Demokrasi ‘Memang’ Kebablasan - Visi Muslim Media

Artikel Terbaru

 photo Master Mitra Jasa Teknik_zpsc7ntdbto.png

Demokrasi ‘Memang’ Kebablasan

Demokratisasi di Indonesia mendapatkan perhatian penuh pasca orde baru. Demokrasi dipuja menjadi sistem terbaik di antara sistem buruk yang pernah diterapkan di Indonesia. Gaung demokratisasi di belahan dunia pasca perang dunia kedua mulai dipraktekkan. Kondisi itu terjadi pasca negara-negara itu berlepas dari belenggu penjajahan.

Publik dunia dan Indonesia memang masih menikmati demokrasi kulitnya. Hal ini dikarenakan demokrasi masih dibungkus rapi untuk menyembunyikan niatan sesungguhnya. Demokrasi di Indonesia berwujud beragam rupa. Praktek demi praktek tak lantas menjadikan negeri ini tuntas dalam menjalankan sistem politiknya. Justru pada dekade ini hal yang dihasilkan adalah kebebasan (liberal). Tak heran jika Presiden Jokowi menyebutkan demokrasi kita kebablasan. Praktik demokrasi kita sudah membuka peluang terjadinya artikulasi politik yang ekstrim seperti liberalisme, radikalisme, fundamentalisme, sektarianisme dan terorisme serta ajaran lain yang bertentangan dengan Pancasila.

Perbincangan demokrasi di negeri muslim, khususnya Indonesia memang menarik. Sosiologi politik masyarakat Indonesia mayoritas muslim. Umat Islam sesungguhnya memiliki perangkat tersendiri dalam persoalan pengaturan politik. Begitu pula demokrasi coba ditanamkan dan dipraktekkan agar bisa bersanding dengan Islam. Kondisi inilah yang akhirnya dijadikan contoh dan klaim Barat bahwa demokrasi tidak bertentangan dengan Islam. Begitu pun Islam tidak bertentangan dengan demokrasi.

Klaim Barat itu sesungguhnya perlu diuji secara kritis dan analitis. Apakah klaim itu didasari oleh kampanye global demokrasi di seluruh dunia? Atau ada tujuan khusus Barat dalam menancapkan hegemoni di negeri-negeri kaum muslim? Atau Barat sengaja menutupi kelemahan demokrasi tatkala mereka tidak konsisten dengan perjuangannya? Beragam pertanyaan inilah yang sesungguhnya perlu ditujukan kepada pemuja dan pengusung demokrasi. Tak terkecuali negara yang menerapkan dan memperdagangkannya ke belahan dunia.

Di sisi lain, perlu adanya upaya pembahasan secara khusus perbedaan demokrasi dengan sistem Islam. Apakah klaim mereka benar bahwa demokrasi tidak bertentangan dengan Islam? Jika memang bertentangan maka harus ada pemisahan secara diametral agar umat Islam mampu memahami kedua konsep itu dengan sahih dan tidak abu-abu.

Demokrasi atau Democrazy?
Definisi demokrasi sudah sering dibahas dengan kutipan dari Abraham Lincoln, yakni suatu pemerintahan ‘dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat’. Demokrasi sesungguhnya adalah sepertangkat gagasan dan prinsip tentang kebebasan, tapi juga mencakup seperangkat praktek dan prosedur yang terbentuk melalu sejarah panjang dan sering berliku-liku. Pendeknya, demokrasi adalah pelembagaan dari kebebasan (Apakah Demokrasi Itu? United States Information Agency, hlm.4, 1991).

Jelaslah kebebasan dan tanpa terikat aturan inilah yang melandasi kinerja demokrasi. Kebebasan dipuja-puja dan dijadikan nomor satu. Peniadaan agama juga terjadi, bahkan penyerahan sepenuhnya hanya kepada manusia. Kaum skeptis bermunculan, lalu berpendapata bahwa demokrasi liberal modern adalah benda antik khas Barat yang tidak dapat berbiak dengan berhasil di budaya non-Barat. Sayangnya di negeri-negeri kaum muslim demokrasi coba dipaksakan melalui sistem, UU, dan antek-anteknya.

Beberapa peristiwa di Indonesia, semisal Pilpres, Pileg, dan Pilkada langsung menunjukan liberalisasi dalam politik. Ada pula yang menyebutnya itu bagian dari democrazy, demo pertunjukan kegilaan. Bagaimana tidak, uang dihamburkan dalam money politic. Sengketa pun diangkat di Mahkamah Konstitusi. Dewan legislatif satu sama laing berdebat terkait aturan dan UU. Beberapa kalangan juga menyatakan bahwa demokrasi diidentikan jalan menuju korupsi. Berbiaya mahal hasilnya pun tidak normal.

Pernyataan Chester E. Finn Jr., guru besar dalam pendidikan dan kebijakan umum di Universitas Vanderbilt dan direktur Educational Excellence Network, dalam suatu pidato di hadapan para pendidik dan pejabat pemerintah Mangua, Nikaragua, mengatakan “Bahwa manusia secara alamiah memilih kebebasan ketimbang penindasan adalah hal yang sangat wajat. Tapi itu tidak sama dengan mengatakan bahwa sistem politik demokrasi dapat diharapkan tercipta dan mempertahankan dirinya sepanjang masa. Sebaliknya, gagasan tentang demokrasi itu langgeng, tetapi prakteknya sulit” (Apakah Demokrasi Itu? United States Information Agency, hlm.3, 1991)

Fakta demikian kian menunjukan bawa demokrasi jauh dari kesempurnaan. Definisinya dan cita-citanya tampak ideal, namun demokrasi harus menelan ludahnya sendiri bersamaan dengan klaim kebaikannya. Menuntut demokrasi diterapkan secara sempurna pun mustahil. Pasalnya, demokrasi bergantung yang berkuasa. Rakyat sekadar sebagai stempel demi mewujudkan hasrat kuasa. Upaya penyempurnaan demokrasi menuju ideal adalah tambal sulam dan tak akan menyelesaikan persoalan. Hal yang seharusnya dilakukan adalah mereformasi demokrasi dan menggantinya dengan sistem yang lebih baik dan kompatibel.

Sejarah demokrasi sendiri menurut David Held membingungkan. Pertama, hampir semua orang pada masa ini mengaku sebagai demokrat. Beragam jenis rezim politik di seluruh dunia mendeskripsikan dirinya sebagai demokrasi. Namun demikian, apa yang dikatakan dan diperbuat oleh rezim yang satu dengan yang lain sering berbeda secara substansial. Demokrasi kelihatannya melegitimasi kehidupan politik modern: penyusunan dan penegakan hukum dipandang adil dan benar jika ‘demokratis’. Pada kenyataanya tidak selalu demikian. Dari zaman Yunani Kuno hingga sekarang mayoritas teroritikus di bidang politik banyak melontarkan kritik terhadap teori dan praktik demokrasi. Komitmen umum terhadap demokrasi merupakan fenomena yang terjadi baru-baru ini.

Kedua, sementara banyak negara pada saat ini menganut paham demokrasi, sejarah lembaga politiknya mengungkap adanya kerapuhan dan kerawanan tatanan demokrasi. Sejarah eropa pada abad ke-20 sendiri menggambarkan dengan jelas bahwa demokrasi merupakan bentuk pemerintahan yang sangat sulit untuk diwujudkan dan dijaga: fasisme, nazisme, dan stanilisme hampir saja menghancurkannya. Demokrasi telah berkembang melalui perlawanan sosial intensif. Demokrasi juga sering dikorbankan dalam perlawanan serupa. (Model of Democracy, Akbar Tanjung Institute, 2007, hlm. Xxiii)

Kritik tajam terhadap demokrasi dan demokratisasi inilah menjadi catatan penting. Pemuja dan pejuang demokrasi harus mampu memahami betul bahwa demokrasi jauh dari kesempurnaan dan keidealan. Selama ini rakyat disuguhi demokrasi sebatas keikutsertaan dalam pemilu, demonstrasi, dan lingkup kecil politik. Selebihnya, rakyat ditinggalkan dan dianaktirikan karena tugasnya sudah selesai. Bersambung……. [VM]

Penulis: Hanif Kristianto (Analis Politik dan Media)

BACA JUGA :

KOMENTAR ANDA:

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Demokrasi ‘Memang’ Kebablasan"

close