Membangun Adidaya Baru (Seri 1) “Angkara Murka Sang Adikuasa” - Visi Muslim Media

Artikel Terbaru

 photo Master Mitra Jasa Teknik_zpsc7ntdbto.png

Membangun Adidaya Baru (Seri 1) “Angkara Murka Sang Adikuasa”

Negara adikuasa atau negara adidaya, adalah negara yang mempunyai kekuasaan lebih di percaturan politik internasional baik dalam mempengaruhi peristiwa-peristiwa global maupun lebih jauh mengambil keputusan dalam proyek-proyek internasional.

Saat ini Amerika sedang menikmati sebagai adikuasa dunia. Sebagai mana yang disampaikan Henry Kissinger dengan ungkapan yang sangat tepat mengenai apa yang sedang mendominasi atmosfir politik Amerika.

“Amerika Serikat di ujung milinium baru ini tengah menikmati keadidayaan yang bahkan belum pernah dirasakan oleh emperium terbesar sekalipun pada permulaan sejarah. Amerika bisa menguasai dominasi yang tidak tertandingi di seluruh dunia.”

Dia juga mengatakan :
“Angkatan bersenjata Amerika tersebar ke seluruh dunia dengan mudah dari Eropa Utara hingga Asia Tenggara, bahkan pangkalan-pangkalan ini akan berubah karena intervensi Amerika atas nama perdamaian menjadi kebutuhan militer yang permanen.”

Kita jadi teringat dengan pernyataan George W Bush didepan Kongres pada 20 September 2001, dimana Bush memberi ultimatum kepada dunia. ”Every nation in every region now has a decision to make : Either you are with us,or you are with the terrorist”. Siapapun yang tidak sejalan dengan kepentingan AS atau mengancam kepentingan AS adalah teroris dan musuh AS. ( Farid Wadjdi 2010. Menantang Amerika menyingkap imperalisme Amerika di bawah Obama. Penerbit Al Azhar Press )

Kemudian George W Bush mendeklarasikan perang salib terhadap kaum Muslim ketika melancarkan serangannya terhadap warga kita di Afganistan. Perangnya di Irak telah menyingkap tekadnya untuk menghancurkan Irak. Kemudian datang Obama, maka dia berusaha memperdaya kaum Muslim dengan pidatonya yang bombastik di Ankara dan Kairo (2009) dan Jakarta (2010) sebelum topengnya hancur dengan dukungan mutlaknya kepada jagal Damaskus dalam upaya membungkam revolusi Syam. Meski dia telah mengkritik George Bush yang menggunakan drone, ketika Obama ada di barisan oposisi, namun setelah dia menjadi penguasa, dia menaikkan tensi serangan pesawat drone ini menyebarkan ketakutan, pembunuhan dan penghancuran di berbagai penjuru negeri kaum Musim, mulai dari Afganistan dan Pakistan ke Irak, Yaman, Somalia, Suriah.

Terpilihnya Trump Sebagai Presiden Amerika
Seluruh dunia gaduh dengan berita terpilihnya Trump sebagai presiden Amerika. Terpilihnya Trump menjadi pukulan keras terhadap pasar finansial di Eropa, Asia dan Amerika. Merkel kanselir Jerman mengungkapkan kewaspadaannya atas terpilihnya Trump. Ia mensyaratkan agar Trump menghormati doktrin-doktrin dan nilai-nilai demokrasi bagi kelangsungan kerjasama dengan Jerman. Presiden Prancis mewaspadai pernyataan-pernyataan Trump yang menyalahi nilai-nilai bersama. Ia menyeru para menteri luar negeri Eropa untuk menggelar pertemuan guna membahas dampak-dampak terpilihnya Trump.

Adapun apa arti terpilihnya Trump untuk kita kaum Muslim? Maka tidak akan ada sesuatu yang baru dalam tungku permusuhan gembong kekafiran, Amerika, terhadap Islam dan kaum Muslim. Apakah Obama yang demokrat merupakan teman untuk kaum Muslim? Atau pendahulunya yang republikan, George Bush Jr. merupakan teman untuk kaum Muslim? Apakah politik Amerika sepanjang para penguasa yang silih berganti di Gedung Putih, tidaklah mengusung untuk Islam dan kaum Muslim, kecuali permusuhan yang berakar dan menancap dalam serta tipu daya terus menerus untuk menghegemoni negeri-negeri kita dan merampok kekayaan kita dan potensi kita serta mendukung para penguasa diktator, dan mengerahkan tenaga untuk menghalangi kembalinya persatuan kaum Muslim di bawah daulah al-Khilafah ar-Rasyidah kedua yang berjalan di atas manhaj kenabian? (hizbut-tahrir.or.id,11 /16)

Kebijakan Kontroversial
Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang melarang masuk warga dari tujuh negara yang mayoritas muslim dan penundaan penerimaan imigrasi, dikecam berbagai pihak. Selain dari warga negara AS sendiri, kecaman dan kritikan juga datang dari berbagai belahan dunia. Keputusan pemerintah AS atas nama perintah eksekutif tentang keamanan perbatasan dan peningkatan penegakan imigrasi itu, dinilai diskrminiatif dan penghinaan. “Tidak adil dan tidak benar menggambarkan begitu banyak orang Arab dan Muslim sebagai teroris,” kata Najeed Haidari, seorang manager keamanan Yaman-Amerika pada sebuah perusahaan minyak di Yaman.

