Terkoyaknya Ketahanan Keluarga - Visi Muslim Media

Artikel Terbaru

 photo Master Mitra Jasa Teknik_zpsc7ntdbto.png

Terkoyaknya Ketahanan Keluarga

Laporkan iklan tak layak ⤴
Laporkan iklan tak layak ⤴

Oleh : Reisya M Darfiti, S.Pd 
(Alumni Pendidikan Matematika UNTIRTA, 
Praktisi Pendidikan, Anggota Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia)

Semakin menjamur berita mengenai kekerasan dan tindak kriminal yang dilakukan oleh seorang ayah dan ibu kepada anak kandungnya sendiri. Pembunuhan, penganiayaan, pemerkosaan adalah hal yang tidak lagi tabu ditengah masyarakat saat ini. Pasalnya, hal tersebut tersebut telah banyak terjadi di berbagai daerah di Negeri ini.

Seperti yang terjadi di Palembang, ahad (27/11). Sisca Nopriana (23 thn), seorang ibu yang menjadi tersangka pembunuh anak kandungnya sendiri. Tersangka juga mengaku bahwa suaminya juga kerap menyiksa putra kandungnya Brayn Aditya Fadhillah dengan menyabetkan ikat pinggang dan kemudian memasukkan putranya itu ke dalam karung. Keluarga menyebut tersangka kurang harmonis pernikahannya (republika.co.id).

Tak hanya itu, Banten pun ternyata mendapati banyak kasus yang sama atas kekerasan terhadap anak, 90 persen pelaku kekerasan terhadap anak melibatkan orang dekat dari si korban, seperti tenaga pengajar atau pendidik kepada anak. Pada tahun 2015, Komnas Perlindungan Anak Indonesia, menempatkan Provinsi Banten di urutan ke 13 dengan jumlah kekerasan terhadap anak paling banyak, yakni dengan jumlah korban kekerasan sebanyak 378 anak. Jumlah kasus yang terlapor berdasarkan jenis kasus di LPA Provinsi Banten pada Januari sampai Juli 2016 melibatkan 66 anak dengan keterangan sebagai berikut: 36 anak (54.54%) terlibat dalam kasus kekerasan seksual; 5 anak (7.57%) terlibat dalam kekerasan fisik, 4 anak (6.06%) menjadi korban penelantaran, 3 anak (4.45%) terlibat dalam kekerasan psikis, 5 Anak (7.57%) terlibat dalam perebutan hak asuh anak, 2 anak (3.03%) adalah AMPK, 7 anak (10.60%) adalah anak eks gafatar, 4 anak (6.06%) mengalami masalah kesehatan (bantenpos.co).  

Buah Pahit Demokrasi

Sungguh miris mendapati kenyataan yang terjadi dalam sebauh institusi keluarga yang seharusnya menjadi tempat pertama bagi setiap manusia memahami makna hidup dan tempat terbaik untuk melahirkan generas-generasi emas calon pemimpin umat. Kesuksesan keluarga membina generasi pemimpin tentu akan membawa pengaruh pada pembentukan peradaban dunia. Sebab, dalam keluargalah sang calon pembangun peradaban (yaitu anak-anak) mendapatkan pendidikan pertamanya.

Kini ancaman kerusakan keluarga begitu nyata di depan mata kita. Keluarga telah menjadi sarang berbagai masalah, baik itu perceraian, kekerasan, penganiayaan, pembunuhan, dan lain sebagainya. Apa penyebab semua ini?

Rusaknya keluarga sebenarnya bukan sekedar karena persoalan individual anggota keluarga. Rusaknya keluarga juga bukan semata-mata karena anggota keluarga tidak memahami dan menjalankan tugas-tugasnya dengan baik. Banyak para Ibu yang bekerja hingga melalaikan kewajiban mendidik anak karena keluarga terbelit kemiskinan. Demikian pula dengan banyaknya anak yang bermasalah. Tentu bukan karena semata-mata orang tuanya yang tidak menjaga dan melindungi anak-anaknya di rumah. Namun, kondisi sistemlah (kehidupan di luar rumahnya) yang mengancam dan memaksa anak-anak terjerumus dalam berbagai persoalan sosial.

