Sistem Kapitalisme Harus Diganti

Laporkan iklan tak layak ⤴
Laporkan iklan tak layak ⤴

Oleh : Ainun Dawaun Nufus - Muslimah HTI Kab. Kediri 
(pengamat sosial-politik)

“Selama kapitalisme berkuasa, maka dunia muslim akan terus menderita. Indonesia, termasuk negeri-negeri muslim lainnya memiliki potensi ekonomi yang signifikan. Indonesiamemiliki sumber-sumber energi dan jalur-jalur perairan strategis. Indonesia juga memiliki populasi yang besar dan terus tumbuh serta kekuatan militer yang kuat. Indonesia yang kuat menjadi komponen yang mendasar jika disatukan dengan dunia Islam lainnya di bawah Daulah Khilafah Rasyidah untuk berhadapan dengan kekuatan utama di abad ke-21 ini!” tegas Ustadz Umar Syarifudin, Direktur Pusat Kajian Data dan Analisis.

Sistem kapitalisme yang merupakan warisan peninggalan penjajah merupakan sistem yang membuat rakyat menderita. Contoh bukti yang menunjukkan penyimpangan kapitalisme terhadap Islam antara lain adalah liberalisasi SDA dan pemaksaan pajak yang menindas rakyat oleh pemerintah. Adakah bukti yang lebih kuat atas kerusakan sistem kapitalisme dari toleransi (kebolehan) yang diberikan oleh pemerintah bagi penghina al Qur’an di negeri ini dengan dalih ’perbedaan tafsir’ dan kebebasan berekspresi.

Jika Anda mengaitkan hal itu dengan Kapitalisme sebagai ideologi untuk kehidupan, maka terlihat bahwa hal ini dibangun di atas kebebasan, yakni kebebasan kepemilikan (freedom of ownership), yang merupakan hal yang utama dari kebebasan-kebebasan yang lain. Kapitalisme sungguh merupakan bencana bagi umat manusia, karena kapitalisme sebenarnya adalah neo imperialisme yang jahat dan kejam. Sistem kapitalise global telah menjadi mesin kapitalis raksasa yang memproduksi kemiskinan global struktural yang memaksa sebagian besar umat manusia untuk hidup menderita.

Hal yang pasti bahwa kapitalisme -yang melahirkan sistem turunan- demokrasi dan sistem peradilan yang sedang eksis di negeri ini merupakan produk sistem kapitalisme. Keduanya tegak di atas asas yang rusak. Demokrasi bukan semata pemilu dan musyawarah. Akan tetapi demokrasi adalah pemberian kedaulatan dan hak legislasi kepada manusia menggantikan Allah. Jika seseorang menuntut penerapan syariah, maka ia harus mengajukan perintah-perintah Allah dan sunah nabi-Nya itu dalam bentuk permintaan konstitusional dan itu sangat rumit atau bahkan mustahil.  

Supaya kaum Muslim menerima demokrasi, kaum kafir sengaja memasarkannya dengan asumsi bahwa demokrasi adalah aktivitas musyawarah dan pemilihan orang yang lebih afdhal. Hal itu supaya umat menduga bahwa demokrasi berasal dari Islam. Hakikat demokrasi bukan semata aktivitas pemilihan dan pengambilan pendapat. Akan tetapi, demokrasi adalah pemosisian manusia untuk menetapkan hukum menggantikan Allah SWT. Atas dasar ini, orang yang mengambil musyawarah dan tidak menghukumi dengan suara mayoritas tidak dihitung sebagai penguasa yang demokratis, karena yang menjadi patokan adalah hukum dan bukan musyawarah. Asas yang menjadi dasar berdirinya demokrasi adalah bahwa penetapan hukum menjadi milik mayoritas. Asas ini bertentangan dengan Islam dan menjadikan demokrasi sebagai sistem kufur.

Penjajahan yang dilakukan Barat dengan mengekploitasi kekayaan dari negeri-negeri jajahan, seperti Timur Tengah, disertai dengan pembantaian masal secara brutal rakyat jajahan di Afrika, merupakan cerminan imperium Barat yang penuh darah. Motif dari semua itu bukanlah agama, tetapi keserakahan untuk memperkaya diri dan menguasai ekonomi dunia. 

Kami, sebagai Muslim, mengatakan bahwa tidak ada makan siang gratis. Tidak ada gagasan atas kebebasan yang mutlak; Anda memerlukan hukum dan aturan. Jika Anda menghilangkan hukum dan aturan Islam di seputar mata uang—seperti uang itu harus emas dan perak dan pelarangan riba—maka tidak diragukan lagi Anda akan jatuh ke dalam kekacauan seperti yang kita hadapi pada saat ini. Hal ini sedang terjadi.

