Surat Untuk Presiden

Laporkan iklan tak layak ⤴
Laporkan iklan tak layak ⤴

Oleh : Emma Lucya F, S.Si     
(Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia Kab. Bogor)

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji hanya bagi Allah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah saw, keluarga beliau dan para sahabat beliau serta siapa saja yang loyal kepada beliau.

Kepada Bapak Jokowi… 
Saya sampaikan uneg-uneg mengendap bertahun-tahun, sebagai ekspresi kepedihan, keresahan dan kecintaan. Membaca surat ini, semoga Anda terpanggil. 

Bapak Jokowi,
Sesungguhnya Amerika adalah negara imperialis yang memiliki kerakusan di negeri-negeri kaum muslim. Amerika adalah musuh hakiki bagi kaum muslim. Amerika ingin mengontrol negeri kaum muslim untuk merampok kekayaan mereka dan menghalangi kembalinya Islam ke pentas kehidupan. Lalu ditambah lagi imperialism Cina yang makin melilit erat di negeri ini. Maka janganlah Anda diperdaya dan menjadi alat mereka. 

Bapak Jokowi, sistem yang Anda terapkan kepada kami adalah kapitalisme. Anda jangan memimpin rejim Neolib yang menyiksa rakyat. Sifat kapitalisme yang tidak pernah cukup, dan semuanya serba kurang, tidak ada pertumbuhan yang terlalu tinggi, tidak ada spekulasi yang sangat spekulatif, tidak ada gaji yang terlalu tinggi, tidak ada mobil yang terlalu banyak, tidak ada produksi minyak yang terlalu tinggi, semuanya serba kurang, dan harus digenjot semaksimal mungkin. Apa yang Kapitalisme telah ciptakan tidak lain adalah spekulasi,kerakusan, kesombongan dan berfoya-foya. Itulah sebabnya setiap gelembung selalu berakhir dengan letusan, dan akan terus terjadi secara berulang-ulang, seperti yang saat ini kembali terjadi.

Merasakan tumbuh pesatnya rakyat miskin desa dan kota, sekarang Bapak melihat upaya pelumpuhan negara di negeri kita? Peran negara dikurangi secara sistematis dengan adanya privatisasi sektor publik, seperti migas, listrik, jalan tol dan lainnya. Subsidi komoditas strategis seperti migas, listrik, pupuk dan lainnya dicabut. Hak-hak istimewa BUMN dihilangkan melalui berbagai ketentuan dan  perundang-undangan yang menyetarakan BUMN dengan usaha swasta. Selangkah lagi! Ya, Anda telah menerapkan ‘corporate state’ pada kami, rakyat Indonesia. Saat di mana negara kita dikendalikan oleh persekongkolan jahat antara politikus dan pengusaha. Saat di mana keputusan-keputusan politik tidak dibuat untuk kepentingan rakyat, tapi untuk kepentingan korporat baik domestik maupun asing. Dan Anda telah mengetahuinya.

Di sisi lain, gelombang demokratisasi khususnya di bidang politik –dengan ditetapkannya model pemilihan langsung untuk kepala daerah (pilkada) dan pemilihan anggota legislatif berdasar suara terbanyak- telah menjadi celah besar terjadinya politik dagang sapi. Kekuatan asing semakin menancapkan pengaruhnya di Indonesia. Dengan kekuatan dana besarnya, asing masuk dalam kontestasi politik di negeri kita tercinta. Asing dengan leluasa ikut campur menentukan pemilihan pejabat publik dan memberikan arah kebijakan ke depan. Sementara bagi politikus pragmatis, tak jadi soal menggadaikan kewenangan politik, yang penting mereka terpilih. Hasilnya, kita bersama bisa melihat banyak kebijakan dan peraturan  perundangan yang sangat liberal dan kental dipengaruhi kepentingan asing. Saya yakin, Bapak Jokowi bisa melihat hal ini secara kasat mata. Ada lebih dari 76 UU yang draft-nya diberikan dari pihak asing, seperti UU Migas, UU PM, UU Kelistrikan, UU SDA, UU Perbankan dan sejenisnya jelas-jelas telah meliberalkan sektor-sektor vital di Indonesia. Bukankah ini bentuk neoimperialisme?

Sejumlah paket kebijakan yang Anda rencanakan untuk menahan laju gelombang krisis finansial global agar tidak berperanguh buruk terhadap perekonomian Indonesia, seperti di-suspend-nya perdagangan di lantai bursa, program buy-back saham-saham BUMN, perbaikan regulasi di BEI, percepatan belanja negara dan sejumlah langkah lain, dipercaya tidak akan mencukupi, terbukti rupiah terus mendapatkan tekanan hingga mencapai level Rp 12.000 per dollar AS. Kalaulah Indonesia ‘terhindar’ dari dampak lebih buruk, itu sifatnya sementara karena sistem ekonomi dan keuangan Indonesia tidaklah berbeda dengan sistem ekonomi dan keuangan global yang saat ini tengah goncang, yakni kapitalisme. Dengan kata lain, ini hanya menunda kejatuhan. Bahkan, sangat mungkin lebih parah di masa mendatang.

Neoliberalisme dan neoimperialisme telah berdampak sangat buruk terhadap kehidupan kami. Tingginya kesenjangan ekonomi, kerusakan moral, korupsi yang makin menjadi-jadi, dan kriminalitas yang kian merajalela masih setia mengiringi kehidupan sebagian besar dari kami, rakyatmu. Banyak orang yang masih susah untuk sekadar mencari makan mengganjal perut setiap harinya. Kami rindu sosok Khalifah Umar bin Khattab ra. yang rela memikul gandum sendiri dan memberikannya kepada seorang ibu miskin yang memasak batu untuk anak-anaknya yang kelaparan hingga malam hari tiba. Kami rindu sosok pemimpin yang tidak rela satu orang pun dari rakyatnya yang terperosok di jalan karena jalan yang berlubang. 

Kami sebagai orang tua begitu resah meninggalkan anak-anak dan remaja kami dalam pergaulannya. Kasus-kasus baru yang bermunculan seperti penyimpangan seksual LGBT, pelecehan seksual, penculikan, perkosaan bahkan pembunuhan ibu kandung kepada anaknya telah membuat hati kami semakin ngilu. Bagaimana bisa, benteng terakhir keimanan yang harus kami jaga -yaitu keluarga- turut diporakporandakan sedemikian rupa dan diserang dari segala penjuru. Bagaimana peran Negara dengan ini semua? Jujur, kami butuh benteng terbaik yaitu Negara yang betul-betul menjaga akidah, sehingga tidak ada lagi penyesatan -bahkan penistaan- dalam beragama. Tak muncul lagi pemurtadan agama dengan kedok apa pun juga.

Bapak Jokowi, selama ini demokrasi diajarkan sebagai sistem politik terbaik, yang katanya mewadahi aspirasi rakyat dengan slogan "dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat." Tapi kenapa Freeport terus-menerus diperpanjang kontraknya? Padahal kami ingin emas di Papua dikelola oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kepentingan kami, rakyatmu. Dimana kedaulatan rakyat? Yang ada adalah kedaulatan para pemilik modal. Dan Anda adalah pemimpin, maka bertaubatlah, takutlah akan siksa Allah Swt bagi para penguasa yang menelantarkan rakyatnya.

Sesungguhnya dalam surat ini ada perenungan, ada harapan setelah penderitaan. Ada kabar gembira jalan keluar setelah situasi menyedihkan. Ada kemudahan setelah kesusahan. Ada ketenteraman yang dekat setelah derita panjang dan panjang, serta turunnya shalawat dan rahmat Allah setelah inna lillâh wa innâ ilayhi râji’ûn… kemudian kebaikan dan pertolongan… kebaikan dan pertolongan… kebaikan dan pertolongan.

Kami menyeru Anda untuk mengakhiri efek Sykes-Picot yang memecah belah persatuan umat dan memecah umat menjadi puluhan entitas kecil yang dipimpin oleh para penguasa khianat yang memerangi Allah dan Rasul-Nya saw. Mereka menelantarkan syariah Allah dan memerangi para pengemban dakwah yang menyerukan penerapan syariah Allah.

Bapak Jokowi, ketahuilah, satu-satunya solusi atas persoalan kemiskinan dan penjajahan ekonomi melalui pasar bebas, dan seluruh problem yang menggunung bagi Indonesia adalah dengan adanya kemauan politik negara ini untuk mengganti sistem kapitalis, melepaskan diri  dari berbagai komitmen perdagangan bebas dan mengadopsi sistem Islam yang diterapkan pada seluruh aspek kehidupan dengan tegaknya Khilafah Islamiyah. Sistem Islam dan penerapan Khilafah Islamiyah sepanjang 13 abad tidak hanya terbukti mewujudkan kesejahteraan bagi setiap individu rakyat, namun juga mampu menghasilkan negara yang mandiri dan memimpin peradaban global. Maka ambillah.

Surat di bulan muharam ini seruan hijrah. Esensi hijrah adalah perubahan; dari kejahilian menuju cahaya Islam; dari kekufuran dan kemusyrikan menuju tauhid dan keimanan; dari darul kufur ke Darul Islam; dari tatanan kehidupan yang rusak dan bobrok ke tatanan kehidupan yang baik dan diliputi keberkahan.

Maka jadikanlah sisa umur Anda dengan melaksanakan perintah Allah SWT,8 mengikuti nasehat para pejuang mukhlis untuk memuliakan agama ini dan meneguhkan kedudukan agar dimuliakan Allah. Mengikuti nasehat orang-orang yang benar-benar meraih kemenangan, taat, senantiasa memuji dan bertaubat.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Seraya terus memohon kepada Allah agar memberikan pertolongan dengan tegaknya al-Khilafah dan kembalinya kemuliaan Islam dan kaum muslimin. [VM]
Laporkan iklan tak layak ⤴

BACA JUGA :

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Surat Untuk Presiden"