Indonesia Layak Berdiri Imamah (Khilafah )? - Visi Muslim Media

Artikel Terbaru

 photo Master Mitra Jasa Teknik_zpsc7ntdbto.png

Indonesia Layak Berdiri Imamah (Khilafah )?

“Jarum jam perubahan terus berdetak, rezim kapitalis tidak bisa menghentikan ini. Kaum Muslim telah memutuskan menghentikan penjajahan serta mengakhiri kehidupan perbudakan di bawah rezim warisan dari era kolonial, yaitu era Sykes Picot. Anda telah mengetahui angin perubahan yang berhebus di wilayah Arab dari barat hingga ke timur, Umat bergerak untuk mewujudkan era emas dengan membangun sebuah masyarakat Islam dengan tegaknya syariah dalam naungan khilafah. Sambutlah!” Umar Syarifudin, pengamat politik internasional.

Sejak institusi Imamah ( Khilafah ) dihapuskan pada tanggal 28 rajab 1342 H,bertepatan dengan 3 maret 1924 M,oleh Mustafa Kamal Attaturk laknatullah alaihi seorang agen loyalitas kaum kafir Inggris,maka negeri – negeri kaum muslimin yang terbentang luas dari Maroko hingga merauke,benar – benar telah kehilangan mahkota kekuasaan (Taj al-furudh), yang menjamin pelaksaan setiap kewajiban kaum muslimin serta pemersatu bangsa dan umat. Sejauh ini,Imamah (Khilafah) belum terwujud kembali.Maka dari itu,setiap negeri dari negeri kaum muslimin wajib untuk membaiat seorang Imam (Khalifah) dan melaksanakan Akad Imamah ( Khilafah ).

Sesungguhnya Khilafah yang akan menyatukan kaum Muslim dalam satu negara. Dan mereka memiliki kekuatan besar ini, yaitu kewajiban dari aspek syara’, perkara yang bisa terwujudkan dari aspek akal, dan keharusan dari aspek politik.

Bukankah pernyataan Henry Bannerman, tahun 1906, salah seorang Perdana Menteri Inggris, dimana runtuhnya Khilafah menunjukkan dengan jelas posisi strategis yang dinikmati kaum Muslim, ia mengatakan: “Kaum Muslim menguasai tanah yang sangat subur, yang mengandung cadangan sangat besar, baik yang sudah diketahui maupun yang belum ditemukan. Mereka menguasai selat yang mengarah ke jalur lalu lintas perdagangan global, juga tanah mereka merupakan tempat lahirnya banyak peradaban dan agama. Mereka memiliki satu akidah, satu bahasa serta sejarah bersama, dan mereka memiliki aspirasi yang sama, sehingga tidak ada hambatan alami yang bisa mencegah bersatunya mereka. Jika umat ini telah bersekutu dan bersatu semuanya dalam satu negara, maka seluruh potensi dunia akan berada dalam genggamannya, dan ia akan mencabut Eropa dari bagian dunia lainnya (Asia dan Afrika).”

Apa itu Darul Islam?

Darul islam ( Negara islam ) adalah Negara yang padanya diterapkan hukum – hukum islam,dan keamanan orang (rakyat ) yang ada didalamnya dengan keamanan kaum muslim,baik mereka itu kaum muslim sendiri maupun kafir dzimmi (Khallaf ,As SIyasah asy syar’iyyah hal. 71 )

Atau didalam kitab Daulah Islam bab rancangan undang – undang dasar pasal 2

Pasal 2

Darul Islam adalah negeri yang didalamnya diterapkan hukum – hukum islam, dan keamanannya didasarkan pada keamanan Islam.Darul kufur adalah negeri yang didalamnya diterapkan peraturan kufur ,atau keamanannya berdasarkan selain keamanan Islam

Dengan demikian untuk menilai apakah negeri itu negeri islam atau negeri kufur harus diperhatikan dua hal : pertama : penerapan hukum Islam. Kedua : keamanananya dengan keamanan kaum muslim,yakni dengan kekuasaan dan kekkuatan kaum muslim.Apabila kedua elemen ini sudah terpenuhi pada sebuah Negara ,maka Negara itu merupakan Negara islam (haekal ,aljihad wal qital fi asy siyasah syar’iyah).

Itulah dua syarat utama bagi negeri yang akan melakukan akad khilafahdan mengangkat seorang khalifah(baiat in’iqad ).

Apabila kedua syarat ini telah terpenuhi oleh sebuah daerah atau negeri,maka daerah daerah atau negeri itu layak bagi tegaknya kembali khilafah.sebalknya, apabila syarat itu tidak ada salah satunya saja tidak ada, maka daerah atau negeri itu tidak layak bagi tegaknya kembali khilafah.Oleh karena itu Rosulullah saw menolak kekuasaan yang diberikan oleh kaum kafir Quraisy melalui utusannya Utbah bin Rabi’ah.

