No Compromise

Laporkan iklan tak layak ⤴
Laporkan iklan tak layak ⤴

Oleh : Umar Syarifudin – Syabab HTI 
(pengamat politik Internasional)

Kaum muslimin terus dipaksa toleran atas intoleransi non muslim terhadap kita yang akhir-akhir ini meningkat tajam. Sebuah laporan tahun 2011 yang dikeluarkan oleh Pew Forum on Religion and Public Life mengonfirmasi hal itu, mengungkapkan bahwa kaum Muslim dilecehkan di 117 negara, termasuk negara-negara Eropa yang melarang cadar (niqâb) dan adzan. Laporan ini mengatakan bahwa pembatasan, yang meliputi berbagai aktivitas permusuhan sosial terhadap para penganut agama yang berbeda dan kaum agama minoritas, serta pembatasan yang diberlakukan oleh pemerintah, telah meningkat di 23 negara, yakni 12% dari 198 negara di dunia; menurun di 12 negara, yakni 6%; dan tetap tidak mengalami perubahan mendasar di 163 negara, yakni 82%.

Delapan negara mengalami peningkatan yang signifikan dalam hal pembatasan kebebasan beragama dan pelaksanaan ritual-ritual keagamaan. Menurut laporan tersebut,  Cina, Prancis-karena melarang cadar (niqâb)-, Nigeria, Rusia, Thailand, Vietnam dan Inggris merupakan negara-negara di mana para penganut agama mengalami tingkat kesulitan yang signifikan dalam melaksanakan ritual-ritual keagamaan di negara-negara tersebut.

Intoleransi terhadap muslim Inggris contohnya, tergambar dalm sebuah laporan yang ditulis oleh seorang mantan perwira kontra terorisme Scotland Yard yang diterbitkan pada tahun 2010, mengatakan bahwa jumlah kriminalitas bermotif kebencian terhadap umat Islam di London didorong oleh tendensi oleh para politisi dan media.

Laporan itu juga mengatakan serangan-serangan itu mulai dari ancaman kematian dan pembunuhan hingga serangan-serangan tingkat rendah, seperti meludah atau memanggil dengan sebutan nama, adalah bagian dari yang dilakukan oleh para ekstremis dan menjadi kecendrungan masyarakat. Dokumen itu – yang dikeluarkan oleh pusat penelitian Muslim University of Exeter di Eropa – ditulis oleh Dr Jonathan Githens-Mazer dan mantan detektif khusus Dr Robert Lambert.

Negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat dan Inggris telah menggunakan penipuan secara konsisten sebagai instrumen kebijakan untuk mencapai tujuan strategis mereka. Upaya propaganda membangun ancaman terorisme muslim  dilakukan secara terorganisir. Upaya serupa telah dilakukan oleh berbagai negara mengungkapkan ancaman serius ke seluruh dunia sebagai akibat sangat berbahaya dari ‘teroris’ muslim.  

Pertempuran Barat memerangi kebangkitan kaum muslim dan melesatnya perkembangan Islam berlangsung dalam berbagai cara dan bentuk, baik sedara sadar maupun tidak. Termasuk upaya propaganda reformasi Islam dengan maksud untuk merubah Islam agar bisa cocok dengan realitas kontemporer dan tidak berusaha untuk merubah realitas agar bisa cocok untuk Islam. Kunci dari peperangan Barat adalah mengacaukan Islam itu sendiri. Namun, reformasi Islam akan sulit terjadi kalau tidak dibantu dari luar dunia Islam. Satu jalan keluarnya adalah dukungan penuh AS secara diam-diam terhadap gerakan reformis yang moderat, yang dianggap sebagai sayap Islam sekuler yang toleran.

Faktor lain, pemikir AS dan pembuat kebijakan di dunia Barat masih terus mengutip tuntutan terhadap tegaknya syariah di dunia Islam sebagai bentuk ancaman jangka panjang yang akan dihadapi oleh AS. Intel AS memperkirakan  bahwa Khilafah akan bangkit sekitar tahun 2020. Perang melawan teror pun semakin membuka kedok jatidiri perang sebenarnya, yaitu perang melawan Islam. Padahal umat Islam saat ini belum mewujudkan Khilafah. Maka, sebagai antisipasinya terhadap potensi bangkitnya Khilafah, mereka akan terus melancarkan perang ideologis untuk menundukkan pemikiran dan memenangkan perasaan umat Islam di seluruh dunia, sebelum Khilafah akan benar-benar menjadi kenyataan.

Tidaklah kebetulan bahwa daerah yang menjadi ajang pertempuran “Perang Melawan Teror” adalah negeri-negeri yang berpenduduk mayoritas muslim yang memiliki potensi untuk berdirinya pemerintahan Islam di masa depan. Dan negeri-negeri tersebut juga memendam potensi kekayaan alam seperti gas dan minyak bumi. Dan bukan pula kebetulan bahwa di tahun 2002 dan 2006 Pentagon mengeluarkan laporan Quadrennial Review yang menggambarkan wajah seram umat muslim, negeri-negeri muslim, dan agama Islam itu sendiri dalam berbagai bentuk sebagai ancaman terhadap keamanan AS. Pejabat teras AS pun yakin bahwa ancaman terhadap ideologi AS adalah “bangkitnya Islam politik”. Maka Washington serta sekutunya tidak bisa tinggal diam membiarkan umat Islam mewujudkan cita-cita politik mereka, yaitu Khilafah.

Barat sekali lagi berencana untuk merubah Islam, karena segala usaha untuk mengembalikan kejayaan Islam akan berakhir pada Kekhilafahan yang merupakan sebuah sistem pemerintahan alternatif yang akan menantang dominasi kapitalisme.

Pada saat ini, kaum Muslim makin mendekat ke pemikir-pemikir muslim ideologis maupun kelompok Islam ideologis untuk mencari jawaban atas Dunia Islam khususnya pada mereka yang menyerukan kembalinya, bangkitnya peradaban Islam, dengan menyadari kenyataan bahwa Islam telah melakukan banyak hal bagi dunia.

Hal yang menggembirakan adalah saat ini kaum Muslim telah merapatkan barisan dan seruan untuk kembali kepada solusi Islam terus meningkat dalam kehidupan mereka khususnya dalam pemerintahan. Perang Melawan Teror adalah sebuah konsekuensi dari kaum muslim pada umumnya yang kehilangan kepercayaanya pada Negara-negara Barat seperti menganggap Amerika sebagai perantara jujur, penolakkan atas campur tangan badan-badan antar pemerintahan seperti PBB dan mencela penguasa muslim yang zalim. Allahu Akbar! [VM]
Laporkan iklan tak layak ⤴

BACA JUGA :

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "No Compromise"