Revitalisasi Ghiroh Perjuangan

Laporkan iklan tak layak ⤴
Laporkan iklan tak layak ⤴

Oleh: Aziz Rohman
(Aktivis HTI Jombang)

Allah SWT Berfirman:

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat. (QS. Al Baqarah:214)

Dalam FirmanNya yang lain:

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al Baqarah 155-157)

Saudaraku, entah sudah berapa lama kita berada di barisan dakwah namun, terkadang hari demi hari seolah-olah kita lalui dengan begitu sangat berat hingga terasa tak sanggup diri ini memegang amanah yang sangat berat ini. Namun, tidakkah kita ingat di awal dulu, saat pertama kali kita bertemu dengan barisan dakwah ini kita merasakan bahwa bertemu dengan barisan dakwah ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa bahkan bisa dikatakan bagaikan menemukan oase dalam perjalanan berhari-hari di padang sahara. Hingga kemudian, pertemuan kita dengannya kala itu memberikan makna yang begitu mendalam di dalam hidup kita. Membuat kita bisa merasakan betapa berartinya arti hidup ini.

Dari yang dulunya kita (mungkin) hanya sekedar berpikir sangat sederhana dalam memaknai arti hidup ini . Di mana kita hanya berpikir sangat sederhana mengenai kehidupan, nanti kalau sudah lulus sma kalau punya biaya nanti kuliah ah, semoga saja bisa kuliah, kalau sudah  lulus kuliah insyaallah nanti akan mudah mendapatkan pekerjaan yang baik dan berpenghasilan cukup. Setelah bekerja, nanti menikah terus punya anak lalu mendidik mereka menjadi anak-anak yang sholeh-sholehah. Tidak lupa menyisihkan uang untuk di tabung, kalau tabungannya dirasa sudah cukup nanti bisa berangkat umroh, berangkat haji bersama keluarga, dst. Pokoknya sesuatu yang indah-indah yang terbayang di benak kita sat itu. Yang penting hidup cukup, yaman, tidak kekurangan dan bias beribadah. Namun, setelah kita bertemu dengan barisan dakwah dan bergabung di dalamnya. Alhamdulillah kita bisa merasakan bahwa hidup itu bukan hanya sekedar itu-itu saja dan hidup kita sungguh-sungguh sangat berharga, sungguh sangat berarti dan sia-sia jika kita menyia-nyiakan umur kita terlebih saat kita mengetahui dan memahami betapa bobroknya system kehidupan umat islam saat ini sehingga membuat kita terlecut untuk turut berjuang memperbaikinya.

Seiring berjalannya waktu kitapun ada di barisan dakwah ini akan tetapi, ketika perjalanan menempuh jalan kebenaran ini kita ambil setelah itu, kita merasakan banyak sekali cobaan demi cobaan, ujian demi ujian sangat sering bahkan kalau mau jujur terkadang kita merasa terlalu amat sering cobaan ini datang menghampiri diri kita seolah hidup kita terasa begitu merana , tiada hari tiada cobaan, tiada waktu tanpa ujian. Seolah-olah kitalah manusia yang paling berat menerima cobaan, manusia yang paling berat menerima ujian. Bukankah sejak awal ketika kita bergabung dalam barisan ini kita sudah paham akan konsekuensi yang akan kita hadapi didepan? Bukankah pula kita juga ingin memperbaiki kondisi umat yang terpuruk saat ini? Seraya berikhtiar menjadikan umat ini kembali ke tempatnya, menjadi umat yang terbaik, umat yang paling hebat, umat nomer satu sebagaimana yang telah difirmankan olehNya. Seraya berharap balasan yang paling baik dan aliran pahala yang terus mengalir tiada henti dari Sang Khaliq datang menghampirin diri kita. Itulah yang kita harapkan namun, terkadang perjalanan  dalam perjalanan waktu semangat perjuangan kita menjadi turun. Tiga buah godaan yang ditawarkan kaum kafir Quraisy kepada Nabi Muhammad SAW pun terkadang satu persatu datang menghampiri kita. Mulai dari harta, kemudian tahta/jabatan kemudian godaan wanitapun hadir. Silih berganti satu persatu menggoda keimanan dan keyakinan kita, mengikiskan semangat perjuangan yang telah lama kita pupuk dan kita tanam.

