Kapitalisme Mengundang Bahaya Bagi Kaum Hawa…

Laporkan iklan tak layak ⤴
Laporkan iklan tak layak ⤴

Oleh : Binti Istiqomah 
(Pembina Sanggar Remaja ‘Sandal Jepit’)

Gaes … tidakkah kita lelah dengan semua kerusakan yang terjadi hari ini? Bencana alam, kemiskinan, kerusuhan, pencurian, pembunuhan, seolah menjadi menu yang harus kita santap sehari-hari. Belum lagi kasus pelecehan seksual yang terus menjejali, bapak perkosa anak, anak perkosa ibu, ibu buang bayi, remaja aborsi, sungguh ironis sekali. 

Sumpah, siapa sudi sih hidup kayak begini? Andai semua orang tahu kalo masyarakatnya sedang sakit, kayaknya bakalan cepet berusaha untuk menyembuhkannya. Seperti halnya, kalo yang sakit tubuh kita sendiri. Biasanya, kita langsung trengginas berobat ke dokter. Sayangnya, sebagian besar masyarakat nggak ngeh dengan penyakit yang mendera kehidupan ini. Atau karena mereka menjadi bagian dari penyakit itu? Wah, sangat boleh jadi, dan itu artinya nggak bakalan merasakan kejanggalan tersebut, dong? Tepat sekali.

Gini gaes, kalo bicara dalam spektrum yang lebih luas (cieee bahasanya sok ilmiah, hehehe). Eh, kamu emang nggak ngerti istilah spektrum? Pernah belajar fisika? Ya, menurut kamus, spektrum itu rentetan warna kontinu yg diperoleh apabila cahaya diuraikan ke dalam komponennya. Waduh, kamu nggak inget juga? Hehehe.. emang sih kalo belajar fisika, rata-rata di antara kita tuh materi memantul sempurna alias nggak ada yang nyangkut di otak. Mewek, menyedihkan.

Namun, menurut tesaurus, spektrum itu bagian dari kiasan dengan pengertian: cakupan, jangkauan, lingkup atau skala. Nah, kalo ada kata-kata “dalam spektrum yang lebih luas”, itu artinya dalam cakupan atau jangkauan yang lebih luas. Ngerti ya? Ok. Ini sekadar tambahan wawasan istilah aja ya. Itu semua biar kamu ngeh juga (tentu bagi kamu yang sebelumnya nggak ngeh). Kembali ke laptop! (o iya bukan empat mata sudah tamat ding)

Semua gara-gara…

Semua itu terjadi tidak lain karena Barat ingin sekali menghancurkan kaum muslim salah satunya dengan menjadikan wanita sebagai target perusakan melalui produk liberalisasi. Sekarang, konsep sekularisme ini berkembang, apalagi setelah diadopsinya HAM alias Hak Asasi Manusia. Nah, salah satu konsep fundamental  yang lahir dari sekularisme adalah adanya keharusan negara atau kelompok atau individu untuk melindungi hak manusia dalam kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan kepemilikan, dan kebebasan individu.

Dari prinsip kebebasan kepemilikan muncul sistem ekonomi kapitalis. Demokrasi, atau konsep ‘kedaulatan rakyat’, adalah sistem politik yang juga lahir dari keyakinan sekular, tapi sebagai sistem politik demokrasi kurang menonjol dibandingkan sistem ekonomi kapitalis. Meskipun secara teoretis demokrasi memberikan kekuasaan legislasi kepada rakyat, tapi pada kenyataannya mereka yang memiliki kekayaan ekonomi adalah pihak yang secara riil memiliki kekuasaan.

Bro, sistem ekonomi kapitalis boleh dikata bisa mengendalikan dan mengambil peran dalam pemerintah, dan pembuatan kebijakan di Barat hampir sepenuhnya didorong oleh faktor-faktor ekonomi. Dari pemikiran ekonomi kapitalis lahir konsep benefit dan interest, dan keharusan untuk memaksimalkan benefit dan interest individu dan masyarakat. Konsep ini menjadi driving force sistem politik dan kebijakan luar negeri negara-negara Barat. Terus nih, para kapitalis, yaitu mereka yang menguasai kapital dan kekayaan, adalah penguasa yang sesungguhnya.

 Kenapa wanita? Karena dengan merusak wanita berarti mereka telah menghancurkan sendi-sendi kaum muslimin. Seperti kita tahu saat ini wanita mendominasi secara jumlah dan sifat, dengan merusak wanita mereka berhasil memporak-porandakan sebuah keluarga, sebuah masyarakat juga institusi negara. Sistem kapitalisme yang diterapkan sejatinya telah menghancurkan kehidupan manusia, termasuk kaum hawa. Sistem kapitalisme menjerumuskan mereka dalam kondisi serba salah. Di satu sisi mereka memikul amanah mulia sebagai ummu wa rabbatul bayt (ibu sekaligus pengurus rumah tangga), tapi di sisi lain mereka pun harus bertanggung jawab ‘menyelamatkan’ kondisi ekonomi keluarga dengan cara ikut bekerja mencari nafkah tambahan, atau bahkan harus ‘menggantikan’ posisi sang suami yang—karena imbas krisis ekonomi—terpaksa dirumahkan oleh perusahaan tempatnya semula bekerja. Akibat himpitan ekonomi tidak sedikit wanita yang rela meninggalkan suami dan anaknya untuk menjadi TKW, misalnya, meskipun nyawa taruhannya. 

Kepala Puslitfo BNP2TKI, Muhammad Hidayat, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis petang (15/01/2015) mengatakan, penempatan TKI selama empat tahun terakhir (2011 – 2014) terjadi naik-turun, yakni pada 2011 sebanyak 586.802 orang, 2012 turun dengan jumlah 494.609 orang, 2013 naik sebanyak 512.168 orang, dan 2014 turun lagi menjadi 429.872 orang.

Hidayat mengatakan, didalam empat tahun terakhir (2011 – 2014) secara bertahap terjadi kenaikan prosentase penempatan TKI formal dan prosentase menurun untuk TKI informal. Pada tahun 2011 prosentase TKI formal 45 persen dan tahun 2014 naik menjadi 58 persen. Sedangkan prosentase TKI informal tahun 2011 sebanyak 55 persen dan tahun 2014 turun menjadi 42 persen.

Dari sisi gender, jumlah penempatan TKI perempuan selama empat tahun terakhir (2011 – 2014) masih tergolong tinggi dibanding TKI laki-laki. Penempatan TKI tahun 2011 sebanyak 586.802 orang, terdiri dari 376.686 TKI perempuan (64 persen) dan 210.116 TKI laki-laki (36 persen). Tahun 2012 sebanyak 494.609 TKI, terdiri dari 279.784 TKI perempuan (57 persen) dan 214.825 TKI laki-laki (43 persen).Tahun 2013 sebanyak 512.168 TKI, terdiri dari 276.998 TKI perempuan (54 persen) dan 235.170 TKI laki-laki (46 persen).Tahun 2014 sebanyak 429.872 TKI, terdiri dari 243.629 TKI perempuan (57 persen) dan 186.243 TKI laki-laki (43 persen). (www.bnp2tki.go.id )

Lihatlah kawan, dengan alasan mudah diatur serta gaji yang lebih murah menjadikan pekerja wanita lebih banyak diminati daripada pekerja laki-laki. Selain itu kesetaraan gender juga menjadi salah satu alasan dari banyaknya pekerja wanita. Fenomena banyaknya para Tenaga Kerja Wanita (TKW) menunjukkan bahwa permasalahan kemiskinan ini demikian kronisnya. Pemerintah dirasa belum mampu mengatasi permasalahan tersebut. Kalaupun ada lapangan pekerjaan untuk laki-laki itupun hanya sedikit dan justru dipersulit dengan berbagai proses administrasi yang rumit. Akibatnya sangat fatal ketika peran seorang ibu tergadai oleh kepentingan dunia, tidak sedikit rumah tangga yang rusak, angka perceraian meningkat, generasi yang kelak harusnya menjadi pemimpin, tanpa adanya pengasuhan justru menjadi liar tak bermoral. Kasus di Ponorogo berikut bisa menjadi fakta untuk renungan kita kali ini. 

Dilansir dari surya.co.id 31/10/16, Data Pengadilan Agama Ponorogo menunjukkan, hingga Oktober 2016, terdapat 91 pengajuan permohonan (dispensasi) nikah di bawah umur. Angka ini jauh lebih sedikit bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, tahun 2013 ada 124 pemohon dispensasi nikah. Tahun 2014 ada sebanyak 124 pemohon dispensasi nikah, sedangkan tahun 2015 ada 92 pemohon dispensasi nikah. Bila dirata-rata dalam sebulan ada sembilan anak di Ponorogo menikah atau kawin di bawah umur . Sebagian besar terpaksa putus sekolah karena mengandung. Pejabat Humas Pengadilan Agama Ponorogo, Abdullah Shofwandi menuturkan rata-rata anak yang mengajukan dispensasi berusia 13-15 tahun. Sedangkan faktor yang menjadi penyebab pengajuan dispensasi karena hamil akibat pergaulan bebas atau free sex.

"Rata-rata sudah hamil duluan, 90% sudah hamil. Masih usia sekolah, akhirnya sekolahnya ditinggalkan," kata Abdullah, saat ditemui, di kantor Pengadilan Agama, Jalan Ir. H Juanda no 25 Ponorogo, Senin (31/10/2016) siang.

Lebih lanjut Abdullah mengatakan, para pemohon izin dispensasi sebagian besar merupakan anak-anak yang kurang mendapat pengawasan dari orangtuanya. Kurangnya perhatian dan pengawasan menjadi penyebab banyaknya anak di bawah umur hamil dan akhirnya mengajukan dispensasi.

"Sebagaian besar tinggal bersama neneknya. Bukan broken home, tetapi ibunya ke luar negeri (TKW), bapaknya kerja di ladang. Akhirnya kurang pengawasan. Bahkan di rumah itu juga melakukannya (hubungan badan)," katanya.

Bagaimana kawan … miris bukan? Dan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan. Fakta lainnya masih berasal dari Ponorogo, sekitar 40 persen dari total kasus perceraian di Ponorogo dialami para Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang bekerja di Taiwan dan Hongkong. Abdullah Shofwandi menuturkan, kasus perceraian di Ponorogo memang cukup tinggi. Hingga September 2016, kasus perceraian di Ponorogo mencapai 1.670 dengan rincian cerai gugat 1.137 kasus dan cerai talak 533 kasus. Sedangkan pada 2014 terdapat 2091 kasus perceraian, dengan rincian cerai gugat 1399 kasus dan cerai talak 692 kasus. Sementara pada 2015 terdapat 2015 kasus dengan rincian cerai gugat 1397 kasus dan cerai talak 618 kasus.

"Memang Ponorogo banyak (kasus perceraian), utamanya TKI dari Hongkong dan Taiwan jelasnya,"kata Abdullah kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).

Yuk Berubah

Peran wanita sebagai ummu wa rabbatul bayt tidak bisa dianggap remeh seperti halnya kaum feminisme yang mengagungkan kesetaraan gender. Peran wanita sebagai pembangun dan pencetak generasi penerus peradaban islam wajib dijaga oleh negara. Negara harus ikut andil dalam mengurusi permasalahan rakyatnya. Tidak dibenarkan jika pemerintah berlepas tangan membiarkan warganya dalam himpitan ekonomi sedangkan negara mampu memberikan bantuan dengan mengoptimalkan sumber daya alam yang ada. 

Belum lagi kalo ngomongin fakta bahwa sumber daya alam negeri kita ini masih belum dikelola dengan benar dan baik, malah ada banyak yang diserahkan pengelolaannya kepada pihak asing. Banyak kan perusahaan-perusahaan asing yang berkeliaran nyari duit di negeri ini? Silakan hitung sendiri. Kalo pun ada program kompensasi berupa kucuran dana untuk sosial dan pendidikan dari perusahan-perusahan asing tersebut, itu jauh lebih kecil dibanding keuntungan yang mereka dapat dari hasil mengeruk kekayaan negeri ini. Nah, sekarang kita renungkan dengan benar baik, kalo seandainya dikelola sendiri kan pasti manfaatnya lebih banyak. Buat siapa? Untuk seluruh rakyat negeri ini. Tapi nyatanya? Nggak begitu kan? Betul..betul..betul, iya kan Upin. #ups

Hadeeh… capek banget ya bacanya. Btw (baca: betewe… qiqiqi), Akankah kita terus bengong ngadepin segala permasalahan hidup yang udah bikin kita sengsara? Akankah kamu malah cuek ngeliat kondisi sekitar yang carut-marut nggak karuan? Hentikan diam kita sobat! Buruan bangun dan sadarkan diri. Jangan sampe terlambat sadar setelah segalanya berakhir. Ayo, sekarang juga nyadar dan berbenah! [VM]
Laporkan iklan tak layak ⤴

BACA JUGA :

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Kapitalisme Mengundang Bahaya Bagi Kaum Hawa…"