Politik Candu dan Strategi Hegemoni

Laporkan iklan tak layak ⤴
Laporkan iklan tak layak ⤴

Oleh : Retno Esthi Utami 
(MHTI Kab. Kediri)

"Indonesia dengan pertumbuhan ekonomi tinggi dan meningkatnya middle class (kelas menengah) justru memberikan prospek bagi pasar psikotropika," kata Sri Mulyani dalam jumpa pers penggagalan upaya peredaran narkoba di Jakarta, Jumat. Menurut Sri, kasus penyelundupan narkotika dan obat terlarang di Indonesia yang makin meningkat setiap tahun menjadi bukti bahwa para pelaku kejahatan ini berani mengambil risiko untuk mendapatkan keuntungan dari penjualan barang terlarang itu.  (http://www.antaranews.com/berita/596915/sri-mulyani-kini-bicara-indonesia-terancam-narkoba-mengapa)

Indonesia saat ini dalam cengkeraman narkotika, peredaran narkotika ini telah merambah ke seluruh lapisan masyarakat; baik anak kecil hingga dewasa; dari yang pengangguran hingga kantoran; bahkan dari rakyat biasa hingga pejabat negara. Dari beberapada data didapatkan fakta bahwa di tahun 2016, ada beberapa kasus mencengangkan terkait dengan penyelundupan Narkotika di Indonesia, diantaranya :

Dari news.okezone di bulan Januari, dengan kerja sama Bea Cukai dan Badan narkotika nasional (BNN) berhasil menggagalkan penyelundupan narkotika 97 kg dengan kedok ekspor mesin genset dari Guangzhou, Cina ke Jepara lewat Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Selanjutnya dikutip dari Republika, BNN berhasil menyita sembilan buah pipa besi yang di dalamnya terdapat sekitar 50 kilogram sabu kristal dalam penggerebekan tersebut. Penemuan narkoba ini terjadi di kawasan Rawa Bebek, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (14/6). Setelah dilakukan penelusuran, ternyata tiang- tiang ini merupakan kiriman dari Guangzhou, Cina. Dan yang terbaru di bulan ini, dari news.liputan6 3/11/2016 Direktorat Tindak Pidana (Ditipid) Narkoba Mabes Polri mengungkap jaringan narkoba internasional jalur Tiongkok-Hong Kong-Bogor-Banten-Jakarta. Sebanyak 135 kilogram (kg) sabu yang dikemas menggunakan mesin kompresor pembersih kandang ayam.

Di tahun lalu, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso (Buwas) mengungkapkan peredaran narkotika mayoritas dipasok dari Cina. “Jaringannya macam-macam. Sampai saat ini terbesar dari Cina. Kalau Cina ini kan produksinya besar, home industri.” Katanya di RSPAD Gatot Subroto Jumat 27/5/2015, lansir metrotvnews. Diungkapkan oleh Buwas, masuknya narkotika ke Indonesia didominasi melalui jalur laut dengan berbagai modus. “Jumlah narkotika yang sudah masuk ke Indonesia sudah dalam hitungan ton. Hanya disimpan dan sembunyikan, karena mereka bekerja sama dengan elemen masyarakat termasuk oknum aparat. Ada pemesanannya baru keluar.” tambahnya.

“Harus dipahami barang-barang ini datangnya dari luar, diimpor. Dan dari negara-negara itu tidak ada yang peduli masalah ini. Bahkan mereka gunakan warga negaranya untuk ngirim. Di situ ada indikasi rencana untuk hancurkan negara ini,” kata Budi di Polresta Medan, sebagaimana dilansir republika.co.id, Selasa (10/11/15). “Kita bisa prediksi ada kepentingan-kepentingan negara luar untuk hancurkan negara kita. Karena sasaran tembaknya kita,” kata Budi. “Negara tetangga biarkan itu terjadi untuk masuk ke wilayah kita. Ini biar didalami Lemhanas, TNI. Ini kan menyangkut penghancuran bangsa,” ujarnya lagi. Budi pun menegaskan, pihaknya tak gentar dalam melakukan pemberantasan mafia narkoba, baik nasional maupun internasional yang telah merusak generasi muda Indonesia. Begitu pun dengan adanya tekanan negara asing.

Kita tentunya pernah mendengar akan 2 kekuatan besar yang menguasai dunia, 2 hegemoni yaitu Kapitalisme Barat yang di motori oleh Amerika Serikat serta Kapitalisme Timur yang dimotori oleh China. Disaat dunia barat masih belum berhasil mengatasi keterpurukannya dari krisis moneter yang menimpa mereka, maka China yang semakin melangkah maju serta menunjukkan keseriusan mereka dalam menguasai wilayah-wilayah yang memiliki akses pelabuhan-pelabuhan di kawasan Asia Pasifik. Kapitalisme lahir dari prinsip sekularisme, yakni pemisahan agama dari kehidupan, sehingga tidak ada ruang untuk tolok ukur benar dan salah, apapun selama itu menghasilkan (kapital) maka sah-sah saja untuk dilakukan. Termasuk dalam produksi serta peredaran barang haram, narkotika.

Berdasar laporan Komisi Nasional Pengendalian Narkotika China (NNCC) hampir 13,7 ton methamphetamine kristal diproduksi di China, pada 2014 dan sekitar 75 persen diproduksi di Provinsi Guangdong dan sekitar enam persen dari Sichuan. Selain diedarkan di dalam negeri, produksi methamphetamine kristal juga dijual di luar negeri antara lain Indonesia. Untuk jenis ketamine, China telah mengungkap 105 produksi ketamine dengan jumlah 11,2 ton dimana, 70 persen diproduksi di Guangdong dan 10 persen dari Guangxi. Tak hanya itu, di China juga berkembang industri rumah yang memproduksi heroin serta jenis obat terlarang lainnya. China  mengklaim negara tersebut juga telah berada dalam kondisi darurat narkoba, mengingat banyak peredaran narkoba juga berlangsung di negara itu, sebagain bagian dari jaringan internasional.

Kembali kepada ambisi Cina untuk menguasai wilayah-wilayah di Asia, apakah penyelundupan narkoba ke Indonesia tersebut merupakan salah upaya untuk melemahkan bangsa Indonesia agar lebih mudah dikuasai? Paparan Panglima TNI dalam sebuah acara diskusi di sebuah televisi nasional menyinggung soal Perang Candu yang bertujuan penaklukan suatu bangsa dengan ketergantungan narkotika dan segala bisnis haram dibaliknya, penaklukan tanpa perlu melakukan invasi atau mengirimkan kekuatan militer seperti yang pernah terjadi di China oleh Inggris dan Perancis. Indonesia terkenal sebagai negara yang kaya sumber daya alamnya, tentunya menjadi incaran banyak pihak, lantas bagaimanakah cara ‘menaklukan’ Indonesia? Apakah melalui kekuatan militer? Ataukah melalui war by proxy? Atau dengan menghancurkan moral dan kekuatan generasi penerusnya?

Taktik perang candu, kini tak hanya berupa ketergantungan dari bisnis narkotika dan segala bisnis hitam dibaliknya yang melibatkan kekuatan para penguasa dan pengusaha, namun kata candu atau ketergantungan itu kini bisa bernilai bisnis yaitu hutang dan investasi. Berkat kinerja keras BNN dibawah Komjen Budi Waseso, perang candu bisa sedikit diredam dengan bukti penemuan puluhan hingga ratusan kilo narkotika yang diselundupkan ke Indonesia dari China. Taktik candu itu akan terus berlangsung, demi hancurnya generasi penerus di Indonesia, sehingga pada akhirnya akan tercipta generasi-generasi mayat hidup atau zombie yang akan tidak lagi peduli akan nasib bangsanya yang menuju kehancuran demi ketergantungan akan suplai narkotika.

Ada upaya penghancuran moral yang menjadi ciri dari penerapan falsafah sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan) yang merupakan satu paket dengan sistem ekonomi kapitalisme. Ketika kehidupan dunia sudah tidak diatur dengan syari’ah Allah lagi, maka hal ini mengakibatkan banyak yang lalai akan tujuan hidup, lupa akan hari akhir dan kedahsyatannya, lupa bahwa kehidupan ini adalah ladang beramal untuk akhirat. Akibatnya suburlah pandangan yg menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sbg tujuan utama dalam hidup (hedonisme) dan serba-boleh (permisif). Masyarakat diubah menjadi pemburu kesenangan dan kepuasan. Akhirnya, miras, narkoba, perzinaan, seks bebas, pelacuran, dsb, menjadi bagian dari kehidupan sebagian masyarakat.

Ditambah lagi dengan sanksi hukum yang dijatuhkan terlalu lunak. Vonis mati yang diharapkan bisa menimbulkan efek jera pun justru dibatalkan oleh MA dan grasi presiden. Bandar dan pengedar narkoba yang sudah dihukum juga berpeluang mendapatkan pengurangan masa tahanan. Parahnya lagi, mereka tetap bisa mengontrol penyebaran narkoba dari dalam penjara. Masalahnya diperunyam, ketika tak sedikit aparat penegak hukumnya justru terjerat narkoba. Menurut temuan Indonesia Police Watch (IPW) mengungkapkan rata-rata tiap tahun anggota polisi yang terbukti kasus penyalahgunaan narkoba di atas 200 orang.

Ketika akar masalahnya adalah pengabaian hukum Allah, baik secara keseluruhan, ataupun sebagiannya, maka solusi mendasar dan menyeluruh untuk masalah narkotika adalah dengan menerapkan hukum Allah dalam setiap aspek kehidupan. Kalau ini tidak dilakukan, sudah terbukti persoalan bukan semakin baik, namun semakin memperpanjang masalah. Rasulullah bersabda:  “Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan mereka memilih-milih apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan bencana di antara mereka. “ (HR. Ibnu Majah sanad hasan). [VM]
Laporkan iklan tak layak ⤴

BACA JUGA :

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Politik Candu dan Strategi Hegemoni"