eLGeBeTe Ada Obatnya - Visi Muslim Media

Artikel Terbaru

 photo Master Mitra Jasa Teknik_zpsc7ntdbto.png

eLGeBeTe Ada Obatnya

Obat atau drug, disebut juga medicine berdasarkan UU No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan didefinisikan sebagai bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi, untuk manusia. Dengan kata lain, obat adalah solusi atas masalah kesehatan secara khusus, dapat pula dikatakan sebagai solusi masalah kehidupan secara umum.

Saat ini masyarakat di Indonesia dan dunia sedang terjangkit “penyakit” kehidupan berupa penyimpangan perilaku yaitu maraknya lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Lesbian merupakan sebutan bagi perempuan yang memiliki penyimpangan perilaku berupa kecenderungan terhadap sesama perempuan. Gay adalah sebutan bagi pelaku penyimpangan perilaku namun pada laki-laki yang memiliki kecenderungan mencintai sesama laki-laki. Biseksual yaitu sebutan bagi pelaku penyimpangan perilaku berupa kecenderungan menyukai laki-laki dan/atau perempuan, sedangkan transgender kecenderungan laki-laki atau perempuan yang berpenampilan seperti perempuan atau laki-laki, berkebalikan dengan asalnya. Hal ini merupakan problem serius yang harus segera ditemukan obatnya.

Islam sebagai agama sekaligus pandangan hidup telah memberi solusi tuntas atas segala problematika yang ada di dunia, baik berkaitan dengan manusia, alam semesta (mencakup hewan, tanaman, sumber daya alam, dan lainnya), serta kehidupan (al-hayah). Masalah LGBT tentu juga ada solusinya dalam Islam. Sebelum menetapkan atau mengambil sebuah solusi maka perlu ditegakkan terlebih dahulu causa prima atau akar masalah dari problematika LGBT.

Fenomena LGBT merupakan strategi Barat untuk mempertahankan jajahan, hal ini dilakukan berkaitan dengan faktor ideologis (pandangan hidup tertentu), teori TR Malthus adalah salah satu teori yang diadopsi oleh Barat menyatakan bahwa pertumbuhan jumlah penduduk mengikuti deret ukur sedangkan pertumbuhan barang dan jasa mengikuti deret hitung sehingga agar kebutuhan manusia terpenuhi maka pertumbuhan jumlah penduduk harus dikendalikan dengan menganjurkan LGBT. Selain sebagai strategi, kesalahan pola asuh orangtua juga dapat berperan timbulnya LGBT. Faktor lingkungan menjadi faktor penting pula yang menyuburkan benih-benih LGBT yang telah ditanam oleh Barat.

Jika telah diketahui akar masalahnya maka solusi yang diberikan sebagai terapi untuk mengatasi masalah LGBT dapat ditentukan. Islam memandang bonus demografi (banyaknya jumlah penduduk) sebagai berkah. Allah menjamin rizki setiap makhluk, tidak akan tertukar ataupun kehabisan sehingga saling berebut. Orangtua bertanggung jawab penuh terkait pola asuh anak sehingga celah penyimpangan bisa dideteksi dengan mudah kemudian diatasi secara tegas. Pelaku lesbian, gay, dan biseksual dapat dihukum mati, sedangkan pelaku transgender jika tidak sodomi dikenai hukuman ta’zir (sanksi bagi kemaksiatan yang tidak ada kafarat dan had). Lingkungan terkondisikan kondusif dengan adanya kebiasaan amar ma’ruf di tengah masyarakat jika terdapat hal yang menyimpang.

Begitulah obat mujarab dengan efficacy, quality, dan safety yang jelas dijamin oleh Allah dapat menyelesaikan masalah LGBT. Allah adalah Pencipta dunia dan seisinya tentu Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi yang diciptakan. Jika manusia memaksakan diri membuat aturan sendiri kemudian diterapkan dalam kehidupan tanpa disndarkan pada rambu-rambu (syariat) yang ditetapkan Allah, maka tunggulah masa kehancurannya. Mari kembali kepada Islam sebagai wujud ketaatan kepada Allah. Dengan demikian solusi tuntas masalah kehidupan dapat ditemukan. Islam adalah obat mujarab bagi semua penyakit kehidupan termasuk LGBT. [VM]

Penulis : Meivita Yusmala Dewi, S. Farm., Apt. (Mahasiswa Program Magister Ilmu Farmasi Universitas Airlangga Surabaya)

BACA JUGA :

KOMENTAR ANDA:

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "eLGeBeTe Ada Obatnya"

close