Demokrasi Tak Menyatukan, Lantas Mengapa Masih Dipertahankan? - Visi Muslim Media

Artikel Terbaru

 photo Master Mitra Jasa Teknik_zpsc7ntdbto.png

Demokrasi Tak Menyatukan, Lantas Mengapa Masih Dipertahankan?

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengajak umat beragama untuk menjadikan rumah ibadah sebagai tempat saling merekatkan persaudaraan dan memperkokoh peri kemanusiaan. Ajakan ini disampaikan Menag sehubungan adanya rumah ibadah yang memasang spanduk bertuliskan “Masjid ini tidak menshalatkan jenazah pendukung dan pembela penista agama” yang menjadi viral di media sosial.

Di tempat berbeda, ada juga spanduk yang terpasang dengan tulisan “Masjid ini serta seluruh jamaah masyarakat Muslim yang patuh dan taat kepada Kitab Suci Alquran Surat At Taubah ayat 84 tentang orang munafiq tidak akan menshalatkan, mentahlilkan, dan membantu pengurusan jenazah orang-orang munafiq yang membela dan mendukung penista agama”

Ini merupakan pengaruh dari drama panjang kasus penistaan agama dengan tersangka calon Gubernur DKI Jakarta.

Melihat kondisi ini sungguh miris, umat seolah terpecah menjadi dua kubu. Dipasangnya spanduk tersebut adalah bentuk kekecewaan terhadap saudara muslim yang mendukung calon pemimpin kafir yang telah menistakan Al Qur’an. Walaupun demikian tindakan ini tidak dibenarkan karena mengurus jenazah hukumnya adalah fardhu a’in dimana jika tidak ada yang melaksakan maka seluruh umat menanggung dosanya.

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰۤى اَوْلِيَآءَ ۘ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ؕ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِنَّهٗ مِنْهُمْ ؕ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin(mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Ma’idah: Ayat 51)

Dalam Islam jelas haram hukumnya seorang Kafir menjadi pemimpin kaum muslim. Lalu mengapa di Indonesia negara besar dengan penduduknya mayoritas muslim membolehkan sorang kafir memimpin? Karena Indonesia menganut sistem Demokrasi Sekuler.

Demokrasi sangat lekat dengan asas kebebasan yaitu : kebebasan berakidah, kebebasan berpendapat, kebebasan hak milik dan kebebasan pribadi. Dalam sistem ini memandang bahwa manusia berhak membuat peraturan atau undang-undang tanpa melibatkan aturan agama. Sehingga membolehkan siapa saja menjadi pemimpin termasuk orang kafir, sangat bertentangan dengan Islam. Sedangkan sebagian umat yang menyeru pada kebenaran ingin menerapkan agama dalam kehidupan malah dianggap makar. Maka tidak heran jika terjadi perpecahan seperti saat ini.

Allah SWT berfirman:

وَلَنْ يَّجْعَلَ اللّٰهُ لِلْكٰفِرِيْنَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ سَبِيْلًا

“….Allah tidak akan memberi jalan kepada orang kafir untuk mengalahkan orang-orang beriman.” (QS. An-Nisa’: Ayat 141)

Allah saja tidak ridho dan tidak memberi jalan kepada orang kafir, lantas kita manusia sangat memberi jalan. Sama saja dengan kita menantang Allah bukan?

Sistem demokrasi ini telah memecah belah lalu mengapa masih dilanjutkan? Sistem demokrasi ini tak menyatukan lalu mengapa masih dipertahankan?

Allah menciptakan manusia dan kehudupan sepaket dengan aturannya, mengapa tidak kita terapkan?
Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ کَآفَّةً ۖ وَلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ ؕ اِنَّهٗ لَـکُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.”
(QS. Al-Baqarah: Ayat 208)

Masuk ke dalam Islam secara menyeluruh yang artinya bukan hanya ibadah ritual pribadi namun meliputi seluruh aspek kehidupan termasuk pada pemerintahan negara. Wallahualam bishowab. [VM]

Penulis : Dwi Sarni (Aktivis MHTI Jakarta Utara)

BACA JUGA :

KOMENTAR ANDA:

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Demokrasi Tak Menyatukan, Lantas Mengapa Masih Dipertahankan?"

close