Perintah eksekutif Trump mengatur larangan masuk bagi tujuh negara mayoritas muslim. Yaitu Suriah, Iran, Irak, Yaman, Sudan, Somalia, dan Libya selama 90 hari ke depan serta penundaan penerimaan pengungsi selama 120 hari. Perintah eksekutif itu disebut ‘Muslim Ban’. Ketika perintah tersebut ditandatangani pada Jumat (27/1), Para warga Arab dan Iran yang berencana melakukan perjalanan ke Amerika Serikat menganggap larangan mendatangi AS, terkait langkah kontraterorisme yang diterapkan pemerintahan Trump, sebagai penghinaan dan praktik diskriminasi. Para pendatang dari tujuh negara itu ditahan dan dihentikan setibanya di bandara AS. Begitu pun pengunjung yang telah memiliki visa resmi dan tiket pesawat menuju AS juga dicegah untuk terbang, beberapa bahkan terjebak di luar negeri saat transit perjalanan. (jurnas.com, 01/17)

Islamophobia Sang Adikuasa
Islamophobia. Itulah fenomena yang terlihat dalam politik Amerika, bukan hanya belakangan ini, tetapi sesunggguhnya sudah lama sejak era George Bush (senior). Perasaan Islmophobia itulah yang menggerogoti tokoh-tokoh politik dan pemikir Amerika. Khususnya setelah terlihat banyaknya kegagalan, keragu-raguan dan kelemahan dalam menyelesaikan berbagai problema internasional. Setelah itu, mulai terpupuk perasaan akan kehebatan kekuatan Amerika dan perasaan tersebut akhirnya menjelma menjadi arogansi,kesombongan dan keangkuhan, yang telah menyelinap dalam elemen-elemen kekuatan masyarakat Amerika. Perasaan ini bertambah kuat setelah Partai Republik melalui Donald Trump memegang tampuk kekuasaan.

Umat Islam dengan Ideologi Islam yang diembannya kemudian berhadapan face to face dengan negara Paman Sam ini. Bagi AS, Islam adalah ancaman terbesar saat ini bagi eksistensi hegemoni Ideologi Kapitalisme. Tidak heran kalau Samuel P. Huntington dalam The Clash of Civiliztions-nya, tidak lama setelah Soviet dan negara komunis lain tumbang, menempatkan Islam sebagai musuh peradaban Barat nomor wahid.
Perang ini menjadikan Islam sebagai pihak tertuduh. Tampak dari istilah-istilah berkonotasi buruk yang dilekatkan dengan Islam oleh Barat terutama AS. Mereka menuduh Islam seperti monster dengan istilah ‘Islam fasis’, ‘Islam radikal’, Islam fundamentalis’,’Islam militan’, ‘Islam teroris’.

Barat dan sekutunya juga menjadikan konsepsi Islam seperti syariah, jihad dan Khilafah sebagai musuh paling berbahaya dalam perang ini. Jihad yang sedemikian mulia dalam pandangan Islam pun dikonotasikan negatif dan merusak. Barat dan sekutunya juga menuduh ‘Teroris’ kaum Muslim yang bercita-cita menerapkan syariah Islam dan Khilafah. ( Farid Wadjdi 2010. Menantang Amerika menyingkap imperalisme Amerika di bawah Obama. Penerbit Al Azhar Press )

Benar, kita berbicara dari sudut pandang akidah islamiyah. Maka kita tidak melihat pada para penguasa Amerika kecuali permusuhan berurat berakar terhadap Islam dan kaum Muslim, tanpa memandang perubahan dangkal pada wajah para penguasa Gedung Putih. Pada hakikatnya pandangan yang mendalam, bahwa Amerika terus berjalan dalam politiknya yang ditargetkan untuk memerangi Islam dan kaum Muslim. Dan tanpa memandang betapa powerfullnya AS yang tampak, maka itu tidak akan berlanjut terus. Kebatilan pasti lenyap. Dan hari-hari itu dipergilirkan diantara manusia. Selama kaum Muslim berpegang teguh dengan keimanan mereka kepada Rabb mereka dan mengedepankan ridha Allah atas dunia yang fana, mereka menolong Allah dengan berjuang untuk menerapkan syariah-Nya, maka niscaya mereka mampu membebaskan umat manusia dari bencana Amerika dan mengeluarkan umat manusia dari kegelapan kekufuran ke cahaya Islam, dari kezaliman peradaban kepitalisme menuju keadilan Islam, dan dari kesempitan dunia menuju keluasan dunia dan akhirat. Dan ini adalah janji Allah dan janji-Nya adalah benar. Dan mudah-mudahan hal itu terealisir dalam waktu dekat.

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.” (TQS an-Nur [24]: 55)

Umat Islam tidak boleh ‘kalah’ dengan Donld Trump. Amerika Serikat adalah Negara Kapitalis. Institusi ini dirancang untuk menjaga dan mempertahankan kekuatan Amerika di seluruh dunia. Meskipun AS harus mengekploitasi pihak lain dalam prosesnya.Negara ini juga dirancang untuk menghancurkan pesaing-pesaing Amerika di dunia. Meskipun bukan berarti rakyat yang ingin diekploitasi hidup dibawah penjajahan dan tirani. Jadi siapun dia, George Bush (senior), Bill Clinton, George W Bush, Barack Obama, Donald Trump atau yang lain kepentingan fundamental AS dan kebijakannya tidak akan pernah berubah.
(Bersambung sesi 2) [VM]

Penulis: Rahmat Abu zaki (Syabab Hizbut Tahrir Indonesia)

BACA JUGA :

KOMENTAR ANDA:

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Membangun Adidaya Baru (Seri 1) “Angkara Murka Sang Adikuasa”"

close