Para Khalifah Hidup Bersahaja, Kontras dengan Kehidupan Para Penguasa Kapitalis - Visi Muslim Media

Artikel Terbaru

 photo Master Mitra Jasa Teknik_zpsc7ntdbto.png

Para Khalifah Hidup Bersahaja, Kontras dengan Kehidupan Para Penguasa Kapitalis

Raja Salman dipuja-puja pecintanya, gaya hidup mewah mewarnai kehidupannya. Mulai dari pakaian, kediaman, kantor hingga mobil dinas dengan harga mahal. Ini tidak bisa dilepaskan dari cara pandang mereka terhadap kedudukannya.

Berbeda dari falsafah-falsafah politik dan gaya hidup Raja Arab Saudi, falsafah politik dalam sistem Khilafah Islamiyah telah membantu politisi yang hidup di dalamnya tetap bertaqwa dan bersikap amanah dalam memegang jabatannya.

Jabatan dan kekuasaan adalah amanah. demikian salah satu falsafah politik dan jabatan dalam Islam. Hal ini sebagaimana Rasulullah SAW nasehatkan kepada Abu Bakar ra:” “Hai Abu Bakar, urusan kedudukan itu adalah untuk orang yang tidak menginginkannya, bukan untuk orang-orang yang menonjol-nonjolkan diri dan memburunya. Ia adalah bagi orang yang memandang kecil urusan itu dan bukan bagi orang yang mengulur-ulurkan kepalanya untuk itu.”

Rasulullah pun sudah menjelaskan: “Sesungguhnya kepemimpinan itu adalah amanat dan pada hari akhirat kepemimpinan itu adalah rasa malu dan penyesalan, kecuali orang yang mengambilnya dengan haq serta melaksanakan tugas kewajibannya.” (HR. Muslim).

Bertolak dari falsafah ini Khalifah Abu Bakar Ash Shidiq di hari pembaitannya berpidato di hadapan rakyatnya “Hai umat, aku telah diangkat untuk memerintahmu. Sebenarnya aku terpaksa menerimanya. Aku bukanlah orang yang terpandai dan termulia dari kamu. Bila aku benar dukunglah bersama-sama, tetapi jika aku menyimpang dari tugasku, betulkanlah bersama-sama. Jujur dan lurus adalah amanat, sedang bohong dan dusta adalah penghianatan.”

Pidato beliau ini bukanlah pencitraan dan lipstick semata. Selama beliau berkuasa dengan berbagai prestasi yang dicapainya beliau tetap sederhana jauh dari sikap berfoya-foya dan pamer kekayaan. Dengan penuh ketaqwaan beliau tetap waspada dan berhati-hati terhadap amanah kekuasaan yang dipegangnya.

Kesederhanaan beliau nampak dari sepenggal kisah berikut ini. Alkisah, suatu hari Abu Bakar keluar ke Pasar Madinah memakai baju dari kulit kambing. Ketika kejadian itu dilihat keluarganya, mereka buru-buru datang kepada Abu Bakar dan berkata: “Hai khalifah, engkau sungguh-sungguh membuat malu kami di mata kaum muhajirin, Anshar, dan orang Arab.” Lalu Abu Bakar menjawab: “Apakah kamu bermaksud agar aku menjadi seorang Raja yang angkuh di zaman Jahiliyah dan angkuh di zaman Islam?”

Ketika Abu Bakar hendak meninggal, ia berkata kepada putrinya Aisyah: “Hai Aisyah, unta yang kita minum susunya, juga bejana tempat kita mencelupkan pakaian, serta baju qathifah yang saya pakai, semuanya hanya dapat kita gunakan selama saya berkuasa. Dan bila aku meninggal, seluruhnya harus dikembalikan kepada Umar.” Maka ketika Abu bakar meninggal, Aisyah mengembalikan semua barang tersebut kepada Umar bin Khaththab.

Kisah yang lainnya, tatkala seorang wanita kampung bernama Unaisar berkata: “Hai Abu Bakar, apakah engkau masih dapat menolong kami memerah susu kambing seperti sebelum menjadi khalifah?” Jawab Abu Bakar: “Insya Allah aku akan tetap bersedia menolong kamu.” Demikianlah sosok Abu Bakar sebagai kepala negara yang telah berhasil menaklukkan dua kerajaan besar (Syiria dan Persia) masih menyediakan waktu untuk memeraskan susu kambing untuk para wanita sekampungnya.

Khalifah adalah orang yang mewakili umat dalam menjalankan pemerintahan, kekuasaan, dan penerapan hukum-hukum syariah, atau kholifah adalah pemimpin Negara islam yang dalam istilah fiqih disebut khilafah islam. Sementara khilafah islam sendiri adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia.

Walaupun khalifah pemimpin Negara tidak otomatis memiliki kekayaan yang fantastik. Sejarah mencatat kholifah pertama kaum muslim abubakar as-sidiq Ketika meninggal dunia, beliau tidak meninggalkan satu dinar dan tidak pula satu dirham pun.” [Fathul Baari, Ibnu Hajar Al-Asqaini]. Begitu juga ketika Abu Ja’far al-Manshur,bertanya kepada anak laki-laki dari umar bin abdul azis. “Berapa kekayaan ayahmu saat mulai menjabat sebagai Pemimpin kaum Muslimin?”

“Empat puluh ribu dinar,” jawab si anak, lugas.

“Lalu,” lanjut Abu Ja’far sampaikan soalan kedua, “berapa kekayaan ayahmu saat meninggal dunia?”

“Empat ratus dinar.bukannya bertambah malah berkurang.

Tentu saja ini sangat berbeda dengan kekayaan yang dimiliki raja salman bin Abdulaziz al-Saud yg juga merupakan seorang pemimpin negara. Menurut perhitungan majalah Forbes, total kekayaan keluarga Kerajaan Arab Saudi mencapai 1,4 triliun dollar AS atau sekitar Rp 18.620 triliun. kekayaan pribadi raja salman ditaksir mencapai sekitar 18 miliar dollar AS atau setara Rp 240,8 triliun. Fakta kunjungan raja salman ke Indonesia membawa serta 1500 orang dengan berlibur dibali memberikan gambaran betapa kayanya orang nomor satu diarab Saudi tersebut.

Teladan kesederhanaan para pemimpin dalam sistem Khilafah Islamiyah berbeda dari sistem demokrasi maupun kerajaan. Para khalifah adalah para pemimpin yang faqih dalam agama, memiliki keimanan yang kokoh terhadap akhirat. Cakap dalam memimpin dan memberi tauladan kepada para pegawai dan pejabat di bawahnya beserta segenap rakyatnya. Mereka adalah para pemimpin yang dicintai oleh rakyatnya disegani para lawannya. Hanya musuh-musuh Alloh saja yang membenci keberhasilan mereka.

Pemimpin dan pejabat Negara yang demikian tidak akan pernah ada dalam system rusak seperti demokrasi sekarang ini. Yang terjadi sebaliknya orang yang secara pribadi sholeh tidak akan bisa lepas dari debu-debu kesesatan demokrasi pada saat mereka berkecimpung di dalamnya. [VM]

Penulis : Yanuar (Bima)

BACA JUGA :

KOMENTAR ANDA:

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Para Khalifah Hidup Bersahaja, Kontras dengan Kehidupan Para Penguasa Kapitalis"

close