Melenyapkan Pornografi, Selamatkan Generasi - Visi Muslim Media

Artikel Terbaru

 photo Master Mitra Jasa Teknik_zpsc7ntdbto.png

Melenyapkan Pornografi, Selamatkan Generasi

Indonesia adalah negeri dengan penduduk mayoritas beragama islam. Maka menjadi sangat tidak pantas apabila hal-hal yang berbau pornografi dan pornoaksi bebas berkeliaran serta dikonsumsi oleh masyarakat segala usia. Hal ini secara tidak langsung akan menghancurkan tatanan moral yang bisa berakibat munculnya krisis moral. Apabila kerusakan moral sudah menjadi-jadi maka kehancuran negeri cepat atau lambat akan segera datang.

Akibat maraknya pornografi yang menginvasi negeri ini, ada bapak yang sudah tidak lagi memperdulikan anaknya bahkan tega menyetubuhinya akibat hanya karena nonton film porno atau hanya karena baca majalah atau media porno. Anak-anak juga terpapar radiasi pornografi sehingga sudah berani mulai ikut-ikutan memperkosa/mencabuli teman sekolahnya hanya karena dikirim gambar porno lewat HP-nya. Gelap mata dan gelap hati mendominasi pikiran orang yang dirangsang pornografi sehingga tidak lagi mampu berpikir rasional dan hanya mengikuti nafsu syahwatnya.

Sebuah penelitian mengungkapkan, bahwa menonton film porno dapat berdampak buruk bagi kesehatan otak. Para peneliti di Jerman menemukan, terlalu sering atau secara teratur menonton film atau video porno dapat membuat volume otak di daerah striatum mengalami penyusutan. Striatum merupakan daerah di otak yang berkaitan dengan motivasi. Peneliti menyimpulkan, ponografi dapat menciptakan generasi muda yang putus asa di kamar tidur. Penelitian lain dari Cambridge University tahun 2013 menemukan, otak orang yang suka menonton film porno mirip dengan pecandu narkoba. Otak mereka yang sering menonton film porno berbeda dengan yang tidak suka. Hasil scan menunjukkan, ada tiga daerah di otak yang lebih aktif pada orang yang suka menonton film porno sejak usia dini dibanding yang tidak (kompas.com). Itu artinya bahwa pornografi begitu berbahaya.

Hasil survei Komisi Perlindungan Anak (KPA) tahun 2013 terhadap 4.500 remaja mengungkap, 97 persen remaja pernah menonton atau mengakses pornografi dan 92,7 persen pernah berciuman bibir. Survei yang dilakukan di 12 kota besar ini, juga menunjukkan 61 persen responden pernah berhubungan di luar nikah dan 21,2 persen di siswi SMA telah melakukan aborsi (techno.okezone.com). Dengan demikian, banyak pengaruh negatif yang akan ditimbulkan dari pornografi maupun pornoaksi yang semua itu adalah simbol krisis moral, salah satunya adalah merusak kejernihan pikiran.

Tumbuh suburnya pornografi tidak lepas dari masifnya liberalisme yang berasas pemisahan agama dengan kehidupan (sekuler) yang menjadi acuan pemegang kebijakan. Undang-undang pornografi yang berlaku tumpul membuat konten berbau pornografi tetap saja dikonsumsi masyarakat. Tayangan-tayangan di televisi juga mempertontonkan aurat menambah pelik persoalan ini. Hal ini diperparah dengan ketidakmampuan pemerintah memblokir situs-situs porno, malah disibukkan memblokir situs-situs islam. Aneh bukan?.

Menghadapi berbagai kasus yang disebabkan oleh pornografi di tanah air yang semakin marak, maka perlu kerja sama, bahu-membahu dengan seluruh komponen masyarakat untuk mencegah dan memberangus pornografi. Dukungan dan keikutsertaan organisasi masyarakat maupun badan penegakan hukum, badan kesehatan, sosial dan pendidikan sangat diperlukan dalam menanggulangi faktor-faktor yang dapat mendorong berkembangnya pornografi. Dari fakta tersebut maka perlu dilakukan langkah pasti untuk mencegah semakin maraknya pornografi serta menyelesaikan sumber masalahnya. Mengoptimalkan peran sekolah untuk mencegah berkembangnya pornografi juga perlu dilakukan.

Sekolah menjadi lingkungan ke dua setelah keluarga. Hampir sepertiga dari waktu siswa dihabiskan di sekolah, maka sangat efektif apabila sekolah peduli dengan pencegahan pornografi. Program pencegahan pornografi dengan kampanye stop pronografi di sekolah misalnya, merupakan salah satu strategi yang sangat penting dan bisa dilaksanakan secara komprehensif yang meliputi berbagai kegiatan, seperti bimbingan secara klasikal di kelas, konseling individu, konseling kelompok, kampanye stop pornografi, kegiatan pengajian, kegiatan pembinaan keislaman (halqoh) dan kegiatan relevan lainnya. Sekolah merupakan lembaga yang mempunyai potensi yang sangat besar untuk mempengaruhi kehidupan anak-anak sehari-hari. Guru pun menjadi model dan contoh yang akan diteladani siswa. Sekolah yang merupakan lembaga pendidikan setidaknya mengemban 3 (tiga) fungsi, yaitu:

a. Fungsi reproduksi, bermakna eksistensi sekolah sebagai pembaharu dan mengubah kondisi masyarakat (peradaban) dari yang kurang baik menjadi baik.

b. Fungsi penyadaran, bermakna sekolah bertanggung jawab untuk mempertahankan nilai-nilai agama dan budaya masyarakat dan membentuk kesejatian diri sebagai manusia.

c. Fungsi mediasi secara simultan, bermakna sekolah sebagai wahana sosialisasi, pembawa bendera moralitas, wahana proses pemanusiaan dan kemanusiaan umum, serta pembinaan idealisme sebagai manusia terpelajar. Untuk itulah pendidikan memegang peranan amat penting dalam upaya membangun watak (character building) untuk menjaga kelangsungan hidup sebuah negara atau peradaban.

Selain mengoptimalkan peran sekolah untuk mencabut akar masalah pornografi, memaksimalkan peran Negara adalah hal penting dan mendesak untuk dilakukan. Hanya Negara yang kuat, mandiri dan memiliki prinsip ketundukkan kepada Penciptanya saja yang mampu berani menghapuskan kemaksitan, melenyapkan pornografi. Itu semua bisa terwujud tatkala diterapkannya aturan islam dalam bingkai Khilafah. [VM]

Penulis: Wijaya Kurnia Santoso (Praktisi Pendidikan)

BACA JUGA :

KOMENTAR ANDA:

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Melenyapkan Pornografi, Selamatkan Generasi"

close