Artinya ,penolakan Rosulullah saw terhadap tawaran kekuasaan dari kaum Quraisy ketika itu adalah karena tidak terpenuhinya syarat utama untuk mendirikan Negara islam,baik dari segi kekuasaan maupun kemanannya.

Dalam kitab Nizham al-Hukm, Hizbut Tahrir telah membahas masalah ini dengan mendalam, pada sub bab, Man Tan’aqidu bihim al-Khilafah (Siapakah yang Bisa Menjadi Faktor Tegaknya Khilafah), dinyatakan:

Sesungguhnya tiap wilayah Islam yang ada di Dunia Islam layak untuk membaiat Khalifah dan dengan itu Khilafah akan tegak. Jika satu wilayah dari wilayah-wilayah Islam ini telah membaiat seorang khalifah, dan akad Khilafah telah diberikan kepada dirinya, maka hukumnya fardhu ‘ain atas seluruh kaum Muslim di wilayah lain untuk membaiat dia dengan baiat taat atau baiat ketundukan, setelah akad Khilafah sah diberikan kepadanya melalui pembaiatan penduduk (rakyat) wilayah tersebut; baik wilayah ini besar seperti Mesir, Turki dan Indonesia; ataupun kecil seperti Yordania, Tunisia atau Libanon.

Dengan syarat, wilayah tersebut memenuhi empat syarat. Pertama: kekuasaan wilayah tersebut merupakan kekuasaan yang bersifat independen (otonom), yang hanya bersandar (bertumpu) pada (kekuatan) kaum Muslim, bukan bersandar pada salah satu negara kafir, atau kekuasaan (cengkeraman) kaum kafir.

Kedua: keamanan kaum Muslim di wilayah tersebut berada di tangan Islam, bukan di tangan kufur. Dengan kata lain, pertahanan wilayah tersebut dari ancaman domestik maupun asing adalah pertahanan Islam, yang bersumber dari kekuatan kaum Muslim, sebagai kekuatan Islam murni.

Ketiga: wilayah ini harus seketika itu juga menerapkan Islam secara menyeluruh dan revolusioner, dan harus senantiasa bersiap mengemban dakwah Islam (ke luar negeri).

Keempat: Khalifah yang dibaiat harus memenuhi syarat pengangkatan Khilafah, meski tidak menuhi syarat keutamaan, karena yang menjadi patokan adalah syarat pengangkatan (Khilafah).

Jika wilayah tersebut memenuhi empat syarat ini, maka Khilafah benar-benar telah terwujud melalui pembaiatan yang dilakukan oleh wilayah tersebut. Meski hanya dengan (pemba’atan) wilayah itu saja, Khilafah telah tegak sekalipun wilayah ini tidak merepresentasikan mayoritas Ahl al-Halli wa al-‘Aqd dari mayoritas kaum Muslim. Sebabnya, mendirikan Khilafah hukumnya fardhu kifayah. Siapa saja yang melakukan fardhu tersebut dangan bentuk dan ketentuan yang benar, dia bisa dianggap telah melakukan fardhu tersebut.

Apabila suatu daerah atau negeri telah memenuhi syarat utama tersebut,maka khilafah benar – benar telah terwujud dengan terlaksananya baiat oleh penduduk negeri itu kepada khalifah.Orang yang dibaiat dengan baiat in’iqad sesuai dengan ketentuan syariah itu menjadi menjadi khalifah yang sah ,dan selanjutnya tidak boleh membaiat khalifah yang lain.Apabila ada negeri lain yang membaiat khalifah lain setelah itu,maka baiatnya batal dan tidak sah .Rosulullah saw bersabda :

«إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَيْنِ فَاقْتُلُوا اْلآخِرَ مِنْهُمَا»
“Apabila dibaiat dua orang khalifah,maka bunuhlah khalifah yang lain (terakhir) dari yang keduanya. (HR Muslim )

Jika Imamah (Khilafah) telah tegak disuatu negeri dan Khalifah telah terwujud ,maka wajib bagi kaum muslim diseluruh dunia untuk bergabung dibawah panji khalifah dan membaiat khalifah tersebut sebagai baiat taat.Sebab, jika tidak ,maka semuanya berdosa disisi Allah SWT

Indonesia Layakkah?

Asia Tenggara merupakan kawasan yang disebut-sebut sebagai global epicenter of cultural diversity, yaitu kawasan dengan tingkat heterogenitas budaya yang sangat tinggi. Karena itu meski jumlah umat Islam sangat besar di kawasan ini, tetap tidak menjadi entitas dominan seperti di kawasan Timur Tengah. Sebagian umat Islam di Asia Tenggara hidup menjadi kalangan minoritas di negerinya.

Jika batas negara-bangsa digantikan dengan batasan ethno-religious, maka akan terbentuk sebuah busur panjang homogen yang menandakan identitas Muslim di Asia Tenggara yang terbentang dari Myanmar Barat Laut, Thailand Selatan, melalui semenanjung Malaysia, Sumatra, Jawa, area pantai Kalimantan, sampai kepulauan Sulu dan sebagian Mindanao di Filipina Selatan.

Realitas geopolitik menunjukkan penyebaran Islam di Asia Tenggara memiliki dua pola perkembangan. Pertama: Islam muncul sebagai agama mayoritas di beberapa wilayah Asia Tenggara seperti di Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Kedua: Islam tumbuh sebagai kelompok minoritas di lingkungan yang mayoritasnya agama lain seperti di Thailand, Filipina dan Myanmar.

Dimanakah negara Khilafah itu akan tegak? Secara i’tiqadhi bahwa semua itu hanya Allahlah yang mengetahui. Kita hanya bisa berusaha dan menciptakan suasana agar setiap negeri-negeri Muslim layak sebagai tempat tegaknya Khilafah yang kedua kalinya. Indonesia adalah salah satu negeri Muslim yang sangat berpotensi sebagai tempat tegaknya Khilafah yang kedua kali, Sebagaimana pernyataan Prof. Hasan Ko Nakata (Presiden Asosiasi Muslim Jepang), “Indonesia adalah tempat yang memenuhi persyaratan untuk mendirikan kembali Khilafah.”

Mungkinkah Indonesia muncul Khilafah? Bekas Wakil Presiden Amerika Serikat, Dick Cheney pada tanggal 23 Februari 2007 secara jelas menyatakan, “Mereka memiliki tujuan untuk menegakkan Khilafah yang berkuasa dari Spanyol, Afrika Utara melewati Timur Tengah, Asia Selatan hingga mencapai Indonesia dan tidak berhenti di sana.”

Indonesia adalah negeri Muslim terbesar di dunia (12,9 % dari Muslim dunia). Kondisi politik Indonesia yang sampai detik ini masih ‘aman’ memberikan peluang besar bagi perjuangan penegakkan Khilafah. Karena itu, dukungan berbagai elemen umat Islam atas perjuangan menegakkan Khilafah dapat diraih. Selain itu Indonesia memiliki posisi geografis yang strategis karena menjadi pintu yang menghubungkan pusat perdagangan dan industri dunia, strategis bagi jalur mobilitas militer dunia, strategis terkait dengan satelit geostasioner yang berhubungan erat dengan telekomunikasi dunia, sangat kaya akan sumberdaya alam dan manusia. Dengan semua itu pada akhirnya posisi Indonesia secara geopolitik sangat strategis dalam perdagangan dan percaturan politik dunia.

Pernyataan Dick Cheney boleh jadi menjadi isyarat bahwa Khilafah adalah suatu keniscayaan dan mungkin muncul di Indonesia. Apalagi para pejuang pejuang Khilafah di negeri ini bukan hanya dari kalangan mahasiswa dan eks kampus semata, namun telah meliputi berbagai eleman masyarakat. Saat ini bisa kita temui dengan mudah para pejuang dakwah dari kalangan buruh, pegawai negeri, pengusaha, para teknokrat dan tentunya para ulama. Ditambah lagi dengan adanya survey yang pernah dilakukan kepada fakta masyarakat Jabodetabek tentang penerimaan terhadap Khilafah dan syariah ternyata 43%. Ini menunjukkan angka yag sangat signifikan pengaruhnya.

Hal yang menggembirakan, opini Khilafah saat ini tidak bisa dibendung lagi. Dukungan umat Islam di Indonesia akan pentingnya Negara Khilafah makin kuat. Ini menunjukkan bahwa fajar kemenangan Islam akan segera terbit dan akan menyinari seluruh jagad raya.

Namun, umat perlu waspada dengan segala makar, dan segera mewujudkan persatuan dan mempertahankan keutuhannya. Jika umat ingin bangkit, negeri ini tidak cukup hanya dengan berganti pemimpin atau pejabatnya, namun diperlukan pula sebuah sistem negara dengan kualitas nomor wahid. Umat pun perlu diarahkan supaya memiliki kesadaran ideologis. [VM]

Penulis : Ali Maksum (Kediri)

BACA JUGA :

KOMENTAR ANDA:

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Indonesia Layak Berdiri Imamah (Khilafah )?"

close