Kawan-Kawan, Segera Merapat!

Laporkan iklan tak layak ⤴
Laporkan iklan tak layak ⤴

Oleh : Mashun Sofyan 
(BE BKLDK Jabar)

Perubahan merupakan sesuatu keniscayaan dalam peradaban manusia. Perubahan menuju kearah yang lebih baik dalam realitas yang tidak ideal juga merupakan suatu hal yang alamiyah. Jika kita menginginkan perubahan tentu kita harus melakukan suatu upaya pergerakan dengan tujuan perubahan. Kemerdekaan suatu bangsa adalah keinginan seluruh rakyat dari segala bentuk penindasan dan penghisapan yang dijalankan kolonialisasi haruslah dilenyapkan di muka bumi ini. 

Kini di era imperialisme modern melanggengkan bentuk-bentuk penghisapan dan penindasan terhadap dunia. Kapitalisme yang berkembang hingga mencapai tahapan puncaknya kapitalisme monopoli internasional (imperialism) di abad 19, semakin mendominasi dan menghegemoni dunia melancarkan praktek penghisapan dan penindasan terhadap rakyat.

Kawan-kawan, Pemerintahan Jokowi-JK nyatanya Neoliberal, tunduk pada kekuatan modal swasta, terutama modal asing. Bahkan semakin luas dalam membuka pasar bagi produk-produk asing yang mengakibatkan hancurnya industri dalam negeri. Hal itu terbukti dengan semakin massifnya kebijakan-kebijakan pemerintah yang mendasarkan pemenuhan kebutuhan dalam negeri dengan barang-barang impor.

Tidak ada acungan jempol kepada bapak Jokowi atas ‘totalitas’  kerja nyatanya. Sebab Jokowi terbukti berusaha dengan sekuat tenaga dan pikirannya memuluskan kebijakan-kebijakan neo-liberalisasi kepentingan imperialis AS di Indonesia. Paket kebijakan ekonomi, tax amnesty, Sawit Fund, PISAgro, intensifikasi penyediaan lahan untuk Tuan tanah, penguatan industri manufaktur, megaproyek infrastuktur, pencabutan subsidi, pengetatan anggaran hingga menguatkan komersialisasi di dunia pendidikan dan kesehatan, kerja nyatanya Jokowi untuk menguatkan dominasi imperialis AS di Indonesia. 

Esensi semacam paket kebijakan ekonomi jilid I sampai XII secara nyata untuk memuluskan eksport capital baik dalam bentuk investasi dan utang luar negeri yang dikuncurkan imperialism khususnya AS di Indonesia. Jokowi berdalih dengan investasi dan utang luar negeri, akan menjadi fondasi pembangunan yang dianggap mensejahterahkan rakyat. Jokowi-JK dengan licinya meloloskan tax amnesty yang berharap  mendapatkan uang tebusan maksimal 10% dari total tunggakan pajak. Bentuk ini mungkin dianggap Jokowi sebagai kemenangan kaum kapitalis yang selama ini menghindari bayar pajak yang esensinya didapat dari perampasan hasil keringat rakyat. Jokowi yang secara bersamaan menaikkan dan tidak mengurangi pajak bagi rakyat, mau itu pajak penghasilan, pajak bumi bangunan, pajak kendaraan dan lain-lain.  Jika telat bayar pajak, rakyat akan kena denda. 

Sementara itu, Jokowi-JK juga terus-terusan membangun megaproyek infrastuktur. Tujuan pembangunan megaproyek infrastuktur ini untuk memberi pelayanan fasilitas kepada para investor asing ke Indonesia. Bahkan untuk membiayai megaproyek infrastuktur, Jokowi memberi karpet merah bagi imperialism baik negara maju, perusahaan asing maupun bank-bank Internasional semacam Word BANK, ADB, AIIB untuk mendanai. Walaupun Jokowi juga paham bahwa pembangunan infrastuktur yang didanai imperialism ini, memberikan superprofit dari bunga pinjaman dan laba dari proyek infrastuktur ke imperialisme. Dan ke depan sudah pasti, imperialisme semakin merdeka untuk menjalankan penguatan bisnisnya ke seluruh wilayah Indonesia dengan pembangunan fasilitas Infrastuktur.

Kawan-kawan, jika kita menginginkan perubahan lebih luas tentu kita harus melakukan perjuangan politik. Perjuangan politikpun harus memiliki kejelasan ideologi, jika tidak ada kejelasan ideologi maka yang terjadi adalah perubahan rezim saja. Dan penjajahan masih terjadi. Maka ideologi yang harus diambil adalah ideologi islam. Karena ideologi inilah yang bersumber dari wahyu. Ideologi islam lahir dari Aqidah Islam, aqidah islam menyatakan bahwa dibalik alam semesta, manusia dan kehidupan ada pencipta yakni Allah SWT. Dialah pencipta segala sesuatu. Selain pencipta Allah juga mengatur ciptaanya (mudabir). Aqidah islam yang melahirkan aturan kehidupan inilah yang kita sebut sebagai ideologi islam. Maka Perjuangan Politik ideologis Islam merupakan suatu alternatif untuk menuju perubahan fundamental dan revolusioner dikala kondisi kerusakan sistemik saat ini tidak kunjung dapat diselesaikan.

Kawan-kawan, saatnya kita mendeklarasikan konsistensi kita terhadap identitas Islam. Kita nyatakan penolakan terhadap ketergantungan pada Barat. Dan kita berlindung dari penindasan tentara pada mereka. Sedang penguasa di sebuah negara sekuler panik untuk menghadapi kebangkitan kaum muda yang menginginkan kembalinya Islam, sepertinya telah terjadi suasa ketakutan dan kepanikan parah yang menyelimuti institusi negara. Sementara tren Islam hanya ada pada gerakan (mobilitas) orang-orang muda.

Kawan-kawan, hari-hari ini kalian mulai akrab dengan yel-yel kaum muda “demokrasi hancurkan, khilafah dirikan!” Yel-yel tersebut menegaskan tentang tumbuhnya kesadaran atas ketidakadilan yang menimpa mereka, serta meningkatnya kesadaran akan kemampuan mereka untuk melakukan pembebasan dan perubahan. Mereka melihat kebohongan demokrasi Barat yang terus jatuh di depan mereka, kepalsuan negara sekuler demokrasi dan ilusi proyeknya yang tengah layu di bawah mereka, serta tipuan kekuatan tali Amerika yang telah aus di tangan orang-orang sekitar mereka. Semua ini menunjukkan pada fakta yang tidak dapat dihindari, yaitu bahwa tidak ada yang bisa menyelamatkan rakyat Indonesia, kecuali dengan mengganti rezim dengan semua simbol-simbol Baratnya, dan kemudian mendirikan negara Khilafah yang mengikuti metode kenabian di atas puing-puing reruntuhannya. Sebab hanya dengan itu, perubahan akan sampai pada tujuan yang diimpikannya, serta terwujudnya perubahan nyata, yang akan mengembalikan kebaikan kepada umat dan seluruh alam semesta. [VM]
Laporkan iklan tak layak ⤴

BACA JUGA :

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Kawan-Kawan, Segera Merapat!"