Ketika Karya Tak Lagi Berharga - Visi Muslim Media

Artikel Terbaru

 photo Master Mitra Jasa Teknik_zpsc7ntdbto.png

Ketika Karya Tak Lagi Berharga

Beberapa waktu yang lalu saya menyimak perbincangan teman-teman dalam sebuah group menulis tentang harga sebuah karya. Sedih rasanya ketika mengetahui fakta bahwa seorang penulis hanya mendapatkan royalti dari bukunya rata-rata sekitar 10% saja. Artinya, dari buku seharga Rp 60 ribu, penulis hanya mendapat royalti Rp 6 ribu. Itu belum dipotong pajak. Bisa dibayangkan jika penulis ingin memberikan bukunya secara gratis pada satu orang saja, dia harus berhasil menjual 10 buku dulu.

Sebenarnya ini bukan fakta baru. Namun, tetap saja, seketika hanya bisa menarik nafas panjang, segitu murahnya harga sebuah ilmu. Sebuah karya tak lagi berharga. Lebih tepatnya pencetus karya tersebut tak lagi dihargai.

Tiba-tiba pikiran melesat pada kasus Mobil Listrik Nasional tahun 2003 yang lalu. Tentunya banyak yang masih ingat kisah Ricky Elson, sang pencetus mobil listrik di Indonesia. Ia menempuh pendidikan tinggi teknologinya di Jepang, kemudian bekerja di sebuah perusahaan di negeri sakura itu. Selama 14 tahun di sana, Ricky telah menemukan belasan teknologi motor penggerak listrik yang sudah dipatenkan di Jepang.

Tertarik dengan kemampuan Ricky untuk pengembangan teknologi mobil listrik, Menteri BUMN saat itu, meminta Ricky dan beberapa praktisi pengembang teknologi mobil listrik lainnya untuk bersinergi bersama Kementerian Riset dan Teknologi Indonesia, lembaga penelitian, beberapa universitas dan lembaga pemerintahan terkait, demi mempercepat pengembangan mobil listrik Indonesia. Bahkan Pak Menteri BUMN yang saat itu meminta Ricky mengabdi ke Indonesia rela menghibahkan gajinya sebagai menteri kepada Ricky.

Di pertengahan tahun 2013, Ricky dan timnya bekerja menyelesaikan beberapa purwarupa mobil listrik yang diberi nama Selo dan Gendhis yang digunakan pada KTT APEC yang telah dilaksanakan pada Oktober 2013 di Denpasar, Bali. Namun kemudian proyek mobil listrik nasional itu menghadapi hambatan, karena peraturannya tidak segera keluar. Lelah menunggu kepastian tentang proyek tersebut yang tak kunjung jelas statusnya, ia kemudian kembali ke perusahaan tempat ia semula bekerja di Jepang.

Pikiran pun kembali melesat semakin jauh saat masih duduk di bangku SMA dulu. Saat itu semua siswa baru diminta membuat karya ilmiah. Banyak temuan luar biasa yang kami hasilkan saat itu. Beberapa teman kami berhasil lolos hingga tingkat nasional. Bahkan ada salah satu di antaranya yang dikirim ke Malaysia untuk mempresentasikan hasil penelitiannya. Ada salah satu hasil penelitian yang menarik menurut saya. Satu tim teman saya meneliti tentang pengelolaan limbah. Penelitian itu dilatarbelakangi oleh pencemaran udara yang dihasilkan dari limbah pabrik gula di dekat sekolah. Dampak limbah tersebut, selain membuat sungai kotor, adalah baunya yang menyengat sehingga membuat belajar sangat tidak nyaman. Maka satu tim teman saya saat itu mengadakan eksperimen bagaimana supaya limbah ini bisa diolah dan tidak menimbulkan pencemaran lingkungan. Penelitian pun berhasil. Namun, apa mau dikata, kelanjutan penelitian tidak ada kabarnya. Hasil penelitian tak terpakai dan limbah yang mengalir di sungai samping sekolah pun tetap mencemari udara.

