Membangun Adi Daya Baru (Seri 3) “HARD POWER & SOFT POWER” - Visi Muslim Media

Artikel Terbaru

 photo Master Mitra Jasa Teknik_zpsc7ntdbto.png

Membangun Adi Daya Baru (Seri 3) “HARD POWER & SOFT POWER”

Pada tahun 2009 ketika Barack Obama untuk pertama kalinya terpilih sebagai presiden Amerika Serikat, dunia menyambutnya dengan gegap gempita. Sesuai dengan dua isu utama yang diusung Barack Obama yaitu “Hope” (harapan) dan “Chance” (perubahan), presiden kulit hitam pertama AS ini diharapkan benar-benar akan membawa perubahan. Bukan hanya untuk AS, tapi juga dunia termasuk dunia Islam.Kebencian terhadap George W Bush dan kebijakan politik luar negeri yang tidak popular delapan tahun dibawah kepemimpinan Bush,telah memberikan citra negatif terhadap kebebasan dan demokrasi Negara Paman Sam itu.

Banyak harapan bahwa Obama akan menyelamatkan Amerika Serikat dan membawa perubahan yang besar terhadap dunia. Namun sayangnya “ Bagaikan pungguk merindukan bulan” warga dunia yang sudah “mencita-citakan” dan “menginginkan” adanya perubahan dunia yang lebih aman dan tentram,ternyata “Bertepuk sebelah tangan”. Amerika Serikat dibawah Obama tidak jauh berbeda dengan George W Bush.

Pada masa kepemimpinannya, Presiden kulit hitam pertama AS itu telah menjadikan masalah Asia Selatan, menjadi prioritas utamanya. Atas nama perang melawan terorisme Obama “Menjajah” Afganistan dan Pakistan. Bahkan satu hal yang membuat kebijakan Obama lebih kejam dibanding dengan Bush, ialah menggunakan politik adu domba dengan cara mengorbankan rakyat sipil Pakistan dan Afganistan. Bagaimana dengan Donald Trump ?

Tidak jauh berbeda dengan George W Bush dan Obama,Tidak lama setelah terpilih menjadi presiden AS, Donald Trump menabuh genderang perang melawan Islam. Atas nama perang melawan terorisme, Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat kebijakan yang melarang masuk warga dari tujuh negara yang mayoritas muslim dan penundaan penerimaan imigrasi.

Perintah eksekutif Trump mengatur larangan masuk bagi tujuh negara mayoritas muslim. Yaitu Suriah, Iran, Irak, Yaman, Sudan, Somalia, dan Libya selama 90 hari ke depan serta penundaan penerimaan pengungsi selama 120 hari. Perintah eksekutif itu disebut ‘Muslim Ban’. Ketika perintah tersebut ditandatangani pada Jumat (27/1), Para warga Arab dan Iran yang berencana melakukan perjalanan ke Amerika Serikat menganggap larangan mendatangi AS, terkait langkah kontraterorisme yang diterapkan pemerintahan Trump, sebagai penghinaan dan praktik diskriminasi. Para pendatang dari tujuh negara itu ditahan dan dihentikan setibanya di bandara AS. Begitu pun pengunjung yang telah memiliki visa resmi dan tiket pesawat menuju AS juga dicegah untuk terbang, beberapa bahkan terjebak di luar negeri saat transit perjalanan.

Soft Power dan Hard Power

Pada hakekatnya, power dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu: hard power, soft power dan smart power (Nye, 1990). Hard power merupakan kekuasaan dari suatu negara untuk mencapai kepentingan nasionalnya melalui kebijakan vital yang bersifat memaksa terhadap negara atau aktor lain. Pada umumnya hard power ditunjukkan melalui kekuatan militer dan ekonomi. Contoh dari penerapan hard power adalah penyerangan Israel terhadap Palestina untuk menguasai wilayah teritorial Palestina.

Soft power merupakan kekuasaan suatu negara untuk mencapai kepentingan nasionalnya melalui pendekatan tanpa bersifat memaksa terhadap negara atau aktor lain, baik dengan cara mempengaruhi, ajakan bekerja sama, diplomasi atau sebagainya. Contoh dari penerapan soft power adalah ketika negara menunjukkan pada dunia bahwa negaranya aman, berkualitas, dan strategis dengan tujuan menarik investor asing untuk menanamkan modal ekonomi pada negara tersebut.

Pada awalnya yang dominan digunakan negara dalam interaksi internasional adalah hard power, hal itu dapat dilihat dari banyaknya konflik yang terjadi selama masa perang dunia. Sejalan dengan perkembangan era baru, negara-negara mulai banyak mengembangkan soft power dalam mewujudkan kepentingan nasionalnya sehingga kekuatan militer berkurang pengaruhnya dan tidak lagi menjadi hal utama dalam national power (Nye 1990: 154). (http://bit.ly/2mGDG0U)

Baik soft power atau hard power intinya tetap saja sama yakni penjajahan. Hanya saja perubahan menjadi soft power dilakukan mengingat invasi militer akan menimbulkan perlawanan secara terbuka seperti yang terjadi di Irak. Menurut Joseph S. Nye. “ soft power lebih mengedepankan kemampuan menciptakan pilihan-pilihan bagi orang lain, yakni kemampuan memikat dan mengkooptasi pihak lain agar rela memilih, melakukan hal yang kita kehendaki tanpa kita harus memintanya”. Joseph S.Nye menyebutkan bahwa soft power suatu negara terdapat dalam tiga sumber : kebudayaan, nilai-nilai politik, dan kebijakan luar negerinya. Namun, tentu saja semuanya berujung pada upaya mempertahankan penjajahan kapitalisme Amerika Serikat.

Soft power atau hard power hanyalah pilihan, apa yang dilakukan AS tergantung sejauh mana hal itu bisa merealisasikan tujuan politiknya. Tapi jika pilihan harus dengan serangan militer, tidak peduli Partai Demokrat (soft power) maupun Partai Republik (hard power) sama saja, yakni akan menggunakan serangan militer. Kita ingat tatkala Bill Clinton (Presiden dari Partai Demokrat) berkuasa, pada 20 Agustus 1998 menghujani Afganistan dan Sudan dengan rudal pintar jarak jauh. Serangan ini didasarkan klaim Washington, bahwa pelaku pengeboman Kedubes AS di Kenya dan Tanzania dua minggu sebelumnya, terkait dengan Afganistan dan Sudan. Washington juga beralasan, bahwa penyerangan terhadap sebuah pabrik obat-obatan di Sudan dilakukan karena pabrik itu diduga memproduksi senjata kimia. Dimana tuduhan AS ini sama sekali tidak pernah terbukti. ( Farid Wadjdi 2010. Menantang Amerika menyingkap imperalisme Amerika di bawah Obama. Penerbit Al Azhar Press )

Disinilah letak pentingnya kenapa Umat Islam membutuhkan kekuatan politik riil yang secara ideologis dan praktis bisa mengimbangi kekuatan AS, dan tidak ada pilihan lain kecuali Daulah Khilafah Islamiyah. Pilihan kaum muslimin sekarang tinggal dua : bersatu dibawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah yang akan membebaskan Umat Islam dari penjajahan, atau tetap dibawah penjajahan AS dan sekutu dengan merelakan pembunuhan-pembunuhan terhadap umat Islam dan eksploitasi kekayaan alam umat Islam. [VM]

Penulis : Rahmat Abu Zaki (Syabab Hizbut Tahrir Indonesia)

Catatan Kaki :
1.http://bit.ly/2mlIQg7

2. Farid Wadjdi 2010. Menantang Amerika menyingkap imperalisme Amerika di bawah Obama. Penerbit Al Azhar Press

BACA JUGA :

KOMENTAR ANDA:

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Membangun Adi Daya Baru (Seri 3) “HARD POWER & SOFT POWER”"

close