Meniti Harapan dengan Kesadaran Politik - Visi Muslim Media

Artikel Terbaru

 photo Master Mitra Jasa Teknik_zpsc7ntdbto.png

Meniti Harapan dengan Kesadaran Politik

Umat Islam di Indonesia dalam beberapa hari kedepan akan disuguhi pemberitaan yang masif tentang kedatangan Raja Salman dari kerajaan Arab Saudi. Bahkan rumor tentang kedatangan raja dari negara “Petro Dollar” ini pun telah ramai diperbincangkan sejak awal tahun ini. Mulai dari bersejarahnya kunjungan Raja Salman ke Indonesia, yang konon ini adalah kunjungan Raja Saudi sejak 46 tahun yang lalu dengan rombongan yang cukup spektakuler yakni 1500 orang diantaranya 25 pangeran dan 10 menteri. Ditambah lagi kedatangan Raja Salman kali ini disebut-sebut untuk menyelamatkan perekonomian Indonesia dari cengkeraman negara China(RRT) yang saat ini sudah sangat meresahkan masyarakat.

Bahkan bagi sebagian ummat Islam, kedatangan Raja Salman ke Indonesia bagaikan angin segar yang akan menggantikan suasana panas perasaan ummat Islam akibat bertubi-tubinya kezaliman dan ketidakadilan yang ditimpakan pemerintah dan aparatnya kepada ummat Islam di Indonesia. Mulai dari kasus penistaan al-Qur’an, pelecehan dan kriminalisasi ulama hingga kasus-kasus terorisme yang penuh rekayasa untuk menyudutkan Islam dan umatnya. Berharap bahwa Raja Salman yang notabene raja dari negara tempat 2 kota suci umat Islam sedunia mampu menekan pemerintah Indonesia untuk segera menuntaskan kasus penistaan al-Qur’an dengan segera dipenjaranya Si- penista al-Qur’an.

Tampaknya harapan-harapan umat Islam di Indonesia akan hal ini akan tetap menjadi harapan yang menyakitkan. Bagaimana tidak, diawal kedatangan Sang Raja dan rombongan besarnya kita disuguhi pemandangan Sang Raja sedang bersalaman hangat dengan Sipenista al-Qur’an. Dan semakin jelas bagaimana sikap Sang Raja dan negaranya terhadap kasus penistaan al-Qur’an di Indonesia dari pernyataan yang disampaikan Osama, Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, bahwa: “Saudi adalah pemimpin negara Islam, karena memang 2 kota suci ada di Saudi. Tapi berkaitan dengan kasus penistaan agama itu, tentunya jadi urusan dalam negeri Indonesia dan kita tentu tidak akan menyinggung masalah itu.”

Sungguh! Sudah jelas bahwa bagi Arab Saudi kasus penistaan al-Qur’an adalah permasalahan internal Indonesia, padahal sejatinya persoalan penistaan terhadap al-Qur’an adalah persoalan seluruh umat Islam dimanapun tak terkecuali bagi Sang Raja dan negaranya.

Pada akhirnya, umat Islam sudah saatnya harus memiliki kesadaran politik yang benar, yakni suatu kesadaran yang tidak hanya memandang peristiwa-peristiwa politik dari kulit luarnya saja. Bahwa Raja Salman adalah seorang muslim, seorang hafidz al-Qur’an dan seorang pemimpin dari sebuah negara yang 2 kota suci umat Islam terletak disana adalah suatu kenyataan. Tapi apakah kedatangan Raja Salman ke Indonesia sebagai sebuah peristiwa politik dapat disimpulkan sebagai kedatangan yang akan membela kepentingan umat Islam Indonesia? Maka diperlukan suatu analisis yang menyeluruh dan dengan sudut pandang yang khas, maka bagi seorang muslim sudut pandangnya tidak lain adalah akidah Islam.

Dari kesadaran politik yang benar umat Islam mampu memahami hakikat sesungguhnya dari peristiwa-peristiwa politik termasuk kunjungan Raja Salman ke Indonesia saat ini, yang sejatinya hanyalah kunjungan kenegaraan dari sebuah negara sekuler ke negara sekuler lainnya dengan membawa kepentingan nasional masing-masing bukan untuk kepentingan umat Islam.

Dan dengan kesadaran politik yang benar pula umat Islam mampu meniti harapannya yang pasti menuju kemuliaan Dunia dan Akhirat, hidup sejahtera dalam naungan Islam. Wa Allaahua’lam bi ash-showab [VM]

Penulis: Hafshah Ummu Kayyis

BACA JUGA :

KOMENTAR ANDA:

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Meniti Harapan dengan Kesadaran Politik"

close