Apa yang saya uraikan di atas hanya sekelumit contoh saja. Kalau kita mau mencermati sebenarnya sangat banyak generasi cerdas yang dimiliki oleh bangsa dan umat ini. Namun sebuah ironi. Kecerdasan mereka, temuan-temuan mereka, karya mereka tak dihargai sebagaimana mestinya.

Ini sangat berbanding terbalik dengan ilmuan-ilmuan masa keemasan Islam. Masa ketika harga buku itu dinilai dengan emas. Di dunia Islam saat itu harga buku tersebut dibayarkan oleh negara dengan emas seberat buku yang ditulis. Buku tersebut kemudian dipasarkan dengan gratis atau harga minimal sekadar mengganti ongkos cetak. Sedangkan penulisnya tidak lagi menerima bayaran dari penerbit ataupun royalti. Hal ini terjadi di masa Khalifah Al-Makmun yang memberikan emas kepada Hunain bin Ishak seberat kitab-kitab yang ia salin ke bahasa Arab dengan ukuran yang sama beratnya.

Semua orang boleh dan berhak bahkan wajib menyebarkan buku-buku tersebut ketika isinya adalah ajakan pada kebaikan. Bukan hanya menyebarkan saja, tapi setiap orang berhak untuk menggandakan dengan cara apa pun. Tidak akan ada penulis atau penerbit yang merasa dirugikan karena konsumen menggandakan tanpa seizin mereka. Bahkan sebaliknya, mereka akan sangat mendorong setiap orang untuk sama-sama menyebarkan buku dan isinya tersebut.

Tidak ada orang yang berteriak-teriak menuntut ganti rugi karena bukunya disalin atau digandakan tanpa seizinnya. Alasannya adalah hak cipta, padahal intinya ia berteriak karena dirugikan secara materi. Hal ini sangat biasa di alam Kapitalisme karena memang segala sesuatu selalu dinilai secara materi. Meskipun hak cipta didengungkan di alam Kapitalisme, nasib pengarang tetap saja merana tanpa ada perlindungan sama sekali. Hanya segelintir pengarang yang karyanya best seller saja yang hidup layak. Itu pun juga tidak terlepas dari potongan pajak ini-itu.

Berbeda dengan sistem Islam yang sangat menghargai ilmu pengetahuan. Kaya tidaknya seorang ulama/ilmuwan tidak bergantung dari laku tidaknya karya tersebut di pasaran. Tapi pemimpin dalam hal ini Khalifah telah memberikan imbalan lebih dari cukup kepada pengarang, penterjemah dan ilmuwan demi agar mereka bisa hidup layak. Bila kehidupan terjamin maka konsentrasi dan dedikasi bisa lebih fokus untuk pengembangan ilmu pengetahuan demi kemajuan Islam. Tak heran bila saat itu, wilayah kekhilafahan Islam menjadi pusat ilmu pengetahuan dan teknologi mengalahkan peradaban lainnya di zaman itu.

Kalau kita masuk mesin waktu menuju abad pertengahan seperti abad ke-10 Masehi (ke-4 Hijriah) dan terbang menyusuri kota-kota dunia Islam dan kota-kota dunia Barat, kita akan terkaget-kaget melihat perbedaan besar antara kedua dunia itu. Anda akan tercengang melihat sebuah dunia yang penuh dengan kehidupan, kekuatan dan peradaban, penuh dengan ilmuan dengan berbagai temuan, yakni dunia Islam. di saat yang sama sebuah dunia lain yang primitif, sama sekali tidak ada kesan kehidupan, ilmu pengetahuan dan peradaban yakni dunia Barat.

Kini, saat umat Islam meninggalkan agamanya, mereka lambat laun mengalami kemunduran terpuruk dan terperosok dalam lubang ideologi rusak yang menghancurkan mereka. itulah yang kita rasakan saat ini. sudah saatnya kita mengembalikan masa keemasan dengan menegakkan daulah Khilafah ‘alaa minhajin nubuwwah. [VM]

Penulis : Kholila Ulin Ni’ma (Dosen Jurusan Tarbiyah STAI al-Fattah Pacitan)

BACA JUGA :

KOMENTAR ANDA:

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Ketika Karya Tak Lagi Berharga"

close