Matikah Produktivitas Pergerakan Mahasiswa? - Visi Muslim Media

Artikel Terbaru

 photo Master Mitra Jasa Teknik_zpsc7ntdbto.png

Matikah Produktivitas Pergerakan Mahasiswa?

Mahasiswa adalah kaum intelektual, selain aktif mengikuti kegiatan akademik, sebagian mahasiswajuga dekat dengan aktivitas organisasi dan pergerakan. Kampus sebagai wadah pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat merupakan ‘lahan subur’ dalam menumbuhkan berbagai macam organisasi mahasiswa dan pergerakan mahasiswa.

Kapitalisme,sebuah pemikiran politik barat yang tegak atas dasar pemisahan agama dengan kehidupan (sekulerisme), ditambah dengan diterapkannya demokrasi yang membebaskan manusia berhak membuat peraturan hidupnya sendiri telah membelenggu pergerakan mahasiswa. Dalam kapitalisme mahasiswa hanya ditempatkanpada posisi untukmemenuhi tuntutan akademik, mengisi perusahaan-perusahaan, ataupun menjadi entertain di rung-ruang publik. Kebijakan kampus dalam bidang penelitian misalnya, yang menitikberatkan pada nilai ekonomis adalah bukti untuk mendorong mahasiswa untuk berfikir tentang profit, pekerjaan dan karir.Akhirnya mahasiswa hanya disibukkan dengan aktivitas yang jauh dari masyarakat. Tak ada lagi peran agen of change dan tak adalagi peran sosial control yang menonjol di masyrakat. Mahasiswa tergerus arus kapitalisme global yang mengharuskan manusia meghamba pada harta.

Mati suri ! pergerakan mahasiswa mandul. Mahasiswa kehilangan arah pergerakan, organisasi-organisasi mahasiswa bergerak tanpa landasan yang kokoh, sporadis, tidak terkontrol, mudah dibelokkan, dan digembosi. Contohnya, Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM-SI) yang menolak kebijakan kenaikan harga BBM pada 12 Januari 2017 menghasilkan sebuah nota kesepahaman yang mengecewakan. Konten dari Nota Kesepahaman tersebut juga dianggap tidak sesuai lagi dengan perjuangan yang digaung-gaungkan. Tidak terdapat kata-kata atau kalimat yang cukup tegas untuk meminta pemerintah membatalkan kebijakan yang dianggap menyengsarakan rakyatnya.(anaktelkom.com). Jika level organisasi pergerakan mahasiswa selevel BEM-SI saja begitu rupa bagaimana dengan yang lain? Tak akan jauh berbeda.

Sadarlah wahai engkau mahasiswa, kita adalah iron stock. Generasi penerus bangsa ini. Jangan sedikitpun engkau lewatkan waktumu untuk berfikir tentang bangsa ini. Bangsa kita Negara Kesatuan Indonesia harus kita jaga. Jangan hanya bangga dengan semboyan NKRI harga mati, namun aktivitas pergerakan kita mandul, kita mati suri ! .Dikancah pergerakan nasional untuk membangun bangsa ini,tak ada kontribusi kita yang signifikan. Jangan hanya jadikan NKRI harga mati sebagai seruan-seruan sumbang yang tanpa mengkaji, tanpa aksi , lebih lagi tanpa solusi. Berteriak bela rakyat namun kita sendiri takpernah meneliti problem utama serta solusi terbaik untuk mengakhiri penderitaan rakyat.

Pergerakan mahasiswa harus memiliki landasan yang kuat agar tidak mudah terdistorsi oleh kapitalisme, dan dasar tersebut haruslah landasan ideologi (mabda’) yakni sebuah pandangan hidup yang kokoh, menyeluruh, dankonfrehensif. Serta bisa menjawab seluruh problematika kehidupan. Islam adalah jawabannya, islam sebagai ideologi (mabda’), dapat dijadikan landasan yang sangat kokoh bagiseorang muslim terutama oleh mahasiswa untuk melandasi pergerakannya. Agama islam adalah agama yang unik dan berbeda dengan agama-agama yang lain . Islam menetapkan aturan tidak hanya pada ibadah-ibadah mahdah saja, tapi juga pada pengaturan urusan rakyat seperti sistem ekonomi, sistem sosial, dan sistem politik. Dengan islam sebagai dasar pergerakan akan menjadikan mahasiswa sebagai kelompok yang terdepan dalam memberikan solusi-solusi disetiap masalah yang ada di masyarakat. Karena islam punya konsep yang jelas untuk menyelesaikan seluruh problematika itu.

Keterpurukan negeri ini, segala problem sistemik yang ada harus segera kita carikan solusinya. Mahasiswa harus mengamati, mengkaji dengan mendalam, dan merenungkan apa akar masalah yang menimpa negeri ini. Sejarah Indonesia masa lalu dapat kita jadikan refleksi dan perenungan. Reformasi yang dilakukan mahasiswa tahun 1998 telah gagal dalam membawa rakyat Indonesia kedalam kesejahteraan dan kemakmuran. Justru pasca reformasi yang kita rasakan saat ini, Indonesia menjadi makin terpurukdalam segala aspek dan segmen sehingga menempatkan Indonesia kedalam jalan tol menuju kehancuran. Dari pengalaman itu mahasiswa harus sadar bahwa, problem sistemik yang dihadapi Indonesia bukan hanya masalah rezim tapi juga sistem yang diterapkan.

Demokrasi telah memberikan peluang para pemilik modal (pengusaha) untuk mencengkeram negreri ini melalui simbiosis mutualisme pengusaha dan penguasa. Pengusaha memberikan modal kampanye yang sangat tinggi kepada calon-calon penguasa, setelah mereka menjadi penguasa mereka akan membuat kebijakan yang menguntungkan para pengusaha itu, sebagai balas budi mereka yang telah memberikan dana kampanye. Rakyat hanya dijadikan sapi perah, ditipu dengan janji-janji kesejahteraan yang kosong. Kita sudah sangat sering menyaksikan penguasa-penguasa itu mengecewakan rakyat dengan korupsidan kebijakan yang dzalim seperti naiknya harga bbm, listrik, pajak dan sebagainya.

Rezim dan sistem demokrasi-kapitalisme telah menjadi jurus yang ampuh dalam memiskinkan rakyat kecil dan membuat pemilik modal makin jumawa dengan kekayaannya. Dua hal itulah yang harus kita ubah. Ganti rezim! Ganti sistem!, tidak ada yang lain selain dengan islam karena islam punya konsep cemerlang dalam mengatur sebuah Negara. Dengan islam kita pasti berjaya. Allahu akbar! [VM]

Penulis: Yudhi SBS (LKM DPD 2 HTI Nganjuk)

BACA JUGA :

KOMENTAR ANDA:

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Matikah Produktivitas Pergerakan Mahasiswa?"

close