Catatan Kritis ‘INTRIK’ Pidato Megawati - Visi Muslim Media

Artikel Terbaru

 photo Master Mitra Jasa Teknik_zpsc7ntdbto.png

Catatan Kritis ‘INTRIK’ Pidato Megawati

Laporkan iklan tak layak ⤴
Laporkan iklan tak layak ⤴

Oleh : Fathur Rahman Alfaruq 
(Pengasuh Majelis Tsaqofah Islamiyah Darul Falah Brondong Lamongan)

Pidato politik dari seorang politisi begitu menarik. Bahkan pidato itu didengar pasang telinga dan layak untuk diberi catatatan kritis. Seperti halnya pidato Megawati Soekarnoputri, ketua umum DPP PDIP pada hari ulang tahun PDIP ke 44 (10/1/2017) menyatakan bahwa:

1) "IDEOLOGI TERTUTUP itu cenderung bersifat dogmatis, pemaksaan, totaliter, propaganda, anti keberagaman". 

2) "PARA PEMIMPIN yang menganut idiologi tertutup pun memposisikan diri mereka sebagai "Self Fulfilling Prophecies (PARA PERAMAL MASA DEPAN)". Mereka dengan fasih meramalkan yg akan terjadi di masa datang termasuk dalam kehidupan setelah fana (AKHERAT). Padahal notabena mereka sendiri tentu BELUM PERNAH MELIHATNYA".

Nah, dari pernyataan itu menimbulkan banyak tanya. Apakah ideologi tertutup yang dimaksud? Apakah ungkapan itu ditujukan untuk membungkam dan menyerang musuh politik? Dua pernyataan tersebut pun, mengusik hati sanubari yang dalam. Dua pernyataan tersebut dan Keseluruhan isi pidato, dapat difahami adanya: 

Pertama, menunjukkan ketidakfahaman terhadap hakikat ideologi (mabda). Al alamah syekh Taqiyuddin an Nabhani mendefinisikan ideologi (mabda)  adalah aqidah aqliyah yang melahirkan peraturan. Yang dimaksud akidah adalah pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan hidup; serta tentang apa yang ada sebelum dan setelah kehidupan, di samping hubungannya dengan sebelum dan sesudah alam kehidupan. Sedangkan peraturan yang lahir dari akidah tidak lain berfungsi untuk memecahkan dan mengatasi berbagai problematika hidup manusia (nidzamul islam, hal 24).

Definisi tersebut menunjukan bahwa ideologi adalah bersifat rasional, aqliyah ( proses berfikir) dan bukan dogmatis. Berupa pemikiran menyeluruh, mendasar, dan khas yang tidak boleh pemikiran mendasar lain menginfiltrasinya. Begitu pu;a melahirkan peraturan yang dapat menyelesaikan persoalan hidup yang berkembang. sehingga bersifat dinamis, kritis, dan solutif.

Kedua, adanya upaya mengenaralisis semua ideologi tertutup. Hal ini berbahaya dan bahkan dapat menyesatkan umat. Sementara islam sebagai agama dan ideologi memiliki kekhasan tersendiri yang tidak dapat dikelompokkan sebagai ideologi tertutup atau ideologi terbuka dengan definisi dan ciri yang telah ada.

Ketiga, adanya penghinaan terhadap pemimpin, ulama, tokoh yang menganut ideologi islam sebagai ideologi "tertutup (menurut mereka)". Ini adalah upaya pendistorsian terhadap islam, stigmatisasi negatif terhadap pemimpin, ulama, dan tokoh islam. Sehingga umat menjauhi islam dan pemimpinnya.

Keempat, adanya tersirat pelecehan terhadap Allah, al Qur'an. Karena pernyataan pemimpin penganut ideologi tertutup sebagai peramal masa depan (akherat). Padahal, pernyataan pemimpin islam itu dinyatakan dalam firman allah. Misalnya, haram bagi muslim untuk memilih pemimpin kafir (almaidah 51, an nisa' 141, 144) dan kewajiban menerapkan syari'ah islam (al maidah 48, 49; alhasyr 7; an nisa' 65). Serta dampak kerusakan negara bagi yang melanggar syari'ah islam-menerapkan syari'ah (an nisa' 124). Ketiganya itu telah dinyatakan dalam firman Allah swt.

Kelima, adanya makna tersirat ANTI ISLAM IDEOLOGI yang berjuang untuk memahamkan, membina umat agar berupaya menerapkan syari'at islam dalam bingkai negara-Khilafah Islamiyah dan memperjuangkannya.

Segera akhiri kebodohan umat dari pembohongan dan pembodohan oleh musuh-musuh Islam. Umat islam sering dihinakan oleh tokoh anti islam ideologi. Ayo umat bangkit, dan semuanya dapat terselesaikan dengan menerapkan syari'ah islam secara menyeluruh dan tegaknya khilafah. Hidup mulia dengan Islam. Allahu a'lam bi ash shawab. [VM]
Laporkan iklan tak layak ⤴

BACA JUGA :

KOMENTAR ANDA:

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Catatan Kritis ‘INTRIK’ Pidato Megawati"