Remaja Kepo, Why Not? - Visi Muslim Media

Artikel Terbaru

 photo Master Mitra Jasa Teknik_zpsc7ntdbto.png

Remaja Kepo, Why Not?

Ibu kamu yang jualan gado-gado di seberang jalan itu ya? Trus tiap pulang sekolah kamu sering bantu jualan di sana kan? Aku sering lihat kamu di sana lho. Kamu sekolahnya di SMK yang itu kan? Eh ngomong-ngomong akun fesbuk kamu apa namanya? PIN BB kamu berapa? Klo alamat rumah kamu di mana? Eemm…nomor sepatu, nomor sepatu, berapa nomor sepatu kamu?

Iiihhhh…. Kepo banget nih orang. Tanya mulu kayak petugas sensus. Kira-kira kamu pernah nggak di kepoin orang semacam di atas? Suka nanya soal yang nggak jelas bahkan terkadang soal pribadi? Bikin jengkel bingits. Tapi tenang aja dalam tulisan kali ini nggak akan bikin kamu jengkel kok coz tulisan kali ini nggak sedang membahas tentang kepo seperti yang di atas. Tapi kita akan membahas tentang kepo yang jauh lebih dahsyat dan bermakna. Kira-kira apa ya? Loh kok jadi ikut-kutan kepo, hehehe…

Oke deh biar nggak makin kepo dan bikin baper. Langsung aja, pembahasan kita dalam tulisan kali ini adalah kepo kependekan dari kenal politik. Politik? Iya politik. Nggak usah kaget pake bengong. Meski kamu remaja, nggak ada salahnya kan klo harus kenal politik? Bahkan bukan hanya kenal tapi mesti paham juga tentang apa itu politik.

Remaja Harus Smart
Menjadi remaja Muslim itu harus smart. Selain prestasi akademik, pengetahuan juga harus luas. Klo yang ada di benak kamu cuma mikirin pacaran, cangkru’an, hura-hura, galau, update status fesbuk yang penuh dengan keluhan dan umpatan, lalu nggak mau mikirin yang berat-berat macam ekonomi, politik, hukum, pemerintahan, dan menganggap semua itu bikin bete, berarti ada yang salah dengan dirimu. Berarti kamu udah males mikirin orang lain, karena kalian disibukkan dengan urusan sendiri. Betul?

So, nggak usah kaget klo saya ngajak kamu untuk ngobrol soal politik. Remaja kan juga punya hak dan kewajiban yang sama dengan urusan politik. Klo kamu males diajak ngobrolin urusan politik, bisa-bisa kamu gampang dipolitikin sama orang lain yang ngerti politik. Lho, kok bisa? Ya, bisa lah…

Kamu suka ngikutin berita di media massa nggak? Klo nonton tivi tuh jangan hanya acara musik, sinetron dan Infotainment aja, sekali-kali pindah channel berita biar tau kabar dunia. Klo pas baca koran jangan halaman sport dan hiburan aja, sekali-kali baca tuh kolom berita politik, ekonomi, dll biar nggak ketinggalan informasi. Klo lagi mantengin internet jangan cuma update status yang nggak jelas dan main game mulu biar nggak kupeng alias kurang pengetahuan.

Tapi tentunya, kita harus menelaah secara mendalam setiap informasi yang kita terima. Mengapa acara musik dan sinetron digemari, kok bisa sih sepak bola jadi bisnis dan hiburan, nggak cuma sebagai pertandingan olah raga, alasannya apa harga BBM dinaikkan, harga pupuk mahal dan langka pula, kenapa juga TDL (tarif dasar listrik) makin mahal, mengapa bisa jutaan umat Islam bersatu turun ke jalan dalam aksi 411 dan 212, kenapa ada gubernur yang berstatus tersangka kok tidak ditahan tapi malah aktif menjabat, kok bisa sih Ulama dikriminalisasi, dan mungkin masih ada jutaan tanya lain yang bisa kalian ajukan. Pernah nggak kepikiran kayak gitu?

Salah Kaprah Politik
Politik di sini bukan berarti urusannya dengan partai politik, lalu kamu nyalonin jadi anggota DPR atau sejenisnya. Itu hanya bagian kecil dalam aktivitas politik di negara kapitalis seperti yang kamu saksikan sekarang. Nyebelin memang.

By the way, kamu harus tahu dulu apa itu politik. Klo berdasarkan pemahaman yang ada sekarang, politik itu memang berarti sesuatu yang “kejam”. Gimana nggak, wong dalam politik saat ini ada istilah nggak ada musuh yang abadi, nggak ada kawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan yang abadi. Seperti itukah?

Kamu bisa saksikan sendiri. Gimana para pemimpin negeri ini saling jegal, saling sikut, saling serang untuk dapat menduduki jabatan empuk. Klo udah gitu ujung-ujungnya lupa deh sama rakyat yang seharusnya diurus. Bila politik identik dengan beginian, maka yakin bakalan banyak orang berpandangan miring terhadap aktivitas politik. Banyak remaja khususnya, mereka enggan dengan aktivitas politik, alasannya politik itu kotorlah, bukan urusan kitalah, nggak pentinglah dan beragam pendapat lainnya.

Politik Dalam Islam
Saat ini politik hanya lebih diartikan “kekuasaan”. Sesungguhnya di dalam Islam politik bukan hanya seputar kekuasaan atau pemerintahan semata. Lalu apa arti politik dalam pandangan Islam? Dalam kitab Mafahim Siyasiyah dijelaskan bahwa politik adalah ri’ayatusy syu’unil ummah, alias pengaturan urusan umat. Adapun pengaturan urusan umat itu nggak melulu urusan pemerintahan seperti sangkaan banyak orang, melainkan termasuk di dalamnya aspek ekonomi (iqtishadi), pidana (uqubat), sosial (ijtima’i), pendidikan (tarbiyah) dan lain-lain. Termasuk juga urusan gaul remaja. Karena remaja juga bagian dari umat maka peduli terhadap remaja juga termasuk urusan politik tentunya.

Maka dari itulah remaja harus kenal dan melek politik. Termasuk sadar akan kondisi umat. Remaja harus membuka mata. Salah satunya harus melihat realita remaja itu sendiri. Fakta terkini menunjukkan kasus remaja seperti pergaulan bebas, narkoba, pencabulan dan perkosaan masih terus nyaring terdengar. Oleh karena itu remaja harus ikut aktif terlibat untuk melakukan perubahan yaitu terlibat dalam aktivitas politik. Lalu apa saja yang bisa dilakukan remaja agar Indonesia serta keadaan kita bisa lebih baik?

Remaja memiliki banyak potensi, remaja adalah aset generasi, remaja pasti bisa melakukan perubahan. Perubahan secara politis dengan cara berdakwah merubah pemikiran. InsyaAllah tidak sendiri tetapi bersama-sama dalam jamaah yang juga memperjuangkan Islam agar segera tegak di bumi Allah. Sebagaimana seruan Allah SWT dalam QS. Al-Anfal ayat 24 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (Islam)”. Wallahualam. [VM]

Penulis: Afif Arrozy (Pemerhati Remaja di Bojonegoro)

BACA JUGA :

KOMENTAR ANDA:

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Remaja Kepo, Why Not?"

close