Mobilisasi Militer AS di Asia : Kami Mengetahui Rencana Kalian!

Laporkan iklan tak layak ⤴
Laporkan iklan tak layak ⤴

Oleh : Umar Syarifudin Syabab Hizbut Tahrir Indonesia 
(Direktur Pusat Kajian Data dan Analisis)

Ambisi pemerintah Amerika Serikat untuk mengamankan kepentingannya di kawasan Asia makin terkuak. Dalam sebuah unggahn di akun Facebook pribadinya, Carter menyebut Asia sebagai wilayah paling konsekuensial untuk masa depan Amerika. Ia mengatakan, kehadiran militer AS di wilayah itu memiliki kepentingan fundamental yang strategis untuk negaranya.

Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Ash Carter, mengatakan AS akan memperluas mobilisasi militernya di Asia. Hal itu dilakukan dalam menghadapi ekspansi teritorial yang dilakukan Cina dan ancaman regional lainnya. "Perluasan militer ke kawasan Asia Pasifik menegaskan bahwa AS tetap menjadi negara dengan militer terkuat dan mitra pilihan dalam menjaga keamanan," ujar Carter, dalam pidatonya di hadapan anggota Angkatan Laut AS, di atas kapal induk USS Carl Vinson, San Diego, Kamis (29/9). 

Amerika paham bahwa China bukan negara besar secara global dan China tidak berusaha mendongkel Amerika dari posisinya sebagai negara adidaya di dunia.  Meski demikian, akan tetapi China merupakan negara besar secara regional, yaitu di kawasan Asia/Pasifik yang dianggap oleh China sebagai kawasannya dan menjadi kawasan yang penting bagi China secara ekonomi dan strategis.  China berusaha menjadi pemilik kedaulatan di laut China Timur. 

Amerika memiliki eksistensi secara militer dan tetap di pangkalan militer di Jepang dan Korea Selatan yang berada di pantai laut China Timur.  Demikian pula Amerika juga memiliki hal serupa di Philipina yang berada di pantai laut China Selatan.  Amerika di kawasan tersebut memiliki sekitar setengah juta tentara.  Amerika memiliki eksistensi militer tetap di kawasan ini sejak tahun 50-an abad lalu.

Jika China mengontrol kawasan ini atau menancapkan pengaruhnya atau menjadikan kawasan ini berada di bawah kontrolnya maka China bisa mempengaruhi kawasan samudera Hindia dan mengancam pengaruh Amerika di kawasan tersebut secara serius.  Ini merupakan masalah vital bagi Amerika.  Amerika tidak akan mentolerir hal itu terjadi selamanya berapapun biaya yang harus dibayarkan.

AS memastikan politik luar negerinya pada capaian hegemoni total di kawasan Asia, serta membonsai pengaruh RRC di Asia Tenggara khususnya dalam persoalan Laut Cina Selatan. Wilayah ini amat strategis bagi AS maupun RRC, baik sebagai jalur perdagangan maupun sumberdaya alamnya yang berlimpah. Oleh karena itu AS terus menjalin hubungan dengan sekutu-sekutunya, termasuk Indonesia, untuk mengeliminir pengaruh Cina.

Menguasai Jalur Laut

Walaupun melalui berbagai pihaknya AS menyatakan bahwa penggelaran kekuatan militernya di perairan Asia-Pasifik ini untuk pengamanan jalur perairan, menyusul memanasnya kawasan ini, bagaimanapun hal ini telah memancing kecurigaan berbagai pihak terkait posisi Indonesia di kawasan ini. Situs Starbrainindonesia.com menulis, keberadaan dan kehadirannya (USS Freedom) di Singapura berkaitan pula dengan pangkalan AS di Darwin, Australia.

AS melalui dua negara bonekanya (Singapura dan Australia) hendak membangun interkonektivitas sistem militer untuk mengimbangi kekuatan Cina di Asia Fasifik. Sekaligus AS ingin memperoleh keuntungan ganda dengan memanfaatkan Singapura dan Australia untuk mengontrol hegemoni kekuatan Indonesia di kawasan ASEAN.

Strategi Amerika mengontrol ASEAN dalam menentukan arah kebijakan dan prioritas pertahanan nampaknya dilakukan secara bertahap. Dan tujuan terakhirnya adalah memiliki kendali penuh terhadap tentara-tentara Negara ASEAN, terutama Malaysia, Filipina dan Thailand.  Dan sasaran utama Amerika dalam pengendalian tentara ASEAN adalah dengan mengontrol dan mempengaruhi Angkatan Laut.