Oleh karenanya, kemiskinan struktural dan rusaknya tatanan sosial adalah dua poin utama penyebab kerusakan institusi keluarga. Kemiskinan struktural dan rusaknya tatanan sosial tentu tidak lepas dari sistem (tata kelola) negara. Dan faktanya, Negara saat ini dikelola dengan tatanan demokrasi, sebuah tatanan bernegara yang berasal dari Barat. Demokrasi menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan, baik kebebasan ekonomi, kebebasan berperilaku dan berpendapat, hingga kebebasan berkeyakinan.

Adanya kebebasan ekonomi dalam tatanan hidup demokrasi menyebabkan para kapitalis (berharta) bebas menguasai segala bidang sehinga wajarlah yang kaya semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin. Kemiskinan tentu bukanlah masalah kecil, sebab banyak fakta kejahatan terjadi dipicu oleh jeratan kemiskinan, khususnya dalam keluarga. Kondisi kemiskinan dalam keluarga akhirnya pun menyeret kaum ibu untuk menghabiskan waktu lebih banyak di luar untuk bekerja dan akhirnya pendidikan anak-anak pun menjadi terabaikan. Anak-anak kehilangan haknya atas pendidikan terbaik yang seharusnya ia dapatkan dari sosok ibu.

Selanjutnya kebebasan berperilaku dan berpendapat tentu mempunyai dampak yang sangat berbahaya di masyarakat. Hal ini semakin memudahkan individu untuk berperilaku semaunya tanpa mempedulikan baik buruk apalagi sesuai atau tidaknya dengan Syari’at. Hal ini diperparah pula dengan budaya Barat yang mendominasi kehidupan sosial, sehinga menjadikan gaya hidup seorang muslim tidak lagi berkaca kepada Syari’at melainkan berkiblat kepada budaya Barat.

Nilai-nilai inilah yang memberikan imbas secara langsung hingga menyeret keluarga di titik kerusakan yang paling parah. Kerusakan institusi keluarga adalah buah pahit diterapkannya sistem demokrasi. 

Selamatkan Keluarga dengan Islam

Setiap muslim wajib terikat dengan hukum Allah SWT, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga maupun dalam tata kelola negara. Allah SWT berfirman:

“Apa saja yang diberikan/diperintahkan Rasul kepada-mu maka terimalah/laksankanlah, dan apa saja yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (TQS. Al-Hasyr : 7)

Ayat ini memerintahkan setiap muslim untuk menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya dalam seluruh aspek kehidupan.

Demokrasi telah menjauhkan keluarga dari ajaran Islam dan menjadikan tata kelola negara bertentangan dengan ajaran Islam tentu tidak sejalan dengan perintah Allah SWT tersebut. Disamping itu, Demokrasi juga terbukti merusak dan tidak sesuai dengan fitrah manusia. Sebab, manusia manapun berhak atas kehidupan keluarga yang harmonis dan sejahtera. Namun, Demokrasi telah merenggut hak tersebut. Dengan demikian, tentu tak ada alasan lagi untuk mempertahankan Demokrasi. Sistem buatan manusia ini terbukti telah gagal karena menjadi biang rusaknya institusi keluarga.

Sebaliknya, kerusakan keluarga hanya bisa diselesaikan dengan tata kelola negara yang sesuai dengan fitrah manusia. Itulah sistem yang berasal dari Allah SWT Sang Pencipta manusia, ialah sistem Khilafah yang telah terbukti mampu mewujudkan keluarga yang harmonis dan sejahtera. [VM]
Laporkan iklan tak layak ⤴

BACA JUGA :

KOMENTAR ANDA:

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Terkoyaknya Ketahanan Keluarga "