Teringat jelas saat bulan ramadhan 1437 H kemarin datang menghampiri kita. Sepanjang kurang lebih 30 hari kita mampu menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa untuk mentaati perintah Allah SWT. Kita berpuasa ditengah terik siang matahari, seharian penuh menahan rasa lapar, haus dan dahaga. Teringat jelas  saat adzan maghrib berkumandang, saat itulah rasa haus dan dahaga kita hilang seketika saat kita meneguk seteguk air. Begitulah hidup ini, ketika kita memahami hakekat kehidupan ini tentu ketika kita masuk ke Firdaus dan menginjakkan kaki di dalamnya maka, saat itulah segala kelelahan dan kepayahan yang pernah kita alami semasa kita hidup, duka lara yang sering menghampiri dalam perjuangan serta luka yang menghampiri kita saat itu semuanya hilang, sirna saat itu juga. Saat itu, saat dikatakan kepada kita, “Apakah anda pernah merasakan penderitaan selama ini?” lalu, kitapun menjawab ketika dicelupkan sekali ke surga, “Demi Allah, saya tidak pernah merasakan penderitaan sebelum ini.” (HR. Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah dalam hadits penuturan anas bin malik r.a)

Itulah sedikit gambaran penyemangat yang senantiasa harus kita munculkan disaat kita sedang menghadapi future, kurang bersemangat dalam menjalani beratnya kehidupan yang penuh dengan amanah ini. Meski berulangkali kita memperbaiki keimanan agar semangat kita senantiasa berkobar terus terkadang perasaan minder, takut, kurang pede-pun sering juga dating menghantui dan menghampiri kita. Namun, apakah kita sudah lupa sejarah telah banyak mengkisahkan kepada kita bahwa telah ada banyak kisah dari para pejuang yang masih teguh dalam perjuangan meskipun mereka di uji dengan banyak sekali ujian, yang bahkan ujian yang menimpa kita terasa tiada sebanding dengan apa yang telah mereka alami:
  • Mus’ab bin umair r.a, siapakah gerangan yang tahu kisa masyhur tentang beliau. Beliau r.a adalah seorang yang tumbuh dengan segala gelimang kekayaan dan kemewahan, mekar dalam kenikmatan dan kesenangan hidup. Akan tetapi ketika beliau mengenal dakwah islam di rumah al arqam semua kisah indah akan kesenangan hidup beliau tinggalkan hanya demi memperjuangkan islam. Bahkan, tangisan ibunyapun tak mampu membendung ketegaran hati serta kecintaannya terhadap dakwah islam. Begitulah karakter pejuang, ia akan dengan mudah memilih kebahagiaan yang selama-lamanya daripada yang sesaat. Zubair bin al awwam mengatakan, “suatu ketika Rasulullah SAW sedang duduk dengan para sahabatnya di masjid quba, lalu muncullah mus’ab bin umair dengan kain burdah (jenis kain kasar) yang tidak menutupi tubuhnya secara utuh. Orang-orangpun menunduk. Lalu ia mendekat mengucapkan salam. Mereka menjawab salamnya. Lalu Nabi SAW memuji dan mengatakan hal yang baik-baik tentangnya. Dan beliau bersabda, sungguh aku melihat mus’ab tatkala bersama kedua orang tuanya di mekkah. Keduanya memuliakan dia dan memberinya segala macam fasilitas dan kenikmatan. Tidak ada pemuda-pemuda Quraisy yang semisal dengan dirinya. Setelah itu, ia tinggalkan semua itu demi menggapai ridha Allah dan menolong RasulNya…” (HR. Hakim 6640). Perlu dicatat pula bahwa mus’ab bin umair memliki peranan yang sangat penting di madinah waktu itu. Sebelum Rasulullah hijrah  dan mendirikan daulah nubuwaah di madinah.
  • Bilal bin rabah r.a, saya kira kurang pas jika seorang muslim tidak menganal sosok luar biasa satu ini. Beiau r.a adalah seorang mukmin sejati, seorang mukmin yang luar biasa sabar ketika ia berada di jalan dakwah dan seorang yang memiliki keteguhan hati tiada tara di dalam iman. Diawal berislamnya beliau, telah dijumpainya berbagai macam siksaan, hinaan, mara bahaya bahkan penindasan yang sangat sangat mengerikan. Tiap kali himpitan kepiluan mengaenai dirinya, saat batu besar yang disulut kobaran api yang diletakkan diperutnya, dan saat cemeti beruntun mengenai dadanya bukannya luntur, keimannya malah semakin bertambah dan semakin teguh dia menggenggamnya. Sebagai perlawanan terhadap kaum kafir waktu itu, dari lubuk hatinya yang terdalam ia puja-puji Allah SWT, “Ahad…Ahad…Ahad…”.
  • Abdullah bin mas’ud r.a, sejarah mencatat bahwa beliau adalah sosok yang luar biasa dalam pembelaannya terhadap islsam. Tahukah kita bahwa beliau adalah sosok gagah perkasa yang berhasil membunuh musuh Allah dan RasulNya yaitu, abu jahal. Siapakah dia? Siapakah Mus’ab bin umair? Dalam urusan harta maka bias dikatakan beliau bukanlah orang kaya dan beliau tidak memiliki apa-apa, perawakannya pun kurus kecil apalagi soal pengaruh derajatnya sangat jauh di bawah. Beliau hanyalah seorang penggembala kambing para hartawan mekkah jaman itu. Akan tetapi, sejarah mencatat ada sebuah kisah yang menarik tentangnya.
Suatu ketika para sahabat berkumpul. Mereka berkata, “Demi Allah, kaum quraisy belum pernah mendengar ayat-ayat alqur’an yang kit abaca dihadapan mereka dengan suara keras. Siapa kira-kira yang dapat membacakannya kepada mereka?”

“Aku sanggup membacakannya kepada mereka dengan suara keras,” kata Abdullah

“Tidak, jangan kamu! Kami khawatir kalau kamu membacakannya. Hendaknya seseorang yang punya keluarga yang dapat membela dan melindunginya dari penganiayaan kaum quraisy,” jawab mereka

“Biarlah, aku saja. Allah pasti melindungiku,” Kata Abdullah tak gentar sedikitpun

Keesokan harinya, kira-kira di waktu dhuha, ketika kaum quraisy sedang duduk-duduk di sekitar ka’bah. Abdullah bin mas’ud berdiri di Maqam Ibrahim, lalu beliau bacakan QS. Ar rahman. Bacaannya yang merdu dan lantang itu terdengar oleh kaum quraisy di sekitar ka’bah. Saat mendengarnya mereka terkesima dan termenung. Kemudian mereka bertanya, “Apakah yang di baca oleh Ibnu Ummi Abd (Abdullah bin mas’ud)?”

“Sialan, dia membaca ayat-ayat yang di bawa Muhammad!” kata mereka begitu tersadar. Lalu mereka berdiri serentak dan memukuli Abdullah. Namun Abdullah bin mas’ud meneruskan bacaannya hingga akhir surah. Beliau lalu pulang menemui para sahabat dengan muka lebaam, babak belur dan berdarah.

“Inilah yang kami khawatirkan terhadapmu, “ kata para sahabat. Perlakuan ini telah diduga oleh para sahabat sebab saat itu jumlah sahabat masih sedikit sehingga di butuhkan sikap hati-hati karena perilaku kaum quraisy semakin hari makin kejam dan beringas. Namun, apa kata Abdullah? “Demi Allah, Bahkan sekarang musuh-musuh Allah itu semakin kecil di mataku. Jika kalian menghendaki, besok pagi aku akan bacakan lagi dihadapan mereka.” Kata beliau dengan penuh semangat.

Saudaraku, banyak sekali kisah para pejuang yang seharusnya bisa kita jadikan sebagai teladan. Entah, dalam keadaan berpunya maupun tidak berpunya, dalam keadaan lapang maupun sempit. Tetaplah semangat sebagaimana para pendahulu kita, andai saja mereka berleha-leha dalam dakwahnya tentu saat ini kita tidak akan mengenal ataupun bahkan beragama islam. Sebuah agama yang bukan hanya sekedar agama ritual melainkan, sebuah system kehidupan yang mampu menghantarkan manusia menuju ke kebahagiaan yang hakiki baik di dunia maupun akherat.

Saudaraku, seharusnya kita bisa meneladani mereka semua, janganlah kita merasa berat dalam menjalankan amanah dakwah ini. Bukankah Rasulullah pernah bersabda bahwa manusia yang diberikan cobaan paling berat adalah para Nabi dan Rasul? Dan bukankah kita sedang mendakwahkan apa yang telah didakwahkan oleh Rasulullah?

Memang benar, seseorang akan di uji sesuai dengan kadar agamanya. Jika, seseorang ingin agar kadar agamanya semakin baik maka mustahil dia di uji dengan ujian yang sepele. Jika agamanya tidak kuat maka, ujianpun akan diringankan darinya. Tak henti-henti ujian itu akan terus menimpa seorang hamba, terlebih pengemban dakwah hingga ia mampu berjalan di muka bumi ini tanpa memiliki kesalahan sedikitpun.

Terakhir, seharusnya sudah semestinya kita merasa bangga bisa menjadi bagian dari jama’ah dakwah. Namun, hanya sekedar masuk saja didalamnya tidaklah cukup. Kita juga harus menjadi pion-pion yang ikut mewarnai pergerakan dakwah ini sebab musuh-musuh Allah dan RasulNya telah membuat banyak sekali makar dan kerusakan hingga membuat kita umat islam, kehilangan jatidiri, kehilangan harkat dan martabatnya sebagai umat yang terbaik, umat yang paling hebat, umat nomer satu. Banyaknya, cobaan dan ujian hidup yang datang silih berganti menghampiri. Sesungguhnya itu cuma berlangsung sebentar, hanya sebentar saja.

Dan sudah semestinya, kitapun harus merasa bangga sebab ketika kita di lahirkan dimasa sekarang dan kemudian dipertemukan dengan jama’ah dakwah ini. Maka, sesungguhNya Allah SWT telah memberikan kesempatan kepada kita agar menjadi insan-insan yang mampu mewujudkan kembalinya kejayaan islam melalui tegaknya Daulah Khilafah Ala Minhaj Nubuwwah. Oleh sebab itu, jangan sekali-kali merasa tidak bersemangat sebab Allah dan RasulNya telah menjanjikan kemenangan ada di pihak kita. Wallahu’alam….[VM]
Laporkan iklan tak layak ⤴

BACA JUGA :

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Revitalisasi Ghiroh Perjuangan"