Krisis Moral Melanda Generasi Muda - Visi Muslim Media

Artikel Terbaru

 photo Master Mitra Jasa Teknik_zpsc7ntdbto.png

Krisis Moral Melanda Generasi Muda

Anomali dunia pendidikan di Indonesia semakin surut. Output pendidikan yang seharusnya melahirkan generasi-generasi terpelajar, malah bertambah ‘kurang ajar’. Alih-alih yang didambakan adalah lahirnya generasi yang memiliki kecerdasan IPTEK bersanding dengan ketinggian akhlak, dan ketangguhan iman. Fenomena hari ini justru berbanding terbalik dengan yang diharapkan. Kasus-kasus kriminal oleh kalangan pelajar yang semakin tumbuh subur menjadi bukti, betapa kalutnya output pendidikan saat ini.

Barangkali kita masih ingat kasus pak Dasrul, guru SMKN 2 Makassar yang dianiaya oleh muridnya sendiri dibantu sang ayah. Lalu kasus mahasiswa yang menggerek leher dosennya hinga tewas ditoilet. Disisi lain, dikalangan pelajar, konvoi dan ugal-ugalan dijalanan sambil melakukan aksi coret-coret pasca UN menjadi euforia rutin tiap tahunnya. Bahkan tanpa perasaan malu sedikitpun, tidak tanggung-tanggung para pelajar melakukan pesta bikini pasca UN sebagaimana yang terjadi di Jakarta pada April 2015 lalu. Padahal kasus kenakalan remaja lain semisal tawuran, narkoba, geng motor, aborsi, begal masih sulit untuk diatasi. Inikah moral anak bangsa yang diharapkan?

Krisis Moral = Krisis Iman
Krisis moral yang melanda generasi saat ini tidak lain karena krisisnya keimanan dalam dada anak-anak muslim akibat serangan budaya liberal yang dijejali oleh barat, telah mencapai stadium 4. Sebagai contoh: menonton sinetron yang penuh drama cinta berbalut hawa nafsu, mengikuti konser musik, hangout dan segala aktivitas hedonis jauh lebih memikat baginya dibanding mengikuti kegiatan berbau agamis seperti pengajian Islam. Sehingga wajar, apabila rasa bersalah melanggar perintah Allah, takut dosa, malu bermaksiat, tak lagi punya pengaruh yang kuat dalam nadinya sebagai muslim. Sebaliknya, perbuatan yang sudah jelas menyimpang dari nilai moral dan akhlak seorang muslim, justru seringkali menjadi sesuatu yang membanggakan bagi mereka.

Guru pada akhirnya menjadi dilema karena diperhadapkan dengan kondisi siswa yang sangat sulit diatur dan bebas nilai. Ini bisa kita lihat dengan semakin terkikisnya rasa hormat siswa kepada gurunya, kata-kata kasar yang tak seharusnya diucapkan siswa kepada gurunya seringkali kita jumpai dilapangan. Sehingga dalam proses mendidik, guru harus berkerah tenaga agar bisa mksimal menjalankan peranannya sebagai pengajar dan pendidik disekolah.

Sistem Pendidikan Salah Kaprah!
Sebagaimana tujuan dari pendidikan nasional adalah output pendidikan di Indonesia diharapkan seutuhnya menjadi manusia beriman dan bertakwa. Akan tetapi fakta dilapangan, banyak kebijakan-kebijakan dinamika dunia pendidikan yang justru kontradiktif dengan tujuannya. Seperti aktivitas yang mengarah pada liberalisasi, sedangkan kegiatan rohis dan keagamaan dicurigai bahkan dilarang. Konten pelajaran yang mengarah pada pemahaman Islam kaffah dikaburkan dan dihilangkan.

Adanya modul islam damai yang dikeluarkan oleh mentri agama, Lukman Hakim Saifuddin. menjadi bukti pengaburan terhadap pemahaman Islam secara utuh. “Lukman mengatakan, pembuatan modul ini merupakan cara untuk merespon kebutuhan akan keluaran pendidikan yang bersifat Islam damai. Kata Lukmanm, modul juga dapat menjadi cara pemerintah untuk menanggulangi potensi ajaran kekerasan atau radikalisme di lingkungan institusi pendidikan, seperti disekolah umum” (Antaranews.com, 11/8/2015). Padahal dibalik penerapan program tersebut, ada upaya tersistematis pengaburan terhadap ajaran Islam. Karena yang ditanamkan berupa nilai-nilai universal kebebasan berlebel HAM, makna toleransi, hukum jihad, hudud dan khilafah disalah artikan.

Nilai-nilai kehidupan antara benar dan salah kini menjadi cacat makna sebab Alquran dan sunnah sebagai landasan dalam membedakan antara hak dengan yang bathil, mana jalan benar dan yang menyesatkan, tak lagi diamalkan secara utuh. Wajar, jika orientasi hidup anak-anak muslim semakin materialistik dan jauh dari tujuan penciptaannya sebagai hamba Allah.

Masalah ini sejatinya bukan masalah yang berdiri sendiri tetapi persoalan sistemik yang jika tidak menyentuh akar persoalannya, maka penyelesaian terhadap seluruh persoalan yang menimpa dunia pendidikan hari ini tak akan bisa terselesaikan. Akar persoalannya terletak pada ideologi sekulerisme yang diemban oleh negeri ini maupun negeri muslim belahan dunia lainnya.

Kondisi politik dan ekonomi yang diatur dan dikendalikan oleh ideologi barat-sekulerisme, merembes pada dunia pendidikan. Sekulerisasi terhadap pendidikan dan bagaimana pendidikan menjadi sasaran bisnis kaum kapitalis, sangat terasa. Sungguh! Sistem pendidikan saat ini telah salah kaprah. Yang sangat menonjol dari terjadinya sekulerisasi pendidikan adalah dengan dipisahkannya antara ilmu agama dan ilmu umum. Sekolah-sekolah berbasis agamapun dipisahkan dengan sekolah yang mempelajari ilmu-ilmu umum. Karenanya, dominasi tsaqofah Islam hanya dipelajari pada sekolah formal berbasis agama seperti pesantren dan madrasah. Sedangkan sekolah umum, tidak.

Olehnya itu, sekalipun pembenahan terhadap dunia pendidikan terus dilakukan, kurikulum terus berubah, tapi asas yang digunakan masih tetap berkiblat kebarat, maka generasi unggul dalam IPTEK dan teguh iman hanyalah kamuflase.

Kembalikan Pijar Emas Generasi
Kurikulum dan kebijakan pendidikan harusnya berpijak pada pengokohan akidah, penguatan kepribadian Islam, fakih terhadap agama dan cerdas terhadap keilmuwan. Maka sistem pendidikaan berasaskan Islam adalah sebuah keniscayaan untuk mengharapkan generasi demikian. Ini dikarenakan adanya jaminan dari negara yang benar-benar memperhatikan masalah pendidikan sebagai kebutuhan asasi setiap warga negaranya.

Sistem pendidikan Islam, menjamin setiap warga negaranya mendapatkan pendidikan yang berkualitas tanpa dipungut biaya. Jasa guru sebagai pengajar sekaligus pendidik juga sangat dihargai dengan ditetapkannya gaji yang tinggi bagi mereka. Dalam pelaksanaan pendidikan secara formal, design sistem pendidikan Islam dalam bingkai daulah khilafah dirancang berlandaskan pada akidah Islam baik dari kurikulum, mata pelajaran dan metodologi, serta tujuannya.

Bisa dipastikan sistem pendidikan Islam adalah solusi efektif untuk lahirnya generasi pemimpin yang amanah, bertanggung jawab dan tidak cacat moral seperti yang terjadi hari ini. Sebab mereka memiliki pegangan kuat dalam berbuat dan menghadapi tantangan budaya serta pemahaman sesat yang berpotensi merusak akidah dan kepribadiannya sebagai umat muslim.

Lebih jauh lagi, design pengelolaan pendidikan secara khusus dalam daulah khilafah akan mampu melahirkan para pakar, dan ilmuwan yang sekaligus memiliki kepribdian Islam yang mantap dan mampu berkontribusi dimasyarakat dengan kemampuannya. Tentunya ini bukan jaminan sebatas teori belaka, sebab realitas akan keunggulan generasi Islam telah terbukti sebelum kekhilafahan dihapuskan diatas dunia. [VM]

Penulis: Aira Zahidah (Aktivis MHTI Kab. Gowa)

BACA JUGA :

KOMENTAR ANDA:

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Krisis Moral Melanda Generasi Muda"

close