Pemuda Melawan Neokolonialis Kapitalis

Laporkan iklan tak layak ⤴
Laporkan iklan tak layak ⤴

Oleh : Lilis Holisah, S.Pd.I 
(DPD I Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia Provinsi Banten)

Indonesia merupakan negara dengan penduduk 252 juta jiwa dan mayoritas penduduknya adalah muslim. Namun penerapan sistemnya adalah sistem kapitalisme sekulerisme. Islam tidak dijadikan pijakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Melihat potensi kekayaan alam yang melimpah di Indonesia, sesungguhnya Indonesia bisa membiayai semua kebutuhannya dari kekayaan alam yang dimiliki tanpa perlu bantuan negara lain. Hanya saja, pengelolaan terhadap kekayaan alam bangsa ini diserahkan kepada asing dan swasta. Sehingga seringnya Indonesia selalu devisit dalam anggaran. Untuk memenuhi kekurangan dana, Indonesia berhutang kepada IMF, Bank Dunia ataupun Asia Development Bank (ADB). Alhasil hutang Indonesia membangkak dari tahun ke tahun. Bahkan untuk membayar bunga hutang saja, Indonesia harus meminjam/berhutang. 

Kekayaan alam yang melimpah sebenarnya bisa dikelola oleh negara. Namun penguasa negeri ini lebih menyerahkannya kepada asing. Bendera-bendera negara luar banyak bertengger di kilang minyak - kilang minyak yang ada. Sementara bendera Pertamina sendiri hanya 16% mengelola migas Indonesia, sisanya dikelola asing seperti British petroleum, Total dari Perancis, Petro China, Petronas dari Malaysia, Shell dari Belanda, dan lainnya.

Negeri ini juga memiliki tambang emas terbesar dengan kualitas terbaik di dunia dan emas yang berada di ujung timur Indonesia – Papua-, bahkan di bawah lapisan emas dan tembaga ditemukan kandungan mineral Uranium yang harganya 100 kali dari emas. Namun emas Papua dirampok oleh Amerika di bawah bendera PT Freeport.

Negara ini punya cadangan gas alam terbesar di dunia dengan potensi gas mencapai 222 triliun kaki kubik, tepatnya di Blok East Natuna Provinsi Kepulauan Riau. Namun lagi-lagi, gas alam tersebut dirampas oleh perusahaan asing Exxon Mobil, perusahaan asal Amerika Serikat. Selain Exxon Mobile,  juga oleh PT. Total E&P Indonesie dari Perancis dan PTT Thailand.

Blok East Natuna terletak di perairan Laut Natuna dan sudah berada di kawasan Zona Ekonomi Eksklusif, yaitu jalur laut sepanjang 200 mil ke laut terbuka dari batas wilayah kemaritiman Indonesia.

Selain itu, gas di blok Mahakam Kalimantan Timur pun saat ini masih dikuasai oleh PT Total E&P Indonesie Sejak tahun 1967. Hampir 50 tahun lamanya PT Total mengelola blok migas ini dan masih berat melepas blok yang kontraknya habis 31 Desember 2017 nanti. 

Pemuda yang memiliki kecintaan terhadap negeri ini, tentu tidak akan membiarkan perampokan kekayaan alam Indonesia terus menerus terjadi. Pemuda yang mencintai negeri ini akan sekuat tenaga berjuang agar lepas dari segala macam bentuk penjajahan. 

Pemuda harus menyadari bahwa tengah berlangsung penjajahan di negeri ini. Memang benar, Indonesia sudah lepas dari penjajahan fisik sejak tahun 1945, namun penjajahan sekarang ini berubah wajah, dari penjajahan fisik kepada penjajahan non fisik –penjajahan ekonomi, politik, sosial dan budaya-.  Jika kolonialisme di masa lalu hanya merampas tanah-tanah milik pribumi, kini wajah neokolonialisme juga merampas harga diri dan kehormatan bangsa ini. Negeri ini didikte oleh penjajah dalam rangka menancapkan hegemoninya. 

Amerika mendikte kebijakan dalam negeri ini. Undang-Undang yang lahir bukan atas pemikiran dasar bahwa negeri ini membutuhkan payung hukum (UU) tersebut. Namun lebih karena untuk menyelamatkan kepentingan neokolonialis kapitalis.

Bahkan diakui oleh Eva Kusuma Sundari, pada saat masih menjadi anggota DPR RI dari PDIP, bahwa ada campur tangan asing terlibat dalam penyusunan puluhan undang-undang di Indonesia. Ada 76 undang-undang yang draft-nya dilakukan pihak asing karena UU tersebut sejatinya adalah pesanan asing.  UU tentang Migas, Kelistrikan, Perbankan dan Keuangan, Pertanian, serta sumber Daya Air adalah contoh Undang-Undang dari sekian banyak UU yang merupakan pesanan asing.

Apa yang bisa dilakukan pemuda sebagai wujud kecintaannya kepada negeri ini? Untuk menghalau neokolonialisme kapitalis, pemuda harus sadar bahwa neokolonialis kapitalis adalah musuh bersama dan merupakan pangkal segala kerusakan di negeri ini. 

Setelah menyadari bahwa ada penjajahan sistemik, pemuda harus bergerak melakukan perubahan sistem. Pemuda harus bergerak untuk merubah sistem yang sudah nyata-nyata bobrok, menggantinya dengan sistem yang benar, bersih dan menyejahterakan. Yaitu sistem Islam, karena pemuda adalah pelopor perubahan hakiki. 

Pemuda harus memahami Islam sebagai Dien yang sempurna dan membangun kebanggaan terhadap Islam dan sejarah peradaban Islam. Pemuda harus terlibat aktif dalam perjuangan menegakkan Islam dalam sendi-sendi kehidupan dan menyiapkan diri sebagai pengisi masa depan kehidupan Islam.

Pemuda yang mencintai Indonesia, akan melawan neokolonialis kapitalis yang bercokol selama puluhan tahun di negeri ini. Maka, pemuda Indonesia, mari bergerak untuk lepas dari penjajahan dan berubah menuju Indonesia lebih baik dengan sistem Islam. Karena hanya dengan Sistem Islam lah, kehidupan sejahtera akan terwujud. Keharmonisan dan keselarasan menjadi sebuah keniscayaan. Semua itu jika sistem Islam ditegakkan dalam bingkai negara Khilafah Islamiyah. [VM]
Laporkan iklan tak layak ⤴

BACA JUGA :

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Pemuda Melawan Neokolonialis Kapitalis"