Sebuah kontrakdisi yang sangat jelas di bawah penerapan sistem liberal kapitalisme antara himbauan untuk menghormati perempuan dengan prinsip kapitalisme, yaitu menjaga diperolehnya keuntungan adalah asas pengambilan tindakan dan kebijakan pemerintah. Bahkan, jika hal itu dapat diperoleh dengan mengeluarkan izin industri periklanan, bisnis, dan hiburan yang merendahkan perempuan dengan menjadikan perempuan sebagai obyek syahwat laki-laki hanya, demi meningkatkan angka penjualan produk mereka.

Sangat jelas pula kontradiksi antara melindungi perempuan dengan menyanjung nilai-nilai kebebasan liberal yang menempatkan kehendak dan keinginan individualistis sebagai standar benar dan salah dan memelihara budaya pemenuhan kepuasan individu, yaitu mengejar kesenangan pribadi. Alkohol dan penyalahgunaan narkoba, misalnya, sering disebut-sebut sebagai faktor yang biasa menjadi penyebab terjadinya kekerasan terhadap perempuan. Namun, perlu kita pahami bahwa penyebab segala permasalahan yang terjadi di masyarakat adalah pola pikir liberal yang mengajarkan  untuk mengejar kesenangan pribadi tanpa menghiraukan akibat yang ditimbulkannya kepada orang lain.

Krisis ekonomi global telah menyisakan banyak pertanyaan mengenai kesesuaian Kapitalisme sebagai sistem yang ideal bagi dunia. Faktor utama yang mengalihkan perhatian dari dasar-dasar Kapitalisme adalah legalisasi atas segala sesuatu sebagai akibat dorongan liberalisasi, yang merupakan pusat bagi setiap masyarakat kapitalis. Melalui hal ini, tindakan-tindakan ilegal dan tidak bermoral dari waktu ke waktu menjadi dapat diterima bahkan disahkan. Kita menemukan prostitusi telah menjadi sah dengan berkedok melindungi kaum perempuan, obat-obatan telah menjadi sah karena pertimbangan kesehatan dan pornografi telah menjadi sah dengan alasan untuk melindungi hak-hak individu. Pendekatan yang pragmatis ini berarti Kapitalisme akan menjadi lebih individualistis karena individu-individu melakukan tindakan untuk keuntungan pribadi dengan hanya sedikit memperhatikan akibatnya. Hal ini terlihat pada perusahaan-perusahaan perumahan Amerika yang menawarkan pinjaman (sub-prime mortgage) kepada rakyat miskin yang tidak memiliki kemampuan untuk membayar kembali hutangnya.

Berkaitan dengan potensi menurunnya Kapitalisme, hal ini hanya akan terjadi ketika masyarakat kapitalis Barat mempertanyakan dasar-dasar Kapitalisme. Itu kemungkinan besar akan terjadi ketika dibuat perbandingan antara sifat masyarakat sekarang dan sebelumnya. Dengan demikian mereka akan mulai fokus pada masalah-masalah saat ini dan membandingkannya dengan alasan-alasan ketiadaan mereka pada masa lalu. Hal ini seharusnya mengarah untuk mempertanyakan undang-undang yang digunakan untuk memecahkan masalah-masalah tersebut dan atas dasar apa undang-undang itu dideduksi. 

Krisis yang menimpa negara-negara pengemban ideologi kapitalis menunjukkan sistem ekonomi kapitalis bukan lagi berada di tepi jurang, tetapi memang sudah berada dalam kehancuran. Upaya pemimpin-pemimpin negara kapitalis untuk menyelamatkan tak pernah membuahkan hasil nyata. Semua rencana penyelamatan hanya sekadar obat yang meringankan rasa sakit sementara waktu, tak akan mampu menyembuhkan penyakit kronis ekonomi hingga menuju kematian sistem Kapitalisme.

Masalah ekonomi di Indonesia yang terlihat sekarang adalah ciri khas Kapitalisme. Di antaranya adalah utang meningkat, konsentrasi kekayaan dan timbulnya kemiskinan. Walhasil, Kapitalisme memiliki masalah sistemik dengan kemiskinan. Kapitalisme, diutak-atik bagaimanapun, tidak akan dapat memecahkan masalah sistemiknya. Untuk menghentikan tren meluasnya kemiskinan rakyat Indonesia dan dunia umumnya, kita membutuhkan sistem baru, yang merupakan alternatif dari Kapitalisme, yaitu sistem yang dibangun di atas fondasi yang berbeda dari Kapitalisme. Itulah sistem Islam yang bernama Khilafah Islamiyah. [VM]
Laporkan iklan tak layak ⤴

BACA JUGA :

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Sistem Kapitalisme Harus Diganti"