketrampilan). Oleh karena itu, agar kepribadian anak-anak kita menjadi kepribadian Islam, maka tsqafah Islam menjadi asupan akal yang utama yang akan meletakkan sebuah landasan dalam berpikir mereka, yaitu aqidah Islam sehingga seluruh pemikiran mereka terpancar dari aqidah Islam dan dibangun di atas aqidah Islam. Pun tsaqafah dapat mereka gunakan untuk menghadapi problematika kehidupan, mengambil sikap yang benar sesuai timbangan syariah Islam.

Ketiga, kemudahan mengakses pendidikan. Dalam Islam, negaralah yang berkewajiban untuk mengatur segala aspek yang berkenaan dengan sistem pendidikan yang diterapkan, bukan hanya persoalan yang berkaitan dengan kurikulum, akreditasi sekolah/PT, metode pengajaran, dan bahan-bahan ajarnya, tetapi juga mengupayakan agar pendidikan dapat diperoleh rakyat secara mudah. Rasulullah saw. bersabda: “Seorang imam (khalifah/kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rakyatnya”. (HR al-Bukhari dan Muslim).

Keempat, dari sisi pendanaan. Dalam Islam, hubungan Pemerintah dengan rakyat adalah hubungan pengurusan dan tanggung jawab. Negara (Khalifah) bertanggung jawab penuh dalam memelihara urusan (Ri’ayah) rakyatnya. Sebagai bagian dari ri’ayah itu maka pendidikan harus diatur sepenuhnya oleh negara berdasarkan akidah Islam. Islam menentukan penyediaan pendidikan bermutu untuk semua rakyat sebagai kebutuhan dasar masyarakat yang wajib disediakan oleh negara secara gratis. Dasarnya karena Rasul saw menetapkan tebusan tawanan perang dari orang kafir adalah mengajari sepuluh orang dari anak-anak kaum muslim. Tebusan tawanan merupakan ghanimah yang menjadi hak seluruh kaum muslim. Diperuntukkannya ghanimah untuk menyediakan pendidikan bagi rakyat secara gratis itu menunjukkan bahwa penyediaan pendidikan oleh negara untuk rakyat adalah wajib. Ijmak sahabat atas pemberian gaji kepada para pengajar/guru dari harta baitul mal lebih menegaskan hal itu. Sumber dana untuk semua itu adalah dari pemasukan harta milik negara dan hasil pengelolaan harta milik umum, seperti tambang mineral, migas, hutan, laut, dsb. Rasulullah saw. bersabda: “Kaum Muslim bersekutu dalam tiga hal: padang, air dan api (energi)”. (HR Abu Dawud dan Ibn Majah). Dengan itu, maka pendidikan bermutu dengan gratis atau biaya sangat rendah bisa disediakan dan dapat diakses oleh seluruh rakyat. Hal itu memang menjadi hak mereka semua tanpa kecuali dan menjadi kewajiban negara.

Hal ini kemudian dicontoh oleh para khalifah setelah rasul.Berdasarkan sirah Nabi saw. dan tarikh Daulah Khilafah Islam (Al-Baghdadi, 1996), negara memberikan jaminan pendidikan secara gratis dan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga negara untuk melanjutkan pendidikan ke tahapan yang lebih tinggi dengan fasilitas (sarana dan prasarana) yang disediakan negara. Kesejahteraan dan gaji para pendidik sangat diperhatikan dan merupakan beban negara yang diambil dari kas Baitul Mal. Sistem pendidikan bebas biaya tersebut didasarkan pada Ijma Sahabat yang memberikan gaji kepada para pendidik dari Baitul Mal dengan jumlah tertentu. Contoh praktisnya adalah Madrasah al-Muntashiriah yang didirikan Khalifah al-Muntahsir Billah di kota Baghdad. Di sekolah ini setiap siswa menerima beasiswa berupa emas seharga satu dinar (4,25 gram emas). Kehidupan keseharian mereka dijamin sepenuhnya oleh negara. Fasilitas sekolah disediakan seperti perpustakaan beserta isinya, rumah sakit, dan pemandian. Begitu pula dengan Madrasah an-Nuriah di Damaskus yang didirikan pada abad 6 H oleh Khalifah Sultan Nuruddin Muhammad Zanky. Di sekolah ini terdapat fasilitas lain seperti asrama siswa, perumahan staf pengajar, tempat peristirahatan, para pelayan, serta ruangan besar untuk ceramah dan diskusi.

Wahai Kaum Muslim Dunia pendidikan yang sarat masalah saat ini hanya bisa dituntaskan dengan mencampakkan sekulerisme- kapitalisme dan menerapkan syariah Islam secara total dalam bingkai negara yang menerapkan Syariah Islam secara total. Para ulama menyebutnya dengan istilah “Khilafah”. Karena sistem pendidikan Islam memerlukan daya dukung syariah yang lain seperti sistem ekonomi Islam, dan sub-sistem Islam lainnya. Hanya dengan penerapan syariah secara total dalam bingkai Khilafah Rasyidah saja, pendidikan bermutu bisa dirasakan oleh seluruh rakyat tanpa kecuali baik kaya atau miskin, muslim atau non muslim. Karena itu saatnya dilipatgandakan upaya dan perjuangan untuk menerakan syariah dan menegakkan Khilafah Rasyidah. Wallâh a’lam bi ash-shawâb. [VM]

Penulis: Enok Rumhayati (Pemerhati Remaja -Alumni Universitas Pendidikan Indonesia)

BACA JUGA :

KOMENTAR ANDA:

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Sistem Pendidikan Islam : Solusi Praktis & Tuntas Untuk Pendidikan Berkualitas"

close