Apalagi ketika lokasi geografis yang dimaksud adalah Selat Malaka. Selat Malaka selama ini tidak saja dikenal sebagai Sea Lines of Trade(SLOT) dan Sea Lines of Communication(SLOC), juga dipandang sebagai jalur strategis proyeksi Armada Laut negara-negara maritime besar dalam rangka forward presence dan global engagement ke seluruh dunia. Kepadatan lalu-lintas alur pelayaran ini ditandai tingginya intensitas perdagangan global Selat Malaka, dan apabila terjadi interdiksi atas perairan ini, maka dampak negatif luar biasa yang akan dirasakan secara global adalah instabilitas perekonomian dunia. 

Jalur transportasi laut dinilai lebih penting dari jalur darat sebab bisa mengangkut jumlah yang jauh lebih besar dengan menggunakan kapal dan biayanya lebih kecil.  Juga lebih mudah kapal berlayar jauh dari pos-pos perbatasan negara-negara, kecuali jika melalui selat atau alur laut yang berada di bawah kontrol negara yang mengelolanya.  Hingga sekarang 90% komoditi diangkut melalui laut menggunakan kapal meski ada perkembangan besar di transportasi darat dan pembuatan kendaraan-kendaraan besar.  Demikian juga perkembangan transportasi udara.  Akan tetapi biayaya besar dan tidak mungkin mengangkut jumlah seperti yang bisa diangkut oleh kapal laut.  Juga bahwa 65% minyak diangkut melalui laut menggunakan kapal tanker meski jalur-jalur pipa telah berkembang.  

Oleh karena itu, kawasan Pasifik sangat penting sebab membentang ke samudera Hindia yang menjadi jalur transportasi 70% pasokan minyak dan gas dari kawasan teluk ke negeri-negeri itu. Kebutuhan kawasan ini khususnya China dan India terhadap minyak akan terus meningkat menjadi dua kali lipat pada dekade mendatang.  Di sana ada alur selat Malaka yang dinilai sebagai alur penting yang menghubungkan samudera Hindia dan Pasifik, sepanjang 800 km terletak diantara semenanjung Malaysia dan pulau Sumatera Indonesia.  Sekitar 40% komoditi perdagangan gobal dan setengah perdagangan minyak dan gas global melintasi selat Malaka.  Selat Malaka sangat penting bagi China dan India untuk transportasi komoditinya ke timur dan barat. 

Jalur laut bagi AS sangat urgen untuk segera dijauhkan dari eksistensi Cina. Bisa dimengerti memang mengingat selama ini seluruh kegiatan eskpor dan impor internasional mengandalkan laut sebagai jalan raya/jalur perdagangan, sumber makanan, dan sumber mineral. Maka dari itu, bagi Amerika maupun dan Cina, Selat Malaka sebagai SLOT dan SLOC dewasa ini sudah dianggap sebagai ajang kepentingan setiap negara di dunia yang harus dikuasai mereka.

Betapa tidak. Selat yang melewati tiga negara itu (Indonesia-Malaysia-Singapura), sudah menjadi rahasia umum bahwa tanker-tanker Cina selalu melintasi Selat Malaka dalam perjalanan mereka membawa minyak dari Timur Tengah. Karena itu dalam perspektif kepentingan Cina, selat ini harus aman dari segala gangguan yang bisa menghalanginya untuk mensuplai energi dari Cina. 

Awas Indonesia!

Keberadaan kapal perang AS di Singapura dan pangkalan militer AS di Darwin, membuat Indonesia diapit oleh kekuatan AS di timur dan barat. Sama seperti saat Irak akan digempur melalui persiapan Operation of Enduring Freedom, dimana saat ini Indonesia sama juga “sudah terkurung” seperti Irak, oleh  pangkalan-pangkalan AS yang berada di Christmas Island, Cocos Island, Darwin, Guam, Philippina, Malaysia, Singapore, Vietnam hingga kepulauan Andaman dan Nicobar beserta sejumlah tempat lainnya.” Connie Rahakundini Bakrie, pengamat Pertahanan dan Militer dari Universitas Indonesia. 

Rencana Amerika Serikat (AS) menggeser 60 persen kekuatan militernya ke kawasan Asia Pasifik hingga tahun 2020 mendatang, terutama Darwin dan Subik di Filipina. Hal ini jelas membawa implikasi besar bagi kawasan ini, termasuk Indonesia. Aneh, bila seorang kepala negara merasa tidak terancam dan terusik dengan aktifitas politik dan militer negara asing di dekat rumahnya sendiri. 

Tahun 2020 itu tidak lama. Dalam 4 tahun ke depan, Indonesia sudah terkurung oleh pangkalan-pangkalan militer AS. Apakah kita sudah sepakat sebagai bangsa untuk menyadari dan memahami persepsi ancaman yang sebenarnya sedang dihadapi?

Dengan kondisi ini, jelas sekali, tidak tersedia waktu banyak bagi elite Indonesia untuk segera mereposisi arah kebijakan luar negeri dan pertahanan Indonesia yang lebih tegas, strategis dalam menyikapi perubahan konstalasi politik di kawasan.

Salah satu celah yang bisa digunakan Amerika adalah melalui kerjasama pertahanan yang ditandatangani baru-baru ini dalam satu paket dengan perjanjian esktradisi. Melalui kesepakatan bertajuk Defense Coperation Agreement (DCA) dan Military Training Area(MTA), kedua negara menyepakati untuk menyediakan wilayahnya untuk latihan militer. Berarti, secara teknis Singapore diperbolehkan mengadakan latihan militer maupun menyimpan persenjataannya di wilayah RI.

Perjanjian pertahanan Amerika melalui DCA maupun MTA ini, sebenarnya rawan terhadap adanya infiltrasi dan penetrasi intelijen pihak Amerika maupun kepentingan negara-negara besar lainnya. Karena dengan adanya program pelatihan bersama, baik para pihak yang ikut dalam pelatihan militer maupun pihak ketiga yang diundang ikut serta, praktis akan memiliki akses informasi mengenai kondisi kemiliteran kita baik dari segi kekuatan personil, kemampuan peralatan militer dan juga lokasi geografis. Disamping fakta bahwa melalui kesepkatan DCA dan MTA ini Singapore telah menyediakan dirinya untuk menjadi  satelit Amerika dalam melayani kepentingan negara Paman Sam. 

Jika kita cermati, program-program pelatihan bersama atau kerjasama militer yang sejenis, memang bisa dimanfaatkan sebagai ajang operasi intelijen Amerika dalam memetakan kekuatan angkatan laut Indonesia baik kekuatan dan kapasitas personil maupun peralatan, serta gambaran mengenai lokasi geografis.

AS juga berkepentingan untuk menjaga kepentingan mereka di kawasan Papua. Keberadaan pertambangan Freeport sebagai perusahaan tambang besar di dunia adalah nilai strategis bagi AS. Hal ini tampak dari pendekatan yang dilakukan AS kepada dua pihak; kepada kelompok separatis-teroris OPM dan juga kepada aparat pemerintah daerah Papua.

Mencegah Kebangkitan Negara Islam 

Amerika memberikan nilai sangat penting untuk melindungi wilayahnya dari dua sisi, samudera Atlantik dan samudera Pasifik yang mengelilinginya.  Sekarang tidak ada ancaman yang berarti bagi Amerika di samudera Atlantik, atau di balik Atlantik sebelah barat yakni Amerika Selatan. 

Perkara yang paling dikuatirkan oleh Amerika sebagai sesuatu yang mungkin terjadi itu adalah munculnya kekuatan Islam di kawasan yaitu “daulah al-Khilafah”.  Dari Maroko Afrika Barat hingga penduduk muslim terbesar dunia, yaitu Indonesia, termasuk dari populasi Muslim di negeri-negeri Barat, suara yang merindukan Syariah Islam kian nyaring terdengar. Meski media-media sekuler nyaris tidak pernah meliputnya bahkan membungkamnya namun gaung suaranya kian nyaring membahana. Di tengah arus perubahan besar dan pergolakan politik yang tengah terjadi di berbagai belahan dunia Islam saat ini, Agenda-agenda politik dan penyadaran dalam skala besar maupun kecil yang konstan diselenggarakan Hizbut Tahrir di tiap negara telah medium untuk mengokohkan visi dan misi umat Islam . 

Sehingga meningkatnya ekskalasi pergerakan umat Islam dan menimbang keberhasilan kembalinya Islam di ranah politik, menjadi sentral kebijakan peningkatan Amerika atas eksistensi angkatan laut di kawasan Asia/Pasifik memungkinkan peningkatan jumlah latihan dan manuver yang dilakukan di kawasan itu pada tahun-tahun mendatang.  Demikian juga, Amerika berencana meningkatkan kunjungan angkatan laut Amerika ke kawasan yang lebih luas dari Pasifik hingga mencapai kawasan samudera Hindia. 

Amerika memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan perubahan yang akan datang pada tahun-tahun mendatang dan pada dekade ke depan berupa munculnya kekuatan islami besar di dunia islami, khususnya bahwa setengah penduduk kaum muslimin itu ada di kawasan Asia/Pasifik dan di utara samudera Hindia. Dan kawasan itu merupakan perluasan dari kawasan kaum muslimin di teluk, Timur Tengah dan Afrika. [VM]
Laporkan iklan tak layak ⤴

BACA JUGA :

Daftarkan Email Anda dan Dapatkan Update Terbaru Kami:

0 Response to "Mobilisasi Militer AS di Asia : Kami Mengetahui Rencana